Bulan Ramadan, Bangun Kedekatan Psikologis dengan Anak

Ibu Dan Anak | Kamis, 8 April 2021 14:04
Bulan Ramadan, Bangun Kedekatan Psikologis dengan Anak

Reporter : Razdkanya Ramadhanty

Manfaatkan momen selama satu bulan untuk lebih dekat dengan anak dan keluarga.

Dream - Menjalani ibadah saat Ramadan tidak melulu tentang menahan diri, tapi bisa juga bermanfaat mendekatkan emosi dan psikologis anak dan orangtua. Penasaran mengapa?

Ternyata, melakukan aktivitas bulan Ramadan dari mulai sahur hingga berbuka bisa berfungsi sebagai suntikan energi agar anak tetap kuat berpuasa hingga waktu berbuka tiba.

Kegiatan yang dilakukan tersebut, jelas bisa menjalin keakraban dengan buah hati. Tak hanya itu, banyak ilmu dan pelajaran yang anak dapatkan selama Ramadan, terutama terkait ibadah.

" Dengan puasa anak bisa diajak ngobrol, persiapan apa yang harus dilakukan. Aktivitas mempersiapkan makanan dan memasak sederhana bisa meningkatkan bonding emosi orang tua dengan anak," ujar Ayoe P. Soetomo, psikolog anak, remaja, dan keluarga dalam konferensi pers #MomenNutella Rayakan Kebersamaan Keluarga di Bulan Ramadan, Rabu 7 April 2021.

Contohnya saat mempersiapkan masakan di waktu sahur. Meski singkat, sahur menjadi waktu yang tepat untuk merangsang kecerdasan kognitif, motorik, sensorik, dan juga emosi anak. Ketika mempersiapkan bahan-bahan, libatkan anak sesusai kemampuannya.

 

 

2 dari 6 halaman

Libatkan Anak

Berikan tugas anak yang mudah, sekaligus memperkenalkan sang buah hati dengan berbagai bahan makanan yang belum pernah ia lihat, coba, dan rasakan sebelumnya. Ini akan menjadi aktivitas menyenangkan dan ditunggu-tunggu tiap harinya.

Untuk anak yang sudah masuk usia belajar menghitung, bisa memperkenalkan matematika dengan cara menghitung. Misal, orangtua bisa mengajak anak menghitung jumlah porsi yang harus dipersiapkan untuk seluruh anggota keluarga. Selain mempersiapkan bahan makanan, orangtua juga bisa mengajak anak berdiskusi dan mengutarakan pendapat tentang menu apa yang sebaiknya disantap.

" Komunikasi dengan anak-anak sangat penting, ini bisa membuat anak menjadi lebih percaya diri karena berani mengungkapkan keinginannya," ujar Ayoe.

Setelah membantu, jangan lupa memberikan apresiasi kepada anak setelah menyelesaikan tugasnya. Anak pun akan merasa bangga dan mampu melakukan suatu tugas .

" Ini fundamental dari perkembangan anak," jelasnya lagi.

Aktivitas sederhana seperti itu perlu dilakukan secara rutin agar lebih mengeratkan jalinan hubungan antara orang tua dan anak. " Bonding tidak bisa hanya sekali-kali saja dibangun, harus dilakukan secara konsisten. Sedikit tapi sering, sehingga membuat keakraban dengan orangtua," pesan Ayoe mengingatkan.

3 dari 6 halaman

8 Hal yang Pengaruhi Akhlak Anak Menurut Islam

Dream - Akhlak merupakan dasar penting bagi kehidupan seorang muslim dan muslimah. Dikutip dari alirsyad.com, Akhlak menurut Imam Ghazali, adalah sesuatu yang mengakar kuat dalam jiwa seseorang dan mendorongnya untuk melakukan suatu perbuatan tanpa harus dipikir terlebih dahulu.

Jika perbuatan yang dilakukan baik maka disebut akhlak mulia (akhlak mahmudah). Tetapi, jika perbuatan yang dilakukan jelek maka disebut akhlak tercela (akhlak madzmumah).

Akhlak seorang anak sangat ditentukan dari lingkungan kehidupannya sehari-hari. Dasar utamanya adalah pendidikan dari orangtua. Tak hanya itu, ada juga faktor lain yang juga sangat mempengaruhi pembentukan akhlak anak.

Dikutip dari BincangSyariah.com, Syeikh Musthafa al-Adawy dalam kitab Fiqh Tarbiyat al-Abna mengatakan bahwa terdapat 8 hal yang dapat mempengaruhi perkembangan akhlak seorang anak. Ayah dan bunda penting untuk selalu mengingatkan dan membimbing anak agar memiliki akhlak yang baik sesuai tuntunan Islam.

 

4 dari 6 halaman

Apa saja delapan hal yang berpengaruh besar pada akhlak anak?

Pertama, saudara-saudara kandung dan kerabat- kerabatnya di rumah. Kedua, teman-teman di lingkungan sosial tempatnya tinggal. Seperti di sekolah, perpustakaan dan tempat belajar ngaji.

Ketiga, para pengajar, guru, pendidik, penjaga, pelatih yang mengajari anak-anak. Keempat, segala hal yang dia lihat, dengar dan baca yang berada di lingkungan tempat tinggalnya.

Kelima, keadaan negara di mana sang anak tinggal. Seperti akhlak, kebiasaan, sopan-santun, pemandangan dan situasi masyarakatnya. Keenam, tempat-tempat yang sering dikunjungi anak-anak untuk menghabiskan sebagian besar waktunya, seperti masjid, mal, atau tempat lain.

Ketujuh, para tamu dan pengunjung yang datang ke rumah. Kedelapan, perjalanan, kunjungan dan tamasya yang anak-anak pernah lakukan.

Penjelasan selengkapnya baca di sini.

5 dari 6 halaman

Islam Gambarkan Buah Hati Merupakan Perhiasan Orangtua, Simak Penjelasannya

Dream - Nilai-nilai Islam harus senantiasa jadi panduan dan pedoman dalam tiap aspek kehidupan. Termasuk dalam berkeluarga dan mengasuh putra putri tercinta. Hadirnya buah hati dalam sebuah keluarga, merupakan amanah.

Tak hanya itu, anak juga bisa jadi penenang dan penyejuk hati serta perhiasan orangtuanya. Dalam al-Quran Allah menjelaskannya dalam QS. al-Kahfi[18] ayat 46:

 Alkahfi
© Bincang Muslimah

Artinya: Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. ( QS. al-Kahfi[18] ayat 46)

Dikutip dari Bincang Muslimah, menurut al-Maraghi dalam Tafsir al-Maraghi harta merupakan sebuah perhiasan meskipun tidak mempunyai anak, dan bukan sebaliknya. Beliau menjelaskan orang yang mempunyai anak sedang ia tidak mempunyai harta maka orang itu berada dalam kesengsaraan dan kemelaratan.

 

6 dari 6 halaman

Anak dan Perhiasan Memiliki Persamaan

Maka, diantara keduanya haruslah seimbang agar jauh dari kemelaratan. Pendapat al-Maraghi ini menunjukkan bahwasanya orangtua dilarang menelantarkan anak dan wajib memenuhi kebutuhan anak.

Sementara menurut Hamka dalam Tafsir al-Azhar ini merupakan ayat rayuan yang sangat indah. Allah SWT memberi peringatan bahwa harta dan anak itu memanglah perhiasan yang sangat indah. Namun sayang, perhiasan indah itu hanyalah bersifat sementara karena memiliki batasan waktunya.

Dalam tafsir Kemenag (Dapartemen Agama RI, al-Quran dan Tafsirnya: 2006), ayat ini mengabarkan kepada kita semua bahwasanya anak merupakan perhiasan yang harus dijadikan jalan bagi orangtua untuk melakukan amal saleh yang akan mengantarkan kepada ridho Allah SWT.

Jika orangtua memperlakukan anak dengan cara yang tidak baik dan tidak mengundang pahala serta ridho Allah SWT maka kehadiran anak akan berubah menjadi sebuah cobaan.

Allah telah menjelaskan yang menjadi kebanggaan manusia di dunia ini ialah harta benda dan anak-anak, karena manusia sangat memperhatikan keduanya. Banyak harta dan anak dapat memberikan kehidupan dan martabat yang terhormat kepada orang yang memilikinya. Sebaliknya, juga dapat menjadikan seseorang takabur dan merendahkan orang lain.

Penjelasan selengkapnya baca di sini.

 

Join Dream.co.id