Buah Hati Miliki Mental Kuat, Penting Ajarkan Hal Ini

Ibu Dan Anak | Kamis, 12 Agustus 2021 08:02

Reporter : Mutia Nugraheni

Tak ada salahnya dicoba diterapkan pada si kesayangan.

Dream - Mental kuat tak bisa dibentuk dalam waktu singkat. Seseorang yang bermental kuat bisa dilihat dengan sikap dan keputusannya saat menghadapi masalah besar.

Masalah bisa datang kapan saja. Untuk itu sebagai orangtua kita harus menyiapkan buah hati agar bermental kuat. Bagaimana caranya? Dikutip dari CNBC Make It, berikut rekomendasi psikolog untuk melatih anak punya mental yang kuat.

Memberdayakan Diri Sendiri
Bantu anak-anak untuk bersyukur dengan apa yang mereka miliki dan dapatkan. Sesekali anak akan membandingkan dirinya dengan teman atau orang lain, hal ini sangat wajar. Kuncinya adalah selalu bisa melihat sisi positif dan kelebihan pada diri sendiri

Anak yang mampu memberdayakan dirinya dengan baik adalah ketika ia mandiri dan sudah bisa membuat keputusan sendiri. Orangtua perlu memberi anak kepercayaan untuk membuat keputusan. Secara tidak langsung hal itu akan mempengaruhi mereka untuk bertanggung jawab atas cara mereka berpikir, merasa, dan berperilaku.

Berusaha Beradaptasi dengan Perubahan
Berada di lingkungan baru, bertemu orang baru, bukanlah hal mudah bagi anak. Ketika mereka berusaha beradaptasi maka anak akan belajar mengontrol emosi dan perasaannya.

Bagi anak-anak yang kuat secara mental, mereka akan memahami bahwa perubahan yang terjadi dapat membantu mereka untuk tumbuh menjadi orang yang lebih kuat. Awalnya memang tak terasa menyenangkan, tapi mereka akan terbiasa. Saat anak gugup dengan beragam perubahan besar, cobalah meminta mereka untuk mendeskripsikan emosi/perasaan seperti sedih, bahagia, kecewa, takut, antusias, dan sebagainya.

 

Buah Hati Miliki Mental Kuat, Penting Ajarkan Hal Ini
Ilustrasi/ Shutterstock
2 dari 6 halaman

Tahu Kapan Harus Berkata Tidak

Anak-anak cenderung kesulitan untuk mengatakan tidak karena merasa canggung atau aneh. Hal ini sering berjalan hingga mereka dewasa. Dengan dapat menemukan keberanian itu, maka hal ini akan memudahkan mereka memberikan jawaban untuk permasalahan di masa depan.

Sebagai orang tua, kita bisa membantu dengan mencontohkan mengatakan “ tidak” dengan cara yang sopan. Seperti saat ingin menolak seseorang, " maaf kami tak bisa datang karena berisiko masih pandemi dan membawa anak-anak yang belum vaksin" .

Selengkapnya baca Diadona.id.

3 dari 6 halaman

Kondisi Mental Anak Saat Pandemi yang Sering Tak Disadari Orangtua

Dream - Sudah hampir dua tahun pandemi membuat kita lebih banyak 'mengunci' diri di rumah, begitu juga anak-anak. Mereka tak bisa bebas bersekolah dan bermain bersama teman serta saudara di taman bermain.

Jika bermain bersama pun sederet protokol kesehatan harus dilakukan ketat. Pastinya hal ini berdampak pada kondisi psikis anak, di mana harus menghadapi faka ada virus berbahaya dan bermain dengan penuh rasa was-was.

Untuk itu, orangtua perlu memperhatikan kondii psikologis anak selama pandemi. Tanpa disadari, pandemi membuat anak-anak lebih berisiko mengalami masalah kesehatan mental.

" Anak-anak bergumul dengan banyak masalah kesehatan mental yang sama dengan yang dialami orang dewasa. Mulai dari depresi, kecemasan, kecemasan sosial, isolasi, hingga keinginan bunuh diri," kata dr. Marcie Beigel, EdD, BCBA-D, seorang pakar perilaku anak, dikutip dari Mom.com.

Hasil survei Mental Health America, anak-anak berusia 11 hingga 17 tahun yang mengikuti tes skrining, lebih mungkin menunjukkan tanda-tanda kecemasan dan depresi sedang hingga parah dibandingkan semua kelompok usia lainnya.

 

4 dari 6 halaman

Anak Kebingungan

Di semua kelompok umur, kelompok ini mengalami tingkat keinginan bunuh diri tertinggi. Dari Januari hingga September 2020, dari 77.470 anak (11 hingga 17 tahun) yang dilaporkan sering mengalami keinginan bunuh diri.

“ Mereka tidak tahu bagaimana meminta bantuan [atau memahami] apa yang dirasakan dan mereka merasa sendirian. Pandemi juga telah meningkatkan banyak masalah mental yang dialami anak-anak. Jika mereka merasa sedikit tidak sinkron sebelum pandemi, sekarang mereka merasa seperti orang buangan," kata Beigel.

Gejala kecemasan pada anak-anak kerap berbeda dibandingkan pada orang dewasa. Anak-anak kerap bingung mengungkapkan apa yang dirasakannya.

“ Ada perubahan dalam kepribadiannya, lalu anak tampaknya mengalami kemunduran dalam kemampuannya. Misalnya anak berhenti melakukan hal-hal yang biasa disukai. Bisa jadi anak menolak untuk sekolah online dan hanya ingin menonton video yang sama berulang-ulang untuk menenangkan diri," ujar Beigel.

Orangtua memang harus lebih peka dalam melihat perubahan sikap dan kebiasaan anak. Bila mereka menarik diri, sulit tidur atau sikapnya lebih agresif dan tak kunjung mereda selama lebih dari 3 pekan, penting untuk berkonsultasi dengan para profesional. Bisa dengan dokter anak atau psikolog anak.

 

5 dari 6 halaman

Anak yang Rajin Ternyata Rentan Mengalami Masalah Mental

Dream - Sikap rajin tak dimiliki semua anak. Bagi orangtua yang memiliki anak yang rajin tentunya akan sangat senang. Si rajin tak perlu lagi disuruh saat belajar atau mengerjakan sesuatu karena mereka cenderung berinisiatif untuk segera menyelesaikannya.

Dikutip dari KlikDokter.com, menjadi rajin dan tekun pada dasarnya baik. Banyak kesuksesan yang datang dari sifat yang satu itu. Jika perilaku rajin bukan datang dari keinginan anak sendiri, maka hal tersebut justru bisa menjadi bumerang.

Tekanan berlebihan yang setiap hari diterima dari orangtua dan sekitar akhirnya menumbuhkan ambisi yang tidak sehat dalam diri anak. Gracia Ivonika, M.Psi., Psikolog, mengungkapkan dampak buruk yang rentan dialami anak dengan kondisi tersebut. Apa saja?

1. Lelah Secara Fisik
Segala sesuatu yang dilakukan berlebihan akhirnya akan membuat stamina tubuh drop dan jatuh sakit. Belajar, mengerjakan tugas, les ini dan itu, ikut beragam komunitas, hingga membantu banyak pekerjaan rumah memang aktivitas positif. Kalau dilakukan tanpa jeda agar mendapat titel “ anak rajin”, itu justru merugikan kesehatannya.

2. Lelah Secara Mental (Burnout)
“ Karena terus berfokus pada pencapaian-pencapaian yang tinggi, mentalnya akan ikut lelah. Bila pada kenyataannya potensi anak di bawah target lalu memarahinya, ia juga akan down dan lelah psikisnya,” kata Gracia.

Ia menambahkan, “ Tertekan dan burnout mungkin dapat dialami oleh si anak karena ia berusaha memenuhi ekspektasi lingkungan.”

Semua aktivitas yang dilakukan saat terlanjur burnout akan memberikan hasil yang buruk. Hal itu semakin menambah kekecewaan dan seperti “ lingkaran setan” yang tak pernah selesai.

 

6 dari 6 halaman

Bisa Juga Mengalami Ini

3. Sering Dimanfaatkan Orang Lain
Kekurangan anak rajin yang satu ini juga sangat menyebalkan untuknya. Kebiasaan disuruh ini dan itu oleh orang dewasa di rumah akan membuat anak menjadi tidak peka dan asertif (tegas).

Alhasil, potensinya malah dimanfaatkan orang lain, tak terkecuali teman sebayanya. Ia sering disuruh mengerjakan tugas teman-temannya, memberikan jawaban ujian, mewakili untuk melakukan sesuatu hal yang tidak perlu, dan lainnya.

4. Bila Kurang Apresiasi, Langsung Merasa Tak Berharga
Usaha ekstra biasanya menuntut apresiasi lebih. Sayangnya, kadang hidup tidak sesuai harapan. Orangtua acap kali tidak memberikan perhatian dan apresiasi secara penuh atas usaha-usaha anak. Anak pun bisa merasa tidak berharga, menganggap yang dilakukannya sia-sia saja, dan rendah diri.

5. Timbul Masalah Mental
Pada taraf yang tidak lagi bisa ditoleransi anak, paksaan untuk rajin mengarahkannya ke masalah psikologis, seperti gangguan cemas dan depresi. Hal ini karena anak melakukannya bukan untuk kepuasan pribadi, melainkan orang lain.

" Sehingga, pure sense of completion dan joy-nya tidak benar-benar didapatkan anak," kata Gracia.

Penjelasan selengkapnya baca di sini.

Join Dream.co.id