Benarkah Urutan Kelahiran Pengaruhi Kepribadian Anak?

Ibu Dan Anak | Kamis, 8 April 2021 08:02

Reporter : Mutia Nugraheni

Cari tahu faktanya.

Dream - Kevin Leman, merupakan psikolog yang telah mempelajari urutan kelahiran sejak 1967. Ia menulis buku " The Birth Order Book: Why You Are the Way You Are (Revell)" .

Leman percaya rahasia perbedaan kepribadian saudara terletak pada urutan kelahiran. Apakah anak tertua, tengah, termuda, atau satu-satunya dan bagaimana orangtua memperlakukan anak mereka karena urutan kelahiran tersebut. Meri Wallace, seorang terapis anak dan keluarga selama lebih dari 20 tahun dan penulis buku " Birth Order Blues (Owl Books)" , setuju tentang teori urutan kelahiran ini.

" Beberapa di antaranya berkaitan dengan cara orang tua berhubungan dengan anak di posisinya, dan beberapa di antaranya benar-benar terjadi. Setiap posisi memiliki tantangan yang unik," kata Wallace, dikutip dari Parents.

Berikut yang perlu diketahui orangtua tentang ciri-ciri kepribadian urutan kelahiran untuk anak tertua, tengah, dan bungsu.

Kepribadian Anak Sulung
Anak sulung secara alami akan dibesarkan dengan campuran naluri dan coba-coba. Hal ini sering menyebabkan orangtua mengasuh sangat 'textbook', perhatian dan penuh aturan. Hal ini pada gilirannya, dapat menyebabkan anak menjadi perfeksionis, selalu berusaha untuk menyenangkan orang tuanya.

Anak pertama juga rajin dan ingin unggul dalam segala hal yang mereka lakukan. Sebagai yang pertama mereka cenderung bisa diandalkan, teliti, waspada, memegang kontrol dan berprestasi.

" Banyak orangtua menghabiskan lebih banyak waktu untuk membaca dan menjelaskan hal-hal kepada anak sulungnya. Tidak mudah ketika anak-anak lain muncul," kata Frank Farley, Ph.D., seorang psikolog di Temple University.

Anak sulung cenderung sangat takut gagal, jadi tidak ada yang mereka capai terasa cukup. Mereka juga takut membuat kesalahan. Anak-anak tertua cenderung berpegang teguh pada sikap lurus dan kaku.

Selain itu, karena anak sulung sering kali diberi banyak tanggung jawab di rumah. Entah itu membantu pekerjaan rumah atau mengawasi adik-adiknya. Beban tersebut dapat menyebabkan stres berlebih bagi seorang anak yang sudah merasakan tekanan untuk menjadi sempurna.

 

Benarkah Urutan Kelahiran Pengaruhi Kepribadian Anak?
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
2 dari 5 halaman

Kepribadian Anak Tengah

Anak tengah sering merasa tersisih dan merasa, 'saya bukan yang tertua, aya bukan yang termuda, siapa yang perhatikan?'. Hal ini kerap membuat anak tengah jadi yang paling mudah beradaptasi dengan situasi.

Begitu seorang adik lahir, mereka harus belajar bagaimana terus-menerus bernegosiasi dan berkompromi untuk " menyesuaikan diri" dengan semua orang. Anak tengah biasanya paling ramah dan berempati tinggi.

Secara umum, anak tengah cenderung pribadi yang menyenangkan, agak memberontak, punya banyak teman, memiliki lingkaran pergaulan yang besar dan suka mendamaikan.

Kepribadian anak paling kecil/ bungsu
Anak-anak bungsu cenderung menjadi yang paling berjiwa bebas karena sikap orangtua yang semakin longgar dalam prinsip pengasuhan anak. Si bungsu biasanya pecinta kesenangan, tidak rumit, manipulatif, pencari perhatian, dan berpusat pada diri sendiri.

Kekuatan anak bungsu adalah mereka punya cara sendiri untuk memenangkan perhatian. Mereka pemikat alami dengan kepribadian sosial yang ramah. Tidak mengherankan jika banyak aktor terkenal dan komedian adalah anak bungsu. Anak bungsu cenderung mendapat skor lebih tinggi dalam " keramahan" pada tes kepribadian daripada anak sulung.

3 dari 5 halaman

Sikap Orangtua yang Membandingkan Bisa Picu Konflik Sengit Kakak Beradik

Dream - Bersikap adil memang sangat sulit, namun bukan berarti tak bisa diusahakan. Terutama adil pada anak-anak yang lahir dari buah cinta. Banyak orangtua menganggap kelebihan tiap anak harus sama.

Adik diminta mencontoh kelebihan kakak dan sebaliknya. Maksud hati mungkin ingin mencontohkan kebaikan, padahal hal tersebut malah bisa menimbulkan perpecahan. Dilansir dari I Heart Intelligence, hubungan saudara kandung harusnya dibangun atas dasar cinta, rasa hormat, salin, dan perhatian.

Tak bisa dipungkiri jika hubungan ini sangat sulit dan rumit. Apalagi jika hubungan persaudaraan berasal dari keluarga yang tak berfungsi sebagaimana mestinya. Kenyataannya dalam keluarga yang sehat aja beberapa saudara kandung bisa tak akur bahkan menjadi saingan.

Banyak alasan yang menyebabkan hubungan persaudaraan tak berjalan mulus, namun sikap orang tua yang toxic bisa menjadi penyebab yang paling umum. Jika orangtua punya anak kesayangan dan dengan terang-terangan menunjukkannya, maka tak heran jika hubungan persaudaraan antar anak terasa seperti sebuah persaingan.

Selain itu, sikap orangtua yang narsis, suka mengontrol, atau manipulatif juga akan membahayakan anak-anak mereka di masa depan. Lebih jauh lagi, orang tua narsistik dapat menggunakan strategi pengendalian pikiran dan manipulasi yang dapat merusak hubungan antar saudara.

Untuk mencegah hal tersebut, sebaiknya kita terus mengevaluasi tindakan yang kita lakukan pada anak-anak. Usahakan untuk selalu berlaku adil pada setiap anak agar mereka tak merasa mendapatkan kasih sayang yang berbeda. Selengkapnya baca di Diadona.id.

4 dari 5 halaman

Hubungan Kakak Adik Punya Ikatan Kuat, Orangtua Penting Lakukan Ini

Dream - Hubungan saudara atau kakak beradik kemungkinan besar merupakan hubungan terpanjang dan paling berpengaruh yang bakal dimiliki anak-anak. Ada kalanya hubungan saudara seperti musuh bebuyutan, jarang sekali akur.

Persaingan atau pertikaian antar saudara adalah normal. Faktanya, hal itu bisa menjadi kesempatan belajar yang penting. Hanya karena kakak beradik bertengkar, bukan berarti mereka tidak bisa tetap dekat.

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk membina ikatan yang lebih kuat di antara saudara, terlepas dari apakah mereka saudara kandung, saudara tiri, atau adopsi. Penelitian menunjukkan bahwa saudara kandung adalah bagian integral dalam mengajar satu sama lain bagaimana berinteraksi secara sosial.

" Saudara kandung adalah panutan yang lebih baik dari perilaku yang lebih informal — bagaimana bertindak di sekolah atau di jalan, atau, yang paling penting, bagaimana bersikap keren di sekitar teman — yang merupakan bagian terbesar dari pengalaman sehari-hari seorang anak," kata Laurie Kramer, Profesor Psikologi di University of Illinois.

Membina ikatan yang erat antar saudara dapat membantu anak tumbuh dengan kepribadian yang baik. Meskipun saudara kandung bakal berkelahi dan bertengkar, mengatasi perbedaan mereka dapat membantu mempersiapkan mereka untuk hubungan dewasa dengan satu sama lain dan dengan orang lain.

 

5 dari 5 halaman

Apa yang Bisa Dilakukan?

Cobalah untuk membuat suasana bermain bersama. Bisa juga mengajak pergi ke suatu tempat berdua saja untuk anak yang lebih besar. Catatlah aktivitas yang mereka sukai dan saat-saat mereka bermain bersama dengan baik. Kemudian, jadwalkan lebih banyak aktivitas ini untuk membantu mereka menjalin ikatan.

" Ketika anak-anak tertawa dan bersenang-senang, mereka mengalami perasaan yang lebih positif. Dan saat mereka mengalami perasaan positif ini bersama saudara mereka, mereka akan merasa lebih positif satu sama lain," ujar Kramer.

Fokuslah pada kerja sama daripada persaingan. Bicarakan tentang bagaimana semua orang dalam keluarga bisa kerja sama dalam tim yang sama dan membantu satu sama lain. Saat bekerja bersama sebagai satu keluarga, semua orang bisa belajar bekerja sama.

Biarkan juga anak untuk berlatih berkompromi, berbagi, dan mendengarkan jika memungkinkan. Kadang-kadang, yang terbaik adalah duduk dan membiarkan mereka menyelesaikan masalah daripada menjadi wasit setiap perselisihan.

Sumber: Verywell

Join Dream.co.id