Ayah Bunda, Ini Sebab Anak Korban Bullying Lebih Memilih Diam

Ibu Dan Anak | Kamis, 8 Oktober 2020 16:03
Ayah Bunda, Ini Sebab Anak Korban Bullying Lebih Memilih Diam

Reporter : Mutia Nugraheni

Anak cenderung membahasnya beberapa tahun kemudian setelah kejadian itu berlalu.

Dream - Menjadi korban bullying apapun bentuknya, baik secara online, verbal maupun fisik, menimbulkan luka psikis yang sama besar. Terutama pada anak-anak dan remaja yang belum memiliki pertahanan psikologis yang baik.

Perlu diketahui, sepertiga dari korban bullying tidak pernah memberi tahu orangtuanya. Anak cenderung membahasnya beberapa tahun kemudian setelah kejadian itu berlalu. Anak memiliki alasan tersendiri mengapa mereka tidak berani mengatakan kepada orangtuanya. Mengapa? Berikut alasannya.

Ketakutan Bahwa Perundungan Akan Semakin Buruk
Banyak anak khawatir bahwa pelaku intimidasi menjadi lebih marah jika dia ditegur oleh guru atau orangtua mereka. Para korban percaya bahwa jika mereka melaporkan intimidasi, pelaku intimidasi akan membalas dan menjadi lebih kejam.

Akibatnya, anak-anak akan merahasiakan penindasan tersebut atau memberi tahu orangtua mereka dengan permintaan agar tidak ada tindakan apa pun terkait situasi tersebut.

 

2 dari 3 halaman

Merasa Tidak Ada Perubahan Meskipun Sudah Melaporkan

Para korban penindasan sering mengaku bahwa memberi tahu seseorang akan tidak berguna. Hak ini khususnya terjadi di sekolah atau di ruang kelas di mana laporan penindasan menyebabkan sedikit atau tidak ada intervensi aktif.

Semakin besar anak-anak, semakin kecil kemungkinan mereka untuk mempercayai bahwa orang dewasa dapat membantu mengatasi intimidasi. Hal ini mungkin terjadi karena mereka telah mengamati laporan tentang intimidasi dari guru atau orangtua.

 

3 dari 3 halaman

Merasa Tidak Berdaya

Bullying pada dasarnya adalah tentang kekuasaan. Agresi, baik verbal, sosial atau fisik, berpusat pada membuat satu orang merasa kurang kuat dari yang lain. Oleh karena itu, korban bullying biasanya menganggap dirinya tidak berdaya, terutama dalam kaitannya dengan melaku intimidasi. Persepsi ini memicu perasaan bahwa melaporkan penindasan tidak ada gunanya.

Menjadi korban bullying sangat mengguncang psikologis anak. Orangtua diharapkan bisa lebih peka terhadap perubahan sikap anak, termasuk perubahan fisiknya. Termasuk ketika anak menunjukkan sikap menarik diri, penuh kecemasan, sulit tidur dan sebagainya. Bisa jadi mereka sedang menyembunyikan sesuatu, salah satunya perundungan dari orang di sekitarnya.

Laporan Gayuh Tri/ Sumber: Fimela.com

Join Dream.co.id