Asuhlah Anak Yatim dengan Tulus, Dosa Bisa Terhapus

Ibu Dan Anak | Kamis, 9 Desember 2021 08:11

Reporter : Mutia Nugraheni

Rasulullah SAW mengatakan siapa pun yang mengasuh anak yatim jaminannya adalah surga selagi tidak melakukan dosa besar.

Dream - Selama hidup di dunia, kita tak bisa terlepas dari dosa baik kecil maupun besar. Manusia merupkan gudangnya salah dan lupa, untuk itu Rasulullah mengingatkan umatnya untuk selalu meminta ampun, mengucap istigfar dan senantiasa bertaubat dan tak mengulangi dosa.

Tumpukan dosa manusia pastinya akan sangat sulit dihitung saking banyaknya. Rupanya ada cara untuk menghapus dosa-dosa yang kita lakukan. Menurut Nur Rofiah, sosen Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta, yaitu mengasuh anak yatim dan tabah dengan segala ujiannya.

Dikutip dari Nu.or.id, hal itu berdasarkan riwayat hadits Rasulullah SAW yang mengatakan siapa pun yang mengasuh anak yatim jaminannya adalah surga selagi tidak melakukan dosa besar.

“ Untuk mendapat pahala besar itu tidak gratis, semua perlu kesabaran termasuk dalam mengasuh anak yatim,” kata Nur Rofiah.

Ia menyarankan, apabila dalam mengasuh anak yatim menemukan kesulitan, maka perlu melakukan pendekatan secara kontekstual. “ Jika segala cara didikan tidak mampu untuk meluluhkan hati anak yatim, bisa meminta bantuan lembaga pesantren. Barangkali hal itu bisa membuat anak tersebut lebih menerima keadaan-sebab ia hidup bersama semua santri yang sedang tidak ada orang tuanya,” pesannya.

 

Asuhlah Anak Yatim dengan Tulus, Dosa Bisa Terhapus
Ilustrasi
2 dari 2 halaman

Anak Yatim Dimuliakan Allah SWT

Ahli Kajian Gender Islam tersebut mengatakan, tanggung jawab dalam mendidik anak yatim bukan hanya pada keluarganya saja tapi juga kepada masyarakat karena kemaslahatan yang dicurahkan dalam Islam itu adalah kemasalahatan masyarakat. Makna dekat dengan anak yatim yang dimaksud Rasulullah SAW dalam hadits bukan hanya hubungan sedarah saja tapi juga kerabat atau orang-orang yang ada di sekelilingnya.

“ Apalagi, anak yatim yang hidup di perantauan-sulit mengharapkan keluarga besarnya untuk bertanggung jawab mengurusnya. Jadi, dalam hal ini bisa menggunakan pendekatan kontekstual untuk mengasuhnya,” kata penulis buku Nalar Kritis Muslimah tersebut.

Ia mengingatkan anak yatim harus segera ada yang mengurus. Bisa diurus kerabatnya atau orang-orang yang berada di dekatnya. Kedudukan anak yatim sangat dimuliakan oleh Allah SWT dan Nabi Muhammad sangat mencintai anak-anak yatim.

Penjelasan selengkapnya baca di sini.

Join Dream.co.id