Anak Tetap Butuh Tidur Siang Meski Sudah Masuk Usia Remaja

Ibu Dan Anak | Selasa, 2 Juli 2019 08:04

Reporter : Mutia Nugraheni

Usahakan buah hati selalu tidur siang meski hanya sebentar.

 

Dream - Sebagian orang besar berpikir, tidur siang hanya dibutuhkan oleh bayi dan balita. Sebenarnya, anak-anak di usia sekolah dasar (SD) hingga remaja SMA, tetap membutuhkan tidur siang.

Bahkan menurut penelitian, anak-anak di masa pertumbuhan harus tidur siang bahkan ketika berada di sekolah. Menurut studi yang diterbitkan dalam Sleep Journal, tidur siang pada anak-anak memiliki pengaruh langsung pada kebahagiaan, perilaku dan bahkan level IQ mereka.

Penelitian ini dilakukan pada 3.819 anak-anak sekolah dasar dari China Jintan Cohort Study pada 2011. Frekuensi tidur siang mingguan dan durasi rata-rata tidur dikumpulkan dari siswa di kelas 4-6.

Prestasi dan perilaku dievaluasi oleh guru. Termasuk langkah-langkah psikologi positif seperti, kontrol diri, dan kebahagiaan, anak-anak diminta menilai sendiri. Tes IQ juga dilakukan.

Hasilnya, tidur siang secara signifikan terkait dengan kebahagiaan, dan kontrol diri yang lebih tinggi, mengurangi masalah perilaku, IQ verbal yang lebih tinggi, dan prestasi akademik yang lebih baik.

Anak Tetap Butuh Tidur Siang Meski Sudah Masuk Usia Remaja
Anak Tidur (Foto: Shutterstock)
2 dari 6 halaman

Manfaat Signifikan Pada Aspek Akademik

Penelitian juga mengungkap, anak-anak yang tidur siang tiga kali atau lebih dalam seminggu mendapat manfaat dari peningkatan kinerja akademik sebesar 7,6% di Kelas 6. 

Kurang tidur dan kantuk di siang hari rupanya mempengaruhi anak secara signifikan,

Seperti emosi yang tak stabil, sulit fokus, dan punya kebiasaan tidur yang buruk. Untuk itu, usahakan buah hati tidur siang meskipun hanya sebentar. Terutama ketika ia bakal menghadapi momen ujian yang bakal mengurang otak dan psikologisnya.

Sumber: PennToday

3 dari 6 halaman

Bayi Suka Tersenyum Saat Tidur, Ini Sebabnya

Dream - Memandang wajah bayi saat tidur lelap jadi momen yang paling menenangkan dan membahagiakan bagi orangtua. Apalagi jika saat tidur, si kecil tiba-tiba tersenyum. Hati pasti langsung 'meleleh' dibuatnya.

Mungkin banyak yang penasaran, mengapa bayi bisa tersenyum saat tidur? Sahabat Dream juga penasaran?

Bayi tersenyum bahkan sampai tertawa dalam tidur mereka karena fungsi otak tertentu yang disebabkan oleh tahapan tidur REM, yaitu saat kita bermimpi.

Senyum bayi, seperti dikutip dari Momjunction, adalah respons terhadap mimpi itu. Bayi juga dapat tersenyum ketika mereka tertidur atau bangun, yang bisa menjadi reaksi terhadap perasaan senang atau senang yang mereka alami pada saat itu.

4 dari 6 halaman

Bagaimana Tidur Membuat Bayi Tersenyum?

Untuk mengetahui mengapa bayi tersenyum dalam tidurnya, pahami dulu siklus tidur dan tahapannya. Ada dua fase dasar tidur, yaitu non-rapid eye movement (NREM) dan rapid eye movement (REM).

Seperti namanya, yaitu saat ada gerakan mata yang cepat di bawah kelopak mata dalam tidur pada REM dan tidak ada gerakan di NREM. Bayi memulai tidur mereka dengan NREM. Setelah itu akan tidur dalam fase REM.

5 dari 6 halaman

Senyum di Fase REM

Mata bergerak cepat selama tahap REM ketika otak sedang aktif dan bermimpi. Para pakar tidu percaya bahwa gerakan mata agak terkait dengan mimpi yang sedang diproses oleh otak.

Tahap REM menyebabkan peningkatan aktivitas otak, kadang-kadang sampai batas tertentu untuk membangunkan orang tersebut. Pola listrik otak selama tidur REM mirip dengan yang aktif ketika kita bangun. Ini menunjukkan bahwa mimpi selama tidur REM terjadi, otak tampaknya mensimulasikan kenyataan.

Bayi cenderung tidur selama 16 jam sehari, setengahnya adalah tidur REM. Karena itu, tidak mengherankan melihat bayi itu tersenyum ketika mereka tertidur di siang atau malam hari. Kali berikutnya bayi Anda tersenyum saat tidur, itu berarti mereka tidur nyenyak dan memiliki mimpi indah juga!

6 dari 6 halaman

Sering Ajak Bayi Berbicara Bisa Tingkatkan Kecerdasannya

Dream - Jangan anggap sepele kebiasaan berbicara dengan bayi dan balita. Justru hal ini harus sering dilakukan orangtua dan pengasuh. Mengajak balita berbicara akan berdampak positif bagi perbendaharaan katanya.

Para peneliti dari University of York menemukan bahwa jumlah kata yang didengar seorang anak tidak hanya meningkatkan perkembangan kosa kata dan bahasa mereka. Tapi dapat juga berkontribusi pada pengembangan kemampuan nonverbal seperti penalaran dan pemahaman numerik.

Studi ini melibatkan 107 anak-anak. Dengan menggunakan perekam audio, bahasa dan kebiasaan mereka didokumentasikan selama tiga hari. Ditemukan adanya hubungan positif antara kemampuan kognitif dan kualitas bicara anak berdasarkan jumlah kata dan keragaman leksikal.

Sara Piekarski, ahli patologi bahasa, sangat setuju dengan penelitian tersebut. Menurutnya, ketika seorang anak tumbuh di lingkungan yang kaya bahasa, itu membentuk cara mereka memahami, melihat, dan menggunakan bahasa.

" Sebagai orang tua, kami memimpin dengan contoh, dan anak-anak secara alami mengembangkan metode dan penggunaan bahasa yang sama, bahkan pada usia yang sangat muda," katanya.

Juru bicara American Academy of Pediatrics (AAP) dan anggota komite eksekutif Dewan Anak Usia Dini Dr. Dipesh Navsaria, juga mengamininya. Ia mengingatkan orangtua untuk berkomunikasi secara intensif dan fokus dengan anak. Tak hanya secara verbal tapi juga non verbal.

" Ini bukan hanya tentang kata-kata tapi lebih pada sebuah interaksi. Bangun interaksi positif, dua arah dengan begitu anak belajar banyak hal," katanya.

Sumber: HealthLine

 

Join Dream.co.id