Anak Selalu Menangis Setelah Bangun Tidur? Cari Tahu Sebabnya

Ibu Dan Anak | Kamis, 18 Februari 2021 08:02

Reporter : Mutia Nugraheni

Jika terjadi sangat sering mungkin ada masalah psikologis atau fisik pada anak.

Dream - Tidur merupakan momen penting bagi tumbuh kembang anak, juga kesehatan fisik dan psikologisnya. Memiliki tidur yang berkualitas tentu akan berdampak positif bagi anak.

Sayangnya, tak semua anak bisa mendapatkan tidur yang berkualitas. Ada anak yang saat bangun tidur malah rewel, cemberut dan menangis atau mood swing. Sebagai orangtua, tentunya hal tersebut sangat membingungkan.

Jika terjadi sangat sering mungkin ada masalah psikologis atau fisik pada anak. Berikut beberapa penyebabnya:

Waktu tidur kurang
Kurang tidur dan merasa lelah mungkin bukan hal berat bagi orang dewasa. Sayangnya, anak kecil belum bisa memahami hal tersebut. Ketika merasa waktu tidurnya kurang dan badannya masih lelah, anak akan protes. Beberapa bentuk protes yang umum dijumpai yaitu wajah cemberut, tidak mau melakukan apa pun, dan senyum sebentar lalu menangis lagi.

 

Anak Selalu Menangis Setelah Bangun Tidur? Cari Tahu Sebabnya
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
2 dari 6 halaman

Obstructive Sleep Apnea (OSA)

" Mood swing pada anak bangun tidur harus dilihat kondisinya. Sebab, hal ini bisa juga mengarah kepada kondisi lain, misalnya obstructive sleep apnea," kata
dr. Astrid Wulan Kusumoastuti, dikutip dari KlikDokter.com

OSA merupakan gangguan pernapasan yang terjadi saat si kecil terlelap. Gejalanya, anak beberapa kali mengalami henti napas dan bikin ia sering terbangun. Karena kondisi tersebut, waktu tidurnya kurang dan anak jadi rewel.

Waktu Tidur Terlalu Lama
Sama halnya dengan kurang tidur, reaksi negatif si kecil juga bisa muncul bila terlalu lama tidur. Seiring bertambahnya usia, waktu tidur anak memang akan berkurang. Apabila anak balita diberikan waktu tidur yang durasinya seperti batita, ia malah cenderung rewel ketika terbangun.

 

3 dari 6 halaman

Rasa Takut saat Terbangun

Anak-anak biasanya akan langsung cemas dan takut ketika terbangun sendirian di kamarnya. Saat anak bangun tidur, biasanya orangtua sudah melakukan berbagai aktivitas, misalnya membuat sarapan atau siap-siap bekerja.

Ketidakhadiran orang lain di kamarnya membuat si kecil merasa tidak aman dan akhirnya menangis. Anak balita memang belum terbiasa terbangun tanpa kehadiran orangtuanya. Namun, seiring bertambahnya usia, kondisi ini akan hilang dengan sendirinya.

Rasa Tidak Nyaman
Rewel saat anak bangun tidur bisa disebabkan juga oleh rasa tidak nyaman akibat lingkungan sekitarnya. Misalnya, ia menangis dan marah-marah sendiri karena kasur atau baju yang basah karena keringat. Selain itu, ruangan yang terlalu panas juga bisa membuat anak rewel.

Selengkapnya baca di sini.

4 dari 6 halaman

Membiarkan Anak Menangis Ternyata Ada Manfaatnya

Dream - Melihat anak menangis, orangtua sering kali merasa takut, kesal, dan cemas. Sebisa mungkin kita akan mencari cara untuk menghentikan tangisannya dan membuat buah hati tenang kembali.

Sesekali, biarkan anak menangis. Terutama ketika mereka sedang terjebak konflik atau emosi. Menangis tak selalu buruk untuk emosi anak. Pada beberapa kondisi, anak justru butuh menangis untuk mengeluarkan emosi negatifnya.

Mengapa kita tak perlu buru-buru menenangkan anak yang menangis?

Menangis melepaskan ketegangan dan perasaan tidak enak
Menangis adalah cara alami untuk menandakan bahwa ada sesuatu yang salah, saat anak-anak tumbuh, makna air mata semakin meluas. Mereka pun jadi terbiasa untuk mencari cara mengurangi stres dan perasaan buruk, salah satunya dengan menangis.

Saat kita stres, tubuh melepaskan kortisol. Hormon ini menghalangi bagian otak mereka yang bertanggung jawab untuk memecahkan masalah. Nah, air mata mengurangi sejumlah level kortisol, menjadikannya cara alami tubuh untuk membuat anak merasa lebih baik.

 

5 dari 6 halaman

Adaptasi

Ada banyak aturan dan batasan yang mungkin tidak disukai anak-anak. Kita mungkin pernah menyaksikan anak-anak menangis karena mereka tidak bisa main hingga malam, menginjak mainan atau mengambil susu kakak/ adiknya.

Saat ini terjadi, air mata sebenarnya membantu si kecil untuk menerima kenyataan dan beradaptasi dengannya. Ketika anak berubah dari marah menjadi air mata, otak mereka beralih dari mengejar ke kesedihan dan telah memproses ketidakmampuan dari apa yang mereka harapkan.

 

6 dari 6 halaman

Emosi dan Sosial

Air mata meningkatkan perkembangan sosial dan emosional
Anak-anak perlu diizinkan untuk mengalami dan mengekspresikan perasaan mereka. Tugas orangtua adalah memastikan bahwa ini sesuai dengan batasan mereka, seperti tidak menyakiti diri sendiri atau orang lain dan tidak merusak barang di sekitar mereka.

Ketika anak-anak diperbolehkan untuk mengekspresikan emosinya dengan aman (bahkan yang menyedihkan), keterampilan sosial dan kecerdasan emosional mereka akan meningkat.

Mengurangi rasa sakit
Peneliti menemukan bahwa menangis melepaskan oksitosin dan endorfin yang akan membuat si kecil merasa lebih baik dan mengurangi rasa sakit fisik dan emosional. Jadi, lain kali jika melihat seorang anak jatuh dari sepeda dan mencoba membuat mereka merasa lebih baik, jangan meminta mereka berhenti menangis.

Sumber: Brightside

Join Dream.co.id