Anak Remaja Menjauh dari Orangtua, Tak Perlu Panik

Ibu Dan Anak | Kamis, 2 Juli 2020 12:04
Anak Remaja Menjauh dari Orangtua, Tak Perlu Panik

Reporter : Mutia Nugraheni

Remaja lebih suka di dalam kamar dan menghabiskan waktu dengan teman-temannya.

Dream - Orangtua cenderung ingin selalu terlibat dalam kehidupan anak. Sejak anak bayi hingga balita semua hal diurus dari yang kecil hingga besar. Orangtua kerap lupa kalau anak juga pribadi yang tumbuh dan membutuhkan privasi.

Jangan kaget saat anak beranjak dewasa, ia mulai menjauh, sulit dipahami, suka adu argumen dan makin tertutup. Remaja juga lebih suka di dalam kamar dan menghabiskan waktu dengan teman-temannya.

Menurut psikolog Roslina Verauli, remaja sebenarnya sedang butuh waktu untuk membangun identitasnya sendiri. Hal ini serupa dengan orangtua atau kakek neneknya yang butuh waktu untuk diri sendiri. Apalagi emosi remaja yang belum stabil.

" Bagi remaja, situasi-situasi yang mereka alami sehari-hari bisa membuat emosinya kembali tidak stabil. Terlebih lagi kalau lagi marah menjadi lebih marah atau kalau lagi sedih, malah menjadi lebih sedih," ujar Vera, dalam sesi webinar Peran Penting Pendidik Sebaya, dikutip dari Liputan6.com.

 

2 dari 6 halaman

Masa Transisi yang Kompleks

Remaja juga terkait dengan masa-masa pubertas yang sedang dialami. Mereka mengalami transisi yang kompleks, bukan anak-anak lagi. Berpikiran dewasa juga belum.

" Misalnya, mereka mungkin punya masalah, lagi berantem dengan teman atau putus dengan pacarnya. Bisa juga mereka merasa gagal secara akademis. Ini kan sesuatu yang remaja itu butuh melakukan refleksi diri. Kita bisa lihat dari sisi perubahan terkait fisik perubahan, cara berpikir juga berubah," lanjut Vera.

 

3 dari 6 halaman

Butuh Didengarkan

Vera menambahkan, yang dibutuhkan oleh remaja, terutama di usia 12 - 13 tahun, yakni kasih sayang. Kasih sayang bahwa mereka diterima dicintai tanpa syarat.

" Kalau di dunia psikologi maksudnya ada seseorang yang bersedia mendengarkan curhatan dari remaja. Ini karena mereka hanya butuh seseorang yang seolah-olah mengerti dan mau dengerin sungguh-sungguh," tambahnya.

Remaja juga butuh empati dan simpati. Simpati dan empati untuk menolong permasalahan, termasuk kesedihan yang dialami.

" Di rumah, misalnya, kalau si remaja cerita tentang apa yang dialami tapi enggak didengerin gitu kan sedih. Jadi, kita butuh orang yang menyayangi," pesan Vera,

Laporan Fitri Haryanti/ Sumber: Liputan6.com

4 dari 6 halaman

Anak Pra Remaja Cenderung Emosi Tinggi, Cari Tahu Trik Menghadapinya

Dream - Anak yang berusia dari mulai 9 tahun hingga 11 tahun, memang belum dikategorikan sebagai remaja. Banyak yang mengistilahnkannya sebagai tween/ pre-teen atau pra remaja.

Menghadapi anak di rentang usia tersebut, orangtua mungkin akan kaget dengan ledakan emosinya. Berteriak, membanting barang atau mengamuk untuk hal kecil yang sebenarnya bisa diatasi.

" Mungkin terlihat kemarahan, tekanan balik dan peningkatan kecemasan pada usia ini. Anak mulai meninggalkan dunia yang sebelumnya dan memasuki masa peralihan dan kerap diminta untuk berpikir dan bertindak seperti orang dewasa," kata Jennifer Kolari, seorang terapis keluarga di Toronto, dikutip dari Today Parents.

Masa puber sudah mulai terjadi di usia ini, yang dapat menimbulkan kekhawatiran bagi beberapa anak. Hormon juga mulai membanjiri tubuh, memengaruhi suasana hati dan kualitas tidurnya.

 

5 dari 6 halaman

Penuhi Kebutuhan Anak dengan Optimal

Sekolah dan kegiatan dapat menambah tekanan, dan dewasa ini, anak-anak menghabiskan lebih banyak waktu di layar daripada yang seharusnya. " Layar, khususnya video game, dan anak-anak mendapat dopamin terus-menerus, membuat mereka lebih mudah marah," kata Kolari.

Julie Romanowski, pakar pengasuhan anak di Vancouver, meminta para orangtua harus tetap memperhatikan kebutuhan anak. Mulailah dengan hal dasar seperti, pastikan anak cukup tidur, dan makan makanan sehat serta makanan ringan secara teratur.

 

6 dari 6 halaman

Cari Bantuan

Buat juga jadwal yang jelas untuk screen time, waktu tidur, pekerjaan rumah. Akan lebih baik jika jadwal dibuat dengan melibatkan anak agar ia merasa opininya dianggap. Ini akan sangat baik perkembangan emosinya.

Jika mendapati anak sering marah dan kemarahan ini memengaruhi hubungan di rumah atau dengan teman sebaya, mungkin inilah saatnya mencari bantuan dari luar. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan gurunya di sekolah atau psikolog.

Bisa jadi ada situasi yang tak bisa diceritakannya pada orangtua dan ia membutuhkan pihak lain yang lebih netral. Satu yang pasti, pastikan orangtua selalu di sampingnya, apapun keadaannya.

Join Dream.co.id