Adab Orangtua Pada Anak Menurut Imam al-Ghazali, Sudah Tahu?

Ibu Dan Anak | Rabu, 27 Desember 2017 08:08
Adab Orangtua Pada Anak Menurut Imam al-Ghazali, Sudah Tahu?
Anak-anak (Foto: Shutterstock)

Reporter : Mutia Nugraheni

Ada etika tertentu yang harus diperhatikan para orangtua terkait kewajiban anak-anak berbakti kepada mereka.

Dream - Menjadi orangtua kadang kita merasa berhak melakukan dan mengatur apapun yang kita mau pada anak-anak. Mungkin awalnya berupa niat baik, tidak ingin anak-anak kesulitan atau mengalami hal buruk di kemudian hari.

Tapi ternyata menurut Imam al-Ghazali orangtua sesunguhnya tidak bebas berbuat apa saja kepada anak-anaknya. Seperti dikutip dari NU online, ada adab atau etika tertentu yang harus diperhatikan para orangtua terkait kewajiban anak-anak berbakti kepada mereka.

Menurut Imam Al-Ghazali sebagaimana disebutkan dalam kitabnya berjudul Al-Adab fid Din (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 444) setidaknya ada lima (5) adab orang tua terhadap anak-anaknya sebagai berikut:

 Ada orangtua terhadap anak© NU Online

Artinya: Adab orangtua terhadap anak, yakni: membantu mereka berbuat baik kepada orang tua; tidak memaksa mereka berbuat kebaikan melebihi batas kemampuannya; tidak memaksakan kehendak kepada mereka di saat susah; tidak menghalangi mereka berbuat taat kepada Allah SWT; tidak membuat mereka sengsara disebabkan pendidikan yang salah.”


Pertama, membantu anak-anak bersikap baik kepadanya. Sikap anak kepada orangtua sangat dipengaruhi sikap orangtua kepada mereka. Jika orangtua sayang kepada anak-anak, mereka tentu akan membalas dengan kebaikan yang sama. Tidak mungkin anak-anak bersikap baik kepada orangtua, jika mereka diperlakukan semena-mena. Oleh karena itu ketika orangtua bersikap baik kepada anak-anaknya, sesungguhnya orangtua telah mendidik dan membantu anak-anaknya menjadi anak yang baik pula.

Kedua, tidak memaksa anak-anak berbuat baik melebihi batas kemampuannya. Orangtua perlu memahami psikologi perkembangan agar anak-anak dapat menjalani kehidupannya sesuai dengan fase-fase perkembangannya. Tidak bijak bila orang tua memaksakan kehendaknya agar anak selalu menduduki ranking 1 di kelasnya, sementara kemampuannya kurang mendukung.

Ketiga, tidak memaksa anak-anak saat susah. Sebagaimana orang dewasa, anak-anak juga bisa merasakan susah, misalnya karena kehilangan sesuatu yang menjadi kesayangannya seperti binatang kesayangan atau lainnya. Pada saat seperti ini orangtua sebaiknya dapat memahmi psikologi anak dengan tidak menambahi bebannya.

Misalnya, orangtua melakukan perintah-perintah yang banyak dan berat sehingga menambah beban anak. Justru sebaiknya orang dapat menghibur dan membesarkan hati anak bahwa Allah akan mengganti apa yang hilang dari anak itu dengan sesuatu yang lebih baik.

Penjelasan selengkapnya baca di sini

Sumber: NU.or.id

 

Join Dream.co.id