Adab Memberi Nama Buah Hati dalam Islam

Ibu Dan Anak | Rabu, 28 Oktober 2020 08:06

Reporter : Mutia Nugraheni

Cari tahu bagaimana tuntunan memberi nama anak sesuai dengan ajaran Islam.

Dream - Keturunan atau buah hati yang diberikan Allah SWT pada orangtua adalah amanah atau titipan yang kelak akan diminta pertanggungjawabannya. Untuk itu penting bagi tiap orangtua memberikan nama yang baik.

Tak salah jika ada ungkapan kalau nama adalah doa dan pengharapan. Artinya doa-doa terbaik dari orangtua untuk keturunannya. Dikutip dari DalamIslam.com, dalam hal memberi nama dituntunkan oleh Allah SWT sebagaimana memberikan nama “ Yahya” kepada putra Nabi Zakariyya:

 Surah Maryam ayat 7
© DalamIslam

“ Hai Zakariyya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang serupa dengannya.” (QS Maryam: 7).

 

Adab Memberi Nama Buah Hati dalam Islam
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
2 dari 6 halaman

3 Waktu Terbaik Memberi Nama Anak

Waktu memberikan nama untuk anak, bahkan dicontohkan Rasulullah SAW. Menurut Rasulullah ada 3 waktu yang tepat untuk memberikan nama anak, yaitu:

1. Memberinya nama pada hari kelahirannya

Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 HR Muslim soal memberi nama
© Dalam Islam

Artinya: “ Semalam telah lahir anakku dan kuberi nama seperti ayahku yaitu Ibrahim.” (HR. Muslim no. 2315)

2. Memberinya nama pada hari ketiga dari kelahirannya

Dari Abu Musa, ia mengatakan,

 Abu Musa
© Dalam Islam

Artinya: “ Anak laki-lakiku lahir, kemudian aku membawanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau lalu memberinya nama Ibrahim, beliau menyuapinya dengan kunyahan kurma dan mendoakannya dengan keberkahan, setelah itu menyerahkannya kepadaku.” Ibrahim adalah anak tertua Abu Musa.” (HR. Bukhari no. 5467, 6198 dan Muslim no. 2145)

3. Memberinya nama pada hari ketujuh dari kelahirannya

Dari Samurah bin Jundub bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

 Samurah
© Dalam Islam

Artinya: “ Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuhnya, dicukur rambutnya dan diberi nama.” (HR. Abu Daud no. 2838, An Nasai no. 4220, Ibnu Majah nol. 3165, Ahmad 5/12. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

 

3 dari 6 halaman

Adab Memberi Nama

Berikanlah nama yang baik pada anak sesuai dengan tuntunan Islam. Adabnya adalah gunakan nama sesuai urutan terbaik, terdiri dari huruf yang jumlahnya sedikit, gunakan nama yang mudah diucapkan, gunakan nama yang mudah diingat orang lain.
Ath Thobari rahimahullah mengatakan,

“ Tidak sepantasnya seseorang memakai nama dengan nama yang jelek maknanya atau menggunakan nama yang mengandung tazkiyah (menetapkan kesucian dirinya), dan tidak boleh pula dengan nama yang mengandung celaan. Seharusnya nama yang tepat adalah nama yang menunjukkan tanda bagi seseorang saja dan bukan dimaksudkan sebagai hakikat sifat. Akan tetapi, dihukumi makruh jika seseorang bernama dengan nama yang langsung menunjukkan sifat dari orang yang diberi nama. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengganti beberapa nama ke nama yang benar-benar menunjukkan sifat orang tersebut. Beliau melakukan semacam itu bukan maksud melarangnya, akan tetapi untuk maksud ikhtiyar (menunjukkan pilihan yang lebih baik).” [Dinukil dari Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 10/577, Darul Ma’rifah, 1379.]

Penjelasan selengkapnya baca di sini.

4 dari 6 halaman

Islam Melarang Keras Memberi Julukan Jelek Pada Anak

Dream - Banyak orangtua memiliki panggilan tertentu untuk anak. Pastikan, nama panggilannya bermakna baik dan bukan untuk menjelekkanya. Islam mengajarkan untuk memberikan nama yang indah pada keturunan.

Dikutip dari Tebu Ireng Online, sebagaimana keterangan hadis riwayat Abi daud sebagai berikut:

“ Disunahkan orangtua memperbagus nama anak yang dilahirkan. karena hadis “ sesungguhnya kelak pada hari kiamat kalian akan dipanggil dengan nama kalian dan nama-nama bapak kalian, maka bagusilah nama kalian. Dan lebih baik-baiknya nama adalah Abdullah dan Abdurrahman. Sebagaimana hadis riwayat Imam Muslim: “ nama yang paling disukai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (al Fiqh al Islami wa Adilatuhu, juz 4 halaman 289)

Nama adalah sebuah doa, nama terkadang juga dinukilkan dari nama ulama atau tokoh tertentu. Dengan nama itu, harapannya, bisa menjadi inspirasi atau motivasi bagi anak. Lalu, bagaimana menggelar atau memberikan julukan nama anak dengan julukan nama yang buruk?

Menurut ulama memberi nama julukan yang buruk kepada anak atau siapa pun tidak diperbolehkan, semisal memberi julukan dengan nama Abdul Uzza, Fir’aun, atau Si Pendek. Sebagaimana keterangan dalam kitab al Fiqh al Islami wa Adillatuhu berikut ini:

“ Haram memberi julukan kepada seseorang dengan julukan yang tidak disukai, semisal orang pincang dan buta. Dan boleh menyebut namanya dengan niat memperkenalkan kepada orang yang belum diketahui kecuali dia. Selain itu, boleh memberikan julukan-julukan yang baik, semisal julukan sahabat Nabi seperti Umar al Faruq, Hamzah dengan ‘Asadullah, dan Kholid dengan Syaifullah.’’

Selengkapnya baca di sini.

5 dari 6 halaman

Ayah Tak Nafkahi Anak Lahir Batin, Apa Hukumnya dalam Islam?

Dream - Salah satu tugas ayah dalam Agama Islam dan akan diminta pertanggung jawabannya di akhirat adalah menafkahi anak. Nafkah lahir dan batin wajib dipenuhi seorang ayah pada anak-anaknya.

Baik ketika terikat pernikahan dengan ibu anak-anaknya atau pun sudah bercerai. Sayangnya, masih banyak para ayah yang tak memenuhi tanggung jawabnya. Terutama setelah bercerai dan anak-anaknya tinggal dengan ibunya.

Dikutip dari Imam Mawardi dalam kitab al-Hawi ak-Kabir fi Fiqh Madzhab al-Imam al-Syafi’i menjelaskan terdapat dua poin penting tentang tanggungjawab menafkahi anak. Pertama, tanggung jawab menafkahi anak adalah kewajiban bapak bukan kewajiban ibu.

Imam Syafi’i menjelaskan bahwa seorang bapak wajib memenuhi kebutuhan anak sejak menyusui, memberi nafkah, pakaian dan keperluan-keperluannya ini berdasarkan firman Allah SWT.

 Albaqarah ayat 233
© Bincang Muslimah

" Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada anak yang dilahirkan dengan cara ma’ruf" . (QS. Al-Baqarah ; 233).

 

6 dari 6 halaman

Jangan Takut Miskin

Kedua, larangan menelantarkan anak sebab enggan memberikan nafkah pada mereka lantaran takut menjadi miskin. Padahal Allah SWT Sang Maha Pemberi Rizki. Sebagai mana dijelaskan dalam QS. Al-Isra ayat 31.

 

 Al Isra ayat 31
© Bincang Muslimah

“ Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut akan kemiskinan. Sesungguhnya Kami yang akan memberi rizki kalian. Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa yang besar" .

Imam at-Thabari dalam Tafsirnya menjelaskan bahwa para bapak pada dahulu kala membunuh anak-anak mereka karena takut miskin, karenanya Allah menegaskan pada ayat di atas bahwa

Dialah yang akan memberi rezeki tersendiri untuk sang anak tanpa mengurangi rejeki sang bapak. Jangan menelantarkan anak-anak mereka apalagi sampai menyebabkan kematiannya.

Adalah berdosa jika seorang ayah tak menafkahi anak-anaknya. Hal ini sesuai hadist HR. Ahmad 6842, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth.

 HR Ahmad soal kewajiban nafkah
© Konsultasi Syariah


" Seseorang dianggap melakukan dosa, jika dia menyia-nyiakan orang yang orang yang wajib dia nafkahi.”

Sumber: Bincang Muslimah dan Konsultasi Syariah

Join Dream.co.id