5 Penyebab Balita Suka Sekali Memukul dan Menggigit

Ibu Dan Anak | Senin, 10 Agustus 2020 08:04
5 Penyebab Balita Suka Sekali Memukul dan Menggigit

Reporter : Mutia Nugraheni

Ternyata ada banyak faktor penyebab anak suka memukul dan menggigit.

Dream - Anak balita seringkali mengamuk atau tantrum karena emosinya belum matang. Mereka juga belum bisa menyampaikan apa yang diinginkan dan dirasakan secara jelas sehingga emosinya meluap-luap.

Pada beberapa balita, ada kecenderungan untuk memukul dan menggigit. Saat ada hal yang mengganggu tanpa banyak bicara anak bisa langsung memukul. Tentu saja hal ini menimbulkan kekhawatiran orangtua.

Ternyata ada banyak faktor penyebab anak suka memukul dan menggigit. Bukan hanya masalah emosi, tap juga hal-hal berikut ini.

1. Masalah Sensori
Banyak anak memiliki sensitovitas sensorik yang sangat tinggi. Hal ini membuat mereka saat menyentuh, mendengar, mencium aroma dan menjelajahi lingkungan di sekitarnya secara berbeda dari anak biasa. Akibatnya, mereka mungkin lebih cenderung merasa cemas dan suka meremas, mencubit, mendorong, dan menendang anak-anak lain. Mulai mengidentifikasi kecenderungan sensorik anak bisa jadi jalan keluar untuk mengurangi kecenderungannya memukul dan menggigit.

 

2 dari 5 halaman

2. Masalah Perilaku

Ketika kita melihat seorang anak dipukul, kita memiliki kecenderungan untuk bereaksi dengan keras. Ini bisa sangat bisa dimengerti karena perilaku tersebut tidak dapat diterima.

Sayangnya pada beberapa anak, setelah memukul, mereka jadi mendapat perhatian meski berupa reaksi negatif. Kondisi ini membuat anak merasa lebih diperhatikan dan megulanginya lagi. Mencari konsekuensi yang tepat bisa jadi solusi, kadang reaksi orang sekitar justru membuat anak malah mengulangi.

 

3 dari 5 halaman

3. Rasa ingin tahu

Anak mendorong temannya sampai jatuh atau memukul hingga menangis. Ternyata bisa jadi banyak keingintahuan yang berperan dalam hal ini. Misalnya muncul pertanyaan di otak anak 'Apa yang terjadi jika saya menggunakan tubuh saya dengan cara ini?', 'Jenis reaksi apa yang bisa saya dapatkan dari orang ini?' atau 'Bagaimana kalau ia menangis?'.

Semua pertanyaan ini wajar dan sesuai perkembangan untuk balita. Dalam kasus ini, mengeluarkan seorang anak dari situasi tersebut dan mengarahkannya ke aktivitas lain yang menarik sering kali akan memuaskan rasa ingin tahunya.



4 dari 5 halaman

4. Energi

Dalam beberapa hal, anak-anak seperti bola yang penuh energi. Level energinya yang tinggi bisa membuat mereka sangat aktif sampai tak bisa mengontrol dirinya sendiri. Bisa dengan memukul atau menggigit anak lain. Bisa jadi anak butuh aktivitas yang lebih intensif untuk mengeluarkan energinya.

 

5 dari 5 halaman

5. Komunikasi

Sebelum anak-anak kita memiliki kemampuan bahasa dan penalaran yang memadai, mereka cenderung menggunakan tubuh mereka untuk berkomunikasi. Pada anak yang memiliki keterlambatan bahasa, mereka mungkin menjadi sangat frustrasi dengan ketidakmampuan untuk berkomunikasi dan akibatnya, kemungkinan besar akan memukul. Saat kemampuan komunikasinya berkembang dan keterampilan sosial ditingkatkan, jenis perilaku ini biasanya mulai mereda.

Sumber: Motherly

Join Dream.co.id