4 Kebiasaan Orangtua yang Berdampak Pada Kesehatan Psikologis Anak

Ibu Dan Anak | Sabtu, 14 November 2020 10:26
4 Kebiasaan Orangtua yang Berdampak Pada Kesehatan Psikologis Anak

Reporter : Mutia Nugraheni

Kesehatan mental dan psikologis sama pentingnya dengan kesehatan fisik, dan ini harus dianggap serius oleh para orangtua.

Dream - Isu seputar kesehatan mental, terutama dalam lingkup keluarga sedang ramai dibicarakan. Kesehatan mental dan psikologis sama pentingnya dengan kesehatan fisik, dan ini harus dianggap serius oleh para orangtua.

Anak-anak masih dalam tahapan tumbuh kembang yang signifikan, baik fisik maupun psikologisnya. Leslie Becker-Phelps, seorang psikolog, mengungkap ada 4 poin dalam pengasuhan yang sebaiknya dilakukan orangtua agar anak tumbuh dengan psikologis yang sehat. Apa saja?

Cintai anak apa adanya
Orangtua mungkin ingin anak-anak belajar lebih giat, penurut, disiplin, dan sukses. Sesekali lihatlah apa yang sudah dimiliki anak. Mungkin sulit untuk benar-benar melihat dan menerima anak-anak apa adanya.

" Ini karena orangtua ingin membentuk anak jadi seperti apa yang diinginkannya. Pastikan untuk fokus tidak hanya pada harapan pada anak dan bagaimana Anda ingin mereka berperilaku, tetapi juga pada mencintai anak dengan kepribadiannya," ujar Leslie.

 

2 dari 6 halaman

Bantulah anak menjadi cerdas secara emosi

Orang merasa sangat puas dengan dirinya dan dalam hubungan ketika mereka merasakan empati dan kasih sayang, dapat mengatasi emosinya secara efektif, dan dapat berkomunikasi secara efektif. Kemampuan ini pertama kali dipelajari atau diserap selama masa kanak-kanak.

" Mengajarkan kecerdasan emosi dimulai dengan orangtua yang berempati kepada anak-anak mereka ketika mereka masih bayi. Ketika orang tua dapat terhubung dengan pengalaman dan menerima anak apa pun yang mereka rasakan, anak menila dirinya sebagai sesuatu yang berharga dan dicintai," kata Leslie.

Seiring berlalunya waktu, orangtua dapat membantu anak-anak mereka berpikir lebih dalam dan mengekspresikan emosinya dengan cara lebih sehat. Termasuk ketika berada dalam sebuah konflik.

 

3 dari 6 halaman

Buat anak merasa penting

Unsur penting dalam mengasuh anak adalah menunjukkan kepadanya kalau mereka benar-benar penting. Ini berarti terlibat dengan mereka di saat-saat bahagia dan sulit. Tentu saja, saat-saat indah terasa menyenangkan dan membuat kita semakin ingin bersama. Tetap terlibat dengan anak saat ada konflik juga sama pentingnya.

" Ketika semuanya berjalan dengan baik, kemampuan ini pada akhirnya menjadi bagian penting dari menjaga hubungan yang erat di masa dewasa," ungkap Leslie.

 

4 dari 6 halaman

Lakukan perbaikan

Ketika hubungan orangtua dengan anak menjadi tegang karena suatu hal, penting bagi ita untuk mencoba memperbaiki. Ini akan menanamkan harapan pada anak bahwa gangguan dalam hubungan dapat diperbaiki.

Kemampuan memperbaiki hubungan ini kelak akan sangat dibutuhkan anak saat dewasa. Saat ia berkonflik dengan teman, kerabat, teman kantor atau pasangan kelak. Melakukan perbaikan hubungan ini begitu penting bagi kesehatan psikologisnya.

Sumber: WebMD

5 dari 6 halaman

Kecerdasan Emosi Lebih Menentukan Masa Depan Anak, Mengapa?

Dream - Standar akademik saat ini tentunya sudah jauh berbeda dari lima atau 10 tahun lalu. Anak-anak usia sekolah dasar (SD) kini sudah sangat andal dengan teknologi, menggunakan tablet dan komputer dan mengusai bahasa asing.

Hal ini membuat persaingan mereka di dunia kerja nantinya juga akan semakin sengit. Kondisi tersebut membuat para orangtua berlomba untuk memberi pendidikan terbaik untuk anak-anaknya. Kemampuan akademik anak digenjot secara maksimal.

Kecerdasan intelektual (IQ) dianggap jadi modal yang sangat penting bagi masa depan anak, juga dalam menentukan gengsi. Benarkah demikian? Ternyata menurut Daniel Goleman, seorang psikolog asal Kanada, mengungkap kalau IQ (Intelligence Quotient) hanya membentuk 20 persen dari faktor-faktor yang menentukan kesuksesan hidup.

" Kekuatan lain seperti kecerdasan emosi (EQ), kekayaan, temperamen, tingkat pendidikan keluarga, dan keseimbangan berperan lebih besar. Itu berarti keterampilan kognitif memang akan membantu secara akademis, tapi harus dilengkapi dengan keterampilan sosial-emosional seperti motivasi, ketekunan, kontrol impuls, dan kemampuan untuk menundan kepuasan," ujar Goleman, dikutip dari Todays Parent.

 

6 dari 6 halaman

Prediktor Masa Depan

Goleman, jadi salah satu orang pertama yang meningkatkan kesadaran tentang pentingnya EQ, Sejak bukunya Emotional Intelligence, dirilis pada 1995, studi demi studi telah membuktikan pentingnya EQ. Bahwa kecerdasan emosional memprediksi kesuksesan masa depan dalam hubungan, kesehatan dan kualitas hidup.

" Telah terbukti bahwa anak-anak dengan EQ tinggi mendapatkan nilai yang lebih baik, lebih lama bersekolah, dan membuat pilihan yang lebih sehat secara keseluruhan," ungkap Goleman.

Memiliki kecerdasan emosional yang tinggi adalah prediktor yang lebih baik untuk kesuksesan karier daripada memiliki IQ tinggi. Oleh para pencari kerja EQ lebih dihargai. Industri lebih mencari kandidat yang dapat menyelesaikan pekerjaan dan bergaul dengan orang-orang di tempat kerja agar semakin kolaboratif.

 

Join Dream.co.id