4 Fakta Hubungan Ibu dan Anak Lelakinya, Bikin Baper

Ibu Dan Anak | Kamis, 9 September 2021 08:03

Reporter : Mutia Nugraheni

Seperti apa faktanya? Yuk simak.

Dream - Ikatan antara orangtua dan anak merupakan hal yang sangat spesial. Ada kalanya menjauh, namun ketika keduanya dalam keadaan tidak baik bisa saling merasakan dan menguatkan.

Tahukah Sahabat Dream hubungan ibu dan anak lelakinya begitu istimewa. Ikatan ibu yang juga tumbuh dengan anak laki-lakinya akan semakin kuat.

Seperti apa faktanya? Yuk simak.

1. Jadi contoh memperlakukan wanita saat ia tumbuh dewasa
Saat dia tumbuh bersama ibu yang dekat dengannya, maka anak lelaki akan belajar bagaimana memperlakukan wanita. Anak lelaki akan belajar bahwa dia tidak ingin menyakiti wanita yang dekat dengannya dalam hidup. Ia ingin menjadi seseorang yang bisa melindungi bukan seseorang yang menyakiti.

2. Kasih sayang ibu membimbing ke kesuksesan
Semakin ibu merawat dan mengasuh anak lelakinya, keduanya akan semakin berkembang. Membiarkannya mengekspresikan diri sambil mendukungnya dengan benar akan memunculkan sisi dalam diri anak yang mungkin tidak akan pernah dilihat. Ibu akan selalu mendorong anaknya untuk mencapai hal terbaiknya.

 

4 Fakta Hubungan Ibu dan Anak Lelakinya, Bikin Baper
Ibu Dan Anak Lelaki/ Shutterstock
2 dari 7 halaman

Emosi dan Ekspresi

3. Ibu membantu kecerdasan emosional
Semakin banyak ibu mengajari putranya untuk mengekspresikan emosinya dengan benar, dia akan menjadi semakin cerdas secara emosional. Jika ibu memaksanya untuk menutupi kondisi emosi ini akan sangat tidak baik bagi perkembangan emosinya.

Untuk itu penting bagi para ibu untuk melatih anak lelakinya tak ragu memperlihatkan emosi dengan baik. Seperti menangis, memeluk, mengucapkan rasa sayang dan ungkapan emosi lain secara secukupnya. Tidak berlebihan apalagi sampai harus menekannya. Ingat, tiap orang memiliki emosi masing-masing.

4. Semakin banyak waktu yang dihabiskan bersama ibu, semakin baik anak dalam mengekspresikan diri
Ketika anak menghabiskan waktu bersama ibu, maka memahami bahwa tidak apa-apa memiliki perasaan dan mengekspresikan emosi adalah normal. Ibu mengajari anak bahwa jika mengekspresikan diri dengan cara yang benar, anak dapat menunjukkan kepada dunia siapa dirinya sebenarnya. Hal itu merupakan prestasi yang luar biasa.

Sumber: Awarenessact

3 dari 7 halaman

Kecerdasan Emosi Anak Lelaki yang Penting Diajarkan Ayah

Dream - Perbedaan sikap orangtua pada anak lelaki dan perempuan akan sangat berpengaruh pada kecerdasan emosinya. Anak lelaki dan perempuan kerap diajari untuk berkomunikasi secara berbeda dari wanita.

Bila anak perempuan didorong untuk membicarakan emosi mereka dan diberi alat untuk melakukannya, pada anak laki-laki cenderung didorong untuk menutup emosi mereka. Tanpa disadari, hal ini memengaruhi kehidupan anak laki-laki. Mereka jadi tidak mampu mengatasi emosinya, mengalami kecemasan, stres, dan kemampuannya menjalani hubungan pribadi secara jangka panjang.

" Penelitian sebenarnya menunjukkan bahwa anak perempuan dan anak laki-laki memiliki cara yang sangat berbeda dalam berkomunikasi dengan orang tua,” kata Dr. Gaile Dines, Presiden dan CEO Culture Reframed, dan Profesor Emeritus Sosiologi dan Studi Wanita Wheelock College, Boston, dikutip dari Fatherly.

Kecerdasan emosi adalah kemampuan seseorang untuk mengenali emosi, memberi label dengan benar, dan menggunakan informasi emosional untuk memengaruhi pikiran dan tindakan.

 

4 dari 7 halaman

Pembicaraan Lebih Terbuka Saat Tak Ada Kontak Mata

Menurut Dines, penting bagi anak lelaki untuk dibimbing oleh ayahnya terkait kecerdasan emosi. Saat ayah berbicara dengan anak laki-laki, hal itu cenderung lebih tentang olahraga atau aktivitas dan hanya sedikit tentang kosakata emosional.

Jadi, bagaimana ayah membangun kecerdasan emosi dengan anak lelakinya?

" Apapun yang tidak ada kontak mata. Bersepeda. Berada di dalam mobil. Aktivitas apa pun yang tidak melihat mata secara langsung. Sebenarnya anak laki-laki lebih baik berbicara ketika tidak ada kontak mata," ujar Dines.

 

5 dari 7 halaman

Menjadi Contoh

Ada juga jenis pertanyaan yang diajukan seperti pertanyaan terbuka yang tidak memerlukan ya atau tidak. Tanyakan saja dengan lembut yang membutuhkan keterlibatan verbal.

" Jadi bukan 'apa harimu menyenangkan di sekolah?' tapi 'di sekolah ada yang bikin kesal gak?', pertanyaan yang memancing anak menceritakan perasaanya," kata Dines.

Orangtua memainkan peran yang sangat penting dalam membantu anak-anak mengembangkan kosa kata emosi dan memberi tahu anak laki-laki bahwa berbicara tentang memiliki emosi sangat normal dan bisa membicarakannya. Hal itu juga merupakan cara yang sehat.

" Ingat, bukan hanya menyuruh anak untuk memiliki emosi yang baik, tapi menjadi contoh. Anak akan melihat emosi ayah saat menghadapi ibunya, dirinya dan orang-orang di sekitarnya," ujar Dines.

6 dari 7 halaman

Perubahan Pria Menjadi Ayah Seperti Tahap Pubertas

Dream - Hadirnya anak ke dunia memang sangat mengubah kepribadian para orangtua. Bukan hanya ibu, tapi juga ayah secara psikologis. Saat seorang pria menjadi ayah, level testosteronnya menurun, oksitosin meningkat, dan siklus tidurnya pun bergeser.

Itu hanya permulaan. Semua perubahan ini dapat menyebabkan pergeseran kepribadian, peningkatan kesabaran dan empati, kerentanan, dan kesedihan. Depresi pascapartum bagi para ayah adalah pengalaman yang umum. Begitu pula dengan kematangan emosional, dan kelembutan dari seorang pria.

Menjadi seorang ayah adalah metamorfosis. Ketika pria menjadi ayah, mereka memasuki fase kehidupan baru, yang sangat berbeda dari yang terakhir.

" Seolah-olah mereka mencapai pubertas untuk kedua kalinya. Ada perubahan hormonal. Begitu juga dengan perubahan emosional. Masyarakat juga memandang secara berbeda. Ayah dan remaja baru memiliki banyak kesamaan," kata Shane Owens, Ph.D, seorang psikolog, seperti dikutip dari Fatherly.

 

7 dari 7 halaman

Pengaruhi Tingkat Kedewasaan

Shane mengungkap kalau dirinya mendapati beberapa pria mengalami pergolakan total saat menjadi seorang ayah. Ini seperti pubertas kedua.

" Perubahan paling besar yang dapat saya pikirkan adalah perasaan bahwa alam semesta jauh lebih besar dan di luar kendali daripada yang kita kira," kata Owens.

Beberapa ayah mengungkap kalau mengalami tingkat kematangan emosional yang paling baik justru bukan saat anak pertamanya lahir. Justru kedewasaan muncul setelah lahirnya anak ketiga.

Peran ayah memang dapat memengaruhi tingkat kedewasaan, penelitian menunjukkan bahwa menjadi ayah yang baru menyebabkan perubahan fisiologis pada pria, meskipun mereka tidak menyadarinya.

Setelah menjadi ayah, kadar testosteron ayah menurun, penulis studi tahun 2016 menemukan. Sebuah tinjauan yang diterbitkan tahun lalu menyelidiki bagaimana penurunan testosteron ini dari sudut pandang evolusi. Pria dengan testosteron rendah cenderung kurang agresif dan lebih tertarik untuk bersarang (berumah tangga dengan baik) daripada berburu pasangan.

Join Dream.co.id