Virus Covid-19 yang Bermutasi Lebih Rentan Menginfeksi Anak

Do It Yourself | Selasa, 5 Januari 2021 10:02
Virus Covid-19 yang Bermutasi Lebih Rentan Menginfeksi Anak

Reporter : Mutia Nugraheni

Tim peneliti Inggris terus menyelidiki karakteristik mutasi virus yang baru.

Dream - Varian virus Covid-19 yang disebut B.1.1.7 menimbulkan kepanikan yang luar biasa. Terutama di Inggris dan Eropa, tempat pertama kali mutasi virus ini ditemukan.

Para ahli menduga bahwa anak-anak lebih rentan terhadap B.1.1.7. Serikat pengajar Inggris meminta sekolah untuk tutup selama dua minggu sejak 4 Januari 2020. Para ahli virus terus menyelidiki karakteristik virus yang bermutasi ini.

Mengapa variannya lebih menular? Anthony Fauci, direktur Institut Nasional AS untuk Alergi dan Penyakit Menular, mengatakan pada hari Selasa bahwa varian Inggris kemungkinan telah menyebar ke AS.

Informasi lebih lanjut diharapkan dalam beberapa minggu mendatang, tetapi tidak bisa diperkirakan bahwa B.1.1.7 lebih atau kurang mematikan daripada virus aslinya.

" Normal bagi virus untuk bermutasi, dan sudah ada puluhan ribu mutasi virus korona. Varian baru, bagaimanapun, secara signifikan mengubah virus, berpotensi mengubah perilakunya. Misalnya, B.1.1.7 memiliki perubahan pada protein lonjakan - bagian dari virus yang digunakan untuk menginfeksi sel - yang berarti virus tersebut lebih mudah masuk ke dalam sel," ujar Fauci, dikutip dari Bussines Insider.

Apakah anak-anak lebih rentan terhadap varian baru? Rupanya ada kecenderungan demikian, hal ini disampaikan oleh Profesor Neil Ferguson, ahli epidemiologi penyakit menular di Imperial College London.

" Ada petunjuk bahwa virus ini memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk menginfeksi anak-anak," kata Profesor Ferguson.

Alasan perbedaan bisa jadi karena fakta bahwa reseptor ACE-2 tubuh, tempat virus mengikat, sedikit berbeda pada anak-anak dan orang dewasa. Ferguson mengatakan ada laporan tentang varian tersebut di sekolah-sekolah wilayah Inggris yang sekarang di bawah lock down yang paling ketat.

2 dari 6 halaman

Ini Bahayanya Nekat Liburan Bawa Anak-anak Saat Pandemi Covid-19

Dream - Liburan akhir tahun 2020 berbarengan dengan libur semester sekolah. Sayangnya, kali ini suasana liburan tak seperti biasanya. Cenderung penuh rasa khawatir, kehati-hatian yang ekstra.

Tentu saja karena virus Covid-19 yang bisa menjangkiti siapa saja, termasuk anak-anak. Banyak orang yang akhirnya memutuskan tidak berlibur dan tetap di rumah saja demi melindungi diri dan keluarga.

Bagaimana jika tetap ingin liburan di masa pandemi dan membawa anak-anak? Tentu harus tahu risikonya.

" Kalau tetap memaksakan berlibur bersama anak, apalagi lokasi berliburnya pindah-pindah tempat dan ke area ramai, bisa dibilang itu adalah tindakan yang egois," ujar dr. Arina Heidyana, dikutip dari KlikDokter.com

Menurutnya, pada anak-anak Covid-19 memang sebagian besar hanya menimbulkan gejala ringan atau tanpa gejala sama sekali. Meski demikian, anak bisa menularkan ke orang lain dan bagi yang memiliki komorbid akan sangat mematikan.

“ Kalau alasannya karena anaknya bosan di rumah, orangtua harus cari cara agar suasana rumah tidak membosankan. Ada banyak edukasi menyenangkan selain liburan saat pandemi yang bisa dilakukan di rumah,” kata dr. Arina.

 

3 dari 6 halaman

Menularkan dan Bisa Jadi Berbahaya

Anak-anak di bawah 12 tahun memang tidak diwajibkan melakukan tes Covid-19 sebagai syarat perjalanan ke luar kota. Padahal, bukan tak mungkin si anak menjadi super spreader alias pihak yang dapat menyebarkan virus corona dengan cepat ke orang lain.

Dilansir Pandemic Talks, Ketua Satgas COVID-19, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Yogi Prawira, SpA(K) mengatakan, 1 dari 10 orang yang terinfeksi adalah anak atau orang di bawah 18 tahun.

Sebanyak 2 persen kasus COVID-19 anak di Indonesia mengalami gejala berat hingga kritis. Melengkapi penjelasan, dr. Reza Fahlevi, Sp. A., mengatakan tentang risiko anak untuk mengalami multisystem inflammatory syndrome in children (MISC) akibat infeksi virus corona.

“ Jadi, virus corona yang menyerang anak bisa menyebabkan MISC. Artinya, multisistem atau keterlibatan peradangannya itu tak hanya pada pernapasan, tetapi pada organ lain juga. Mulai dari sistem saraf, menimbulkan kejang, gangguan kesadaran, dan lain-lain,” ujar dr Reza.

Risiko tertular akan sangat tinggi jika liburan membawa anak-anak. Selengkapnya baca di sini.

4 dari 6 halaman

Ribuan Anak Dites Covid-19, Ini Gejala yang Paling Sering Muncul

Dream - Demam dan sesak napas, jadi gejala Covid-19 yang sangat menyiksa pada pasien dewasa. Kondisi semakin parah jika yang terjangkit memiliki penyakit bawaan seperti diabetes, darah tinggi dan asma.

Bagaimana gejala covid-19 pada anak, apa yang paling sering muncul? Sebuah penelitian dilakukan tim dari University of Alberta, Kanada dengan melakukan tes Covid-19 pada ribuan anak.

Hasilnya, sakit perut, anosmia (kehilangan kemampuan untuk mencium aroma dan merasa), demam dan sakit kepala adalah gejala yang paling memprediksi hasil tes positif. Fakta lainnya yang cukup mencengangkan adalah sepertiga dari anak-anak dan remaja yang diketahui positif Covid-19 tidak menunjukkan gejala.

" Lebih dari sepertiga pasien anak-anak yang dites positif terinfeksi SARS-CoV-2 tidak menunjukkan gejala, mengidentifikasi anak-anak yang kemungkinan terinfeksi merupakan tantangan. Memang, proporsi infeksi SARS-CoV-2 tanpa gejala pada anak-anak adalah mungkin jauh lebih tinggi daripada yang telah kami laporkan, mengingat kemungkinan bahwa banyak yang tidak hadir untuk pengujian," dr. Finlay McAlister, dari University of Alberta, dikutip dari WebMD.

5 dari 6 halaman

Anosmia

Batuk dan pilek juga sering muncul pada anak yang terinfeksi Covid-19. Para peneliti mengatakan keluhan yang sama itu umum di antara anak-anak yang dites negatif dan tidak dapat dianggap sebagai tanda-tanda infeksi COVID-19.

Penelitian dilakukan pada lebih dari 2.400 anak di provinsi Alberta, Kanada, yang dites virus Covid-19 antara 13 April dan 30 September 2020. Gejala covid-19 yang paling sering muncul pada anak adalah kehilangan kemampuan membau /merasa (anosmia), ini tujuh kali lebih tinggi pada anak-anak dengan Covid-19.

Untuk gejala sakit perut lima kali lebih mungkin, dan sakit kepala dua kali lebih mungkin. Semantara gejala demam 68% lebih mungkin terjadi pada anak-anak dengan hasil tes positif Covid-19.

 

6 dari 6 halaman

Cenderung Tanpa Gejala

Pada anak-anak yang kehilangan penciuman/ rasa, juga mengeluhkan sakit kepala dan sakit perut, kemungkinan hasil tes positifnya 65 kali lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak dan remaja tanpa gejala-gejala tersebut.

“ Mengingat tingginya proporsi anak-anak dengan SARS-CoV-2 yang tetap asimtomatik (tanpa gejala), tidak mungkin strategi skrining gejala apa pun akan mencegah setiap anak dengan infeksi SARS-CoV-2 untuk memasuki sekolah," dr. Nisha Thampi, seorang dokter spesialis anak di Rumah Sakit Anak Ontario.

Oleh karena itu, langkah-langkah kesehatan dan keselamatan berbasis sekolah di luar skrining seperti jarak fisik, kebersihan tangan, peningkatan ventilasi dan belajar di luar ruangan - memainkan peran penting dalam mencegah penyebaran infeksi. Sekolah-sekolah di Kanada sudah mulai dibuka sejak September 2020 setelah dilaporkan nol kematian karena Covid-19.

Join Dream.co.id