Trik Merencanakan Kehamilan Setelah Keguguran

Do It Yourself | Minggu, 5 Agustus 2018 10:32
{IMAGE_NORMAL}

Reporter : Mutia Nugraheni

Bukan hanya menyiapkan kondisi fisik tapi juga psikis.

Dream - Mengalami keguguran merupakan hal yang cukup traumatis. Bukan hanya menimbulkan kesakitan secara fisik tapi juga psikologis. Terutama, pada pasangan suami istri yang sudah cukup lama mendamba keturunan.

Pada ibu yang mengalami keguguran memang sebaiknya menjalani proses pemulihan dulu sebelum kembali menjalani program kehamilan. Saat tubuh sudah pulih dan kondisi mental pun membaik, baru merencanakan kembali kehamilan.

Sebelumnya, berkonsultasilah dulu dengan dokter kandungan. Bisa meminta diagnosisnya mengapa keguguran bisa terjadi kehamilan sebelumnya. Hal ini penting sebagai evaluasi dan mencari langkah pencegahan.

" Keguguran bisa terjadi banyak faktor. Jika di dalam tubuh ibu terdapat infeksi yang bisa memicu keguguran, maka tunggu hingga infeksi sembuh baru rencanakan kehamilan. Bisa juga karena kondisi kekentalan darah dan hal itu harus dianalisis oleh dokter subspesialis. Berkonsultasilah secara lebih intensif," ujar Alice Domar, PhD, asisten profesor Obstetrics, Gynecology, and Reproductive Biology di Harvard Medical School.

Penting untuk menyiapkan kembali kondisi fisik, seperti berhenti merokok, berolahraga dan mengonsumsi asupan kaya gizi baik pada calon ibu maupun calon ayah. Hal yang tak kalah penting adalah menjaga kesehatan mental.

" Hindari stres, tidur cukup dan atasi dulu trauma yang muncul setelah keguguran sebelumnya. Kondisi psikis akan sangat berpengaruh secara keseluruhan," ujar Domar.

Ia juga menyarankan untuk pasangan kembali menjalani bulan madu. Hal ini untuk membuat rileks dan menyehatkan psikis. Selamat mencoba!

Sumber: Parents

 

{IMAGE_PAGING}
2 dari 4 halaman

Persiapan Penting Saat Rencanakan Kehamilan di Usia 30

Dream - Kehamilan bisa terjadi karena banyak faktor dan umur ibu selalu jadi pertimbangan penting saat merencanakan kehamilan. Untuk mereka yang menikah di usia 20an, kehamilan mungkin bisa terjadi lebih mudah jika tak memiliki isu fertilitas.

Untuk para perempuan yang baru menikah di usia 30an atau baru mulai merencanakan kehamilan, usaha yang dilakukan memang harus lebih keras dan intensif. Terutama pada mereka yang sudah berusia 32 tahun.

Ada sedikit penurunan dalam kesuburan seorang perempuan pada usia 32, tetapi penurunan ini meningkat lebih tajam setelah usia 37. Perempuan paling subur di usia 20-an, tetapi tren saat ini yang kita lihat menunjukkan lebih banyak yang menunggu sampai usia 30-an, untuk memiliki bayi.

Dalam merencakan kehamilan di usia 30, pemeriksaan yang dilakukan sebelum kehamilan memang sebaiknya dilakukan secara detail. Pastikan ayah dan ibu dalam kondisi sehat dan fit agar menghasilkan janin yang berkualitas.

Tak ada salahnya berkonsultasi terlebih dulu untuk melakukan pemeriksaan. Terutama jika usia ibu sudah memasuki 35 tahun. Faktanya, sekitar sepertiga perempuan di atas 35 mencari bantuan spesialis kesuburan untuk bisa hamil dan jumlah itu meningkat seiring bertambahnya usia.

Setelah kondisi kesehatan dan kesuburan diketahui, mulailah untuk menerapkan gaya hidup lebih sehat. Konsumsi lebih banyak makanan kaya lemak sehat seperti ikan laut, telur, alpukat, dan kacang-kacangan. Olahraga teratur juga penting baik untuk calon ataupun ayah.

Hentikan kebiasaan merokok sejak merencanakan kehamilan. Hal ini untuk meminimalisir risiko zat racun yang bisa menghambat kehamilan atau memicu cacat janin. Penting bagi ibu untuk menjaga vitalitas tubuh.

Jika kehamilan terjadi, kondisinya akan sangat jauh berbeda saat hamil di usia 20an. Kekuatan tubuh tak seperti ketika usia 20an, jadi penting untuk berolahraga lebih teratur demi melatih tubuh.

Saat hamil di usia 30, pemeriksaan juga sebaiknya dilakukan lebih intensif. Berkonsultasilah dengan dokter secara detail agar kehamilan berjalan baik. Hal ini demi kesehatan dan keselamatan ibu serta bayi saat kehamilan hingga persalinan.

Sumber: Verywell

 

3 dari 4 halaman

Waktu Paling Tepat Mengonsumsi Suplemen Kehamilan

Dream - Asupan nutrisi saat hamil harus diperhatikan secara cermat. Hal ini demi menjaga stamina ibu dan mendukung perkembangan serta pertumbuhan janin secara maksimal.

Makanan yang dikonsumsi sehari-hari seringkali tak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi ibu hamil. Untuk itu, ibu perlu mengonsumsi suplemen atau vitamin tambahan secara rutin.

Banyak yang mengira suplemen kehamilan sebaiknya dikonsumsi di usia awal kehamilan. Rupanya, hal tersebut tak sepenuhnya benar. Jauh lebih baik jika suplemen tertentu dikonsumsi sebelum kehamilan terjadi atau ketika kehamilan masih direncanakan.

" Tiga bulan sebelum berusaha hamil, sebaiknya konsumsi vitamin. Sel telur akan mulai proses pematangan tiga bulan sebelum siap dibuahi, sangat penting untuk mengonsumsi suplemen agar sel telur yang dibuahi memiliki kualitas yang baik," ujar Robert Greene, seorang dokter kandungan.

Banyak ibu yang mengandalkan resep dokter untuk mengonsumsi vitamin kehamilan. Namun jika belum sempat memeriksakan diri, dan hasil testpack positif, segeralah konsumsi suplemen tambahan.

" Neural tube defects yaitu cacat bawaan pada otak, tulang belakang, atau sumsum tulang belakang cenderung terjadi pada bulan pertama kehamilan, salah satu mencegahnya dengan mengonsumsi nutri secara optimal. Jangan menunggu resep dokter jika sudah tahu tengah berbadan dua untuk mengonsumsi asam folat tambahan," ungkap Greene.

Ada tiga suplemen dan vitamin tambahan yang sangat penting dikonsumsi ibu hamil. Yaitu asam folat, zat besi dan kalsium. Asam folat untuk mencegah cacat bawaan dan membantu perkembangan otak bayi.

Sementara suplemen zat besi untuk membantu asupan oksigen dari ibu ke bayi lebih lancar dan mencegah ibu mengalami anemia. Suplemen kalsium sangat dibutuhkan untuk pembentukan tulang bayi dan mencegah keropos tulang pada ibu di kemudian hari.

 

4 dari 4 halaman

Usia Kehamilan Ini Risiko Kegugurannya Paling Tinggi

Dream - Keguguran jadi hal yang paling dikhawatirkan para ibu yang sedang mengandung. Berbagai cara pasti dilakukan untuk mempertahankan janin. Terutama pada kehamilan pertama di mana ibu belum mengetahui secara detail terkait kondisi janin dan kesehatannya.

Risiko keguguran bisa terjadi di usia kehamilan berapa pun. Namun menurut Helain Landy, seorang dokter spesialis kandungan yang juga ketua Departemen Obstetri dan Ginekologi di Georgetown University Hospital, AS, risiko keguguran paling tinggi pada usia 0 hingga 20 minggu.

" Lebih dari 80 persen keguguran, terjadi pada trimester pertama kehamilan. Kadang-kadang, terjadi pada awal dalam kehamilan, bahkan saat ibu belum tahu kalau sedang mengandung," ujar Landy.

Kabar baiknya adalah risiko keguguran akan menurun pada akhir trimester pertama. Jadi, setelah usia kandungan mencapai 14 minggu, risiko keguguran menurun drastis.

Pastikan untuk menjalani USG trimester pertama secara rutin untuk memastikan bahwa janin dalam ukuran yang sesuai dan memiliki detak jantung. Dengan mengetahui masalah pada kehamilan lebih awal, risiko keguguran juga akan menurun.

" Banyak perempuan yang pernah mengalami keguguran bisa hamil lagi dan melahirkan bayi yang sehat. Tapi pastikan melakukan pemeriksaan rutin selama kehamilan. Terutama jika terjadi keguguran berulang," ungkap Landy.

Kesempatan hamil lagi pada ibu yang pernah mengalami keguguran hampir sama dengan ibu lain yang belum pernah keguguran. Tapi penting dicatat, risiko keguguran akan semakin meningkat seiiring pertambahan usia ibu.

Pemeriksaan menyeluruh seperti masalah rahim, ketidakseimbangan hormon, atau kondisi medis kronis juga baru dilakukan dokter ketika terjadi keguguran berulang. Misalnya jika seorang ibu sudah mengalami dua atau tiga kali keguguran.

Sumber: Parents

 

Join Dream.co.id