Tekanan Darah Tinggi Setelah Persalinan Bisa Picu Kejang Pada Ibu

Do It Yourself | Senin, 26 Oktober 2020 14:03

Reporter : Mutia Nugraheni

Bukan hanya terjadi pada ibu saat hamil, tapi juga bisa muncul setelah melahirkan.

Dream - Setelah melahirkan perhatian banyak orang tertuju pada bayi yang begitu menggemaskan. Ibu pun lebih fokus mengurus bayi daripada dirinya sendiri. Padahal setelah melahirkan, ibu juga butuh perawatan intensif dan pemeriksaan rutin.

Mengapa? Ada banyak kondisi yang bisa berbahaya bagi ibu pasca melahirkan. Salah satunya preeklamsia atau tekanan darah tinggi pasca melahirkan. Hal ini bisa terjadi ketika ibu memiliki kelebihan protein dalam urine.

Preeklamsia juga kondisi serupa yang terjadi selama kehamilan dan biasanya sembuh dengan kelahiran bayi. Sebagian besar kasus preeklamsia terjadi dalam waktu 48 jam setelah melahirkan.

Pada beberapa kasus, kadang preeklamsia pascamelahirkan terjadi hingga enam minggu atau lebih setelah melahirkan. Ini dikenal sebagai preeklamsia pascamelahirkan tingkat lanjut/ late postpartum preeclampsia.

 

 

Tekanan Darah Tinggi Setelah Persalinan Bisa Picu Kejang Pada Ibu
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
2 dari 8 halaman

Kejang Tak Boleh Dianggap Sepele

Preeklamsia pascapartum membutuhkan pengobatan yang tepat. Jika tidak diobati, preeklamsia pascapartum dapat menyebabkan kejang dan komplikasi serius lainnya. Saat tekanan darah begitu tinggi, ibu bisa mengalami kejang yang bisa berdampak buruk pada kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Kejang yang muncul berulang jika tak ditangani segara bisa merusak organ vital secara permanen, termasuk otak, mata, hati, dan ginjal. Lalu apa gejalanya jika ibu mengalami preeklamsia setelah melahirkan?

 

3 dari 8 halaman

Segera Konsultasi

Gejala yang muncul antara lain tekanan darah tinggi (hipertensi) - 140/90 milimeter merkuri (mm Hg) atau lebih. Ibu mengalami sakit kepala yang sangat menyiksa, perubahan penglihatan, termasuk kehilangan penglihatan sementara, penglihatan kabur atau sensitivitas cahaya.

Gejala lainnya adalah sakit perut bagian atas, biasanya di bawah tulang rusuk di sisi kanan lalu berkurangnya buang air kecil. Bila ibu mengalami gejala tersebut jangan tunda untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

Terutama jika muncul kejang. Bisa berkonsultasi dengan dokter kandungan dan dokter syaraf. Perawatan pasca persalinan harus diperhatikan, kesehatan ibu jadi taruhannya.

Sumber: MayoClinic

4 dari 8 halaman

Hindari Makan Tauge Mentah Saat Hamil, Ini Sebabnya

Dream - Masakan Indonesia kerap menggunakan tauge mentah sebagai campuran bahan. Seperti pada soto, rawon, karedok, gado-gado dan beberapa menu tradisional lainnya. Rasa tauge mentah memang lebih segar memiliki kekhasan tekstur yang garing.

Sayangnya, bagi ibu hamil mengonsumsi tauge mentah sebaiknya tak dilakukan. Mengapa? Sayuran mentah seperti tauge, meskipun sudah dicuci dengan air bersih yang mengalir, cenderung mengandung banyak bakteri.

Antara lain bakteri Listeria, Salmonella, dan E. coli yang dapat berpindah ke dalam biji kecambah melalui celah pada cangkang. Begitu ada di dalam benih, bakteri tumbuh dalam kondisi lembap dan hangat. Bakteri ini bisa memicu kondisai yang sangat berisiko bagi ibu hamil.

Dikutip dari KlikDokter, listeriosis dapat menyebabkan bayi lahir mati (stillbirth), keguguran, infeksi berbahaya, dan kelahiran prematur pada bayi baru lahir. Sementara, Salmonella dan E. coli dapat menyebabkan penyakit yang juga bisa berakibat fatal.

 

5 dari 8 halaman

Masak Sampai Matang

" Semua sayuran mentah, termasuk tauge mentah, tidak boleh dikonsumsi saat hamil. Meski sudah dicuci bersih, tidak menutup kemungkinan masih ada bakteri yang menempel, misalnya E.coli. Jadi, kalau menginfeksi ibu, malah bisa membuatnya mual, muntah, dan diare," ungkap dr. Devia Irine Putri.

Jika ibu hamil sangat suka makan tauge, maka pastikan memasaknya dengan benar untuk menurunkan risiko penyakit. Memasak tauge dengan api kecil tidak akan membantu. Karena, api kecil tidak akan menghasilkan panas yang cukup untuk membunuh bakteri.

" Ibu hamil boleh makan tauge, asalkan dicuci bersih dan dimasak sampai matang. Bisa juga dikombinasikan dengan sayuran atau bahan makanan lainnya, misalnya ikan, tahu, atau daging," ujar dr. Devia Irine.

Penjelasan selengkapnya baca di sini.

6 dari 8 halaman

Malas Gerak Saat Hamil, Bisa Muncul Risiko Ini

Dream - Pada ibu hamil, sederet keluhan biasanya muncul. Sulit tidur saat malam hari sehingga keesokan harinya sangat mengantuk dan tubuh menjadi lemas tak bergairah. Hal ini membuat ibu lebih memilih untuk istirahat di kamar atau sofa.

Aktivitas fisik seperti olahraga jadi jarang dilakukan atau tak pernah sama sekali. Padahal, olahraga sangat dibutuhkan ibu hamil untuk menjaga kondisi fisik dan mental ibu tetap baik.

Tak perlu olahraga berat. Cukup jalan kaki, yoga dengan video di internet atau hal lain yang menyenangkan. Saat kondisi tubuh dalam keadaan baik, sebaiknya lakukan sedikit olahraga.

Jika ibu hamil malas bergerak, ada beberapa risiko kesehatan yang mengintai. Apa saja?

1. Berat Badan Ibu dan Bayi Bertambah
“ Biasanya orang yang aktif bergerak, berat badannya (BB) ideal. Ibu hamil memang akan naik berat badannya. Tapi, jika naik berlebihan, juga tidak sehat,” jelas dr. Sara, dikutip dari KlikDokter.

Tidak hanya ibu, berat badan janin pun bisa ikut berlebihan. Hal ini diakui oleh studi dari International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity.
Menurut penelitian tersebut, ibu hamil yang kurang gerak rentan memiliki bayi makrosomia atau lahir dengan berat badan besar. Risiko bayi makrosomia dapat menyebabkan ibu mengalami perdarahan atau robek vagina saat bersalin.

 

7 dari 8 halaman

2. Depresi

Sebuah penelitian dari jurnal Medicina tahun 2019 mengatakan kondisi kurang gerak pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko depresi. Penelitian tersebut menyimpulkan, wanita yang aktif secara fisik berisiko lebih rendah mengalami depresi dibandingkan wanita yang kurang gerak.

Sebab, aktivitas fisik dapat menurunkan kadar kecemasan, stres, serta meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Jika ditelisik lebih jauh, beraktivitas fisik dapat memicu tubuh mengeluarkan hormon endorfin, dopamin, dan adrenalin.

Hormon tersebut merupakan bahan kimia di otak yang menyebabkan perasaan bahagia dan percaya diri. Selain itu, perasaan cemas dan stres yang bisa memicu depresi juga bisa dihindari ketika hormon tersebut muncul.

 

8 dari 8 halaman

3. Diabetes Gestasional

Studi dari Warwick Medical School menjelaskan, wanita hamil yang depresi dan kegiatannya hanya duduk, kira-kira selama enam jam sehari, berisiko mengalami diabetes gestasional.

Dalam kondisi normal, karbohidrat dari makanan yang masuk ke dalam tubuh akan dipecah menjadi glukosa (gula darah). Glukosa membutuhkan insulin agar bisa diolah menjadi energi.

Sayangnya, saat hamil, tubuh ibu mengalami beberapa perubahan hormonal. Perubahan terjadi ketika sistem kerja hormon insulin menjadi kacau saat mengontrol glukosa. 
Jika kondisi ini ditambah dengan kebiasan ibu yang jarang bergerak dan punya berat badan berlebih, risiko diabetes gestasional pun tak dapat dihindari.

Selengkapnya baca di sini.

Join Dream.co.id