Tahap Persalinan Cepat Tak Selalu Baik, Ada Risikonya

Do It Yourself | Rabu, 2 September 2020 14:03

Reporter : Mutia Nugraheni

Banyak yang menganggap melahirkan dengan cepat merupakan hal baik, padahal sebaliknya. Sangat berisiko.

Dream - Mungkin Sahabat Dream pernah mendengar cerita persalinan seorang ibu yang sangat cepat. Mulai dari kontraksi muncul hingga bayi keluar hanya memakan waktu kurang dari 3 atau 5 jam.

Banyak yang beranggapan kalau persalinan cepat dianggap hal baik. Bayi cepat keluar dan ibu tak lama-lama mengalami kontraksi. Kondisi persalinan cepat dalam istilah medis disebut partus presipitatus/ precipitous labor.

Partus presipitatus juga disebut persalinan cepat, merupakan persalinan yang terjadi setelah munculnya kontraksi kurang dari 3 jam. Tahap persalinan yang sangat cepat ini memiliki risiko.

Persalinan umumnya dibagi menjadi tiga tahap. Dikutip dari Verywell, tahapan pertama adalah persalinan dini dan persalinan aktif. Dalam tahapan ini bisa berlangsung berjam-jam atau berhari-hari.

 

Tahap Persalinan Cepat Tak Selalu Baik, Ada Risikonya
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
2 dari 7 halaman

Normalnya 6 Hingga 18 Jam

Dalam tahapan ini, serviks mulai membesar mengalami hilangnya sumbat lendir (juga disebut tampilan berdarah), dan Anda merasakan beberapa kontraksi, meskipun belum sepenuhnya teratur.

Persalinan aktif adalah ketika kontraksi datang secara teratur dan menjadi lebih kuat dan lebih lama, dan serviks berkembang menjadi pelebaran 10 sentimeter. Tahap 2 adalah saat bayi lahir, dan Tahap 3 adalah persalinan plasenta.

Rata-rata, persalinan aktif hingga kelahiran plasenta memakan waktu sekitar 6 hingga 18 jam, itulah sebabnya persalinan cepat sangat berisiko. Ada beberapa faktor yang berperan dalam potensi persalinan cepat.

Biasanya, persalinan cepat terjadi pada ibu yang masih sangat muda, bayi yang memiliki berat badan lahir rendah, dan ibu yang mengalami gangguan hipertensi (seperti preeklamsia).

 

3 dari 7 halaman

Risiko yang Muncul

Persalinan cepat bisa memunculkan sederet dampak negatif. Antara lain, meningkatnya risiko robekan atau robekan pada vagina dan / atau serviks, adanya perdarahan yang lebih hebat.

Risiko tertular penyakit pada bayi atau ibu jika persalinan berlangsung bukan di area yang steril. Jadi, persalinan cepat bukan berarti tanpa risiko. Bagi ibu yang mengalami persalinan secara cepat, sangat berisiko mengalaminya lagi di persalinan selanjutnya, untuk itu harus segera berkonsultasi intensif dengan dokter kandungan.

 

4 dari 7 halaman

Perubahan yang Terjadi Pada Tubuh Ibu 24 Jam Setelah Melahirkan

Dream - Persalinan jadi momen yang paling ditunggu para ibu. Buah hati yang dinanti, akhirnya lahir ke dunia dan berada dalam dekapan. Banyak ibu yang tak menyadari setelah melahirkan, perubahan pada tubuh bakal terjadi secara drastis.

Rasa tak nyaman, nyeri, perasaan yang campur aduk bakal muncul dan membuat ibu terkaget bahkan mengalami stres hingga depresi. Persiapan sangat dibutuhkan ibu jelang persalinan.

Bukan hanya menyiapkan kebutuhan bayi tapi juga kebutuhan ibu. Termasuk menyiapkan diri mengalami perubahan berikut selama 24 jam pasca persalinan. Minta dukungan suami, karena melewati masa 24 jam setelah melahirkan tidaklah mudah.

Perubahan apa saja yang bakal dihadapi?

Perut masih buncit dan bergelambir
Bayi dan plasenta sudah keluar tak lantas membuat perut ibu langsung kempes dan ramping. Jika sebelumnya saat hamil perut kencang, maka setelah melahirkan perut tetap membuncit tapi bergelambir. Hal ini memang sangat tidak nyaman. Kulit masih merenggang, meski bayi sudah keluar. Untuk membuat ibu lebih nyaman, sangat direkomendasikan mengunakan korset berbahan lembut.

 

5 dari 7 halaman

Keringat mengucur dan buang air kecil lebih sering

Segera setelah melahirkan, berat akan menurun 4,5 hingga 5 kg, ini meliputi gabungan berat bayi, plasenta, dan cairan ketuban. Tetapi ibu masih akan membawa kelebihan berat badan dalam 24 jam pertama, yang sebagian besar adalah air. Setelah operasi caesar ibu mungkin akan mengalami pembengkakan ekstra di seluruh tubuh sebagai akibat dari cairan IV.

Kelebihan air dalam tubuh ibu selama 24 jam akan dikeluarkan melalui urine dan keringat. Jangan kaget jika ibu terus-menerus berkeringat dan buang air kecil lebih sering.

 

6 dari 7 halaman

Nifas/ pendarahan

Setelah persalinan pervaginam atau operasi caesar, ibu akan mengalami masa nifas dan mengeluarkan lokia dari vagina, yang terdiri dari sisa darah, lendir, dan jaringan yang mengelupas dari lapisan rahim. Bagi banyak wanita, pendarahan cukup berat dalam tiga sampai 10 hari pertama pascapersalinan, tetapi ini normal dan akan berkurang selama beberapa minggu berikutnya.

 

7 dari 7 halaman

Kram panggul

Jangan mengira ibu tak akan mengalami kram dan kontraksi lagi setelah melahirkan. Kontraksi di area panggul dan perut masih akan terjadi terutama ketika menyusui. Ini merupakan tanda kalau rahim sedang kembali ke bentuk semula.

Menyusui jadi salah satu pemicu kontraksi rahim setelah melahirkan agar kembali pada ukuran normal. Merupakan sistem alami tubuh yang kerap memicu rasa nyeri, tak nyaman hingga sulit tidur pada ibu. Kontraksi ini bisa terjadi hingga 6 minggu.

Rasa sakit di area intim

Setelah melahirkan, butuh waktu lama untuk tubuh demi pemulihan. Jika melahirkan pervaginam (normal) perineum (area antara rektum dan vagina) akan meregang, bengkak, memar, dan mungkin robek. Beberapa ibu juga harus dijahit oleh dokter bidan di area tersebut, sehingga muncul rasa nyeri luar biasa di area intim.

Akan sangat sulit buang air kecil dan air besar selama 24 jam pasca persalinan. Demi mengurangi rasa nyeri, ibu biasanya diberikan obat pereda agar bisa istirahat dengan lebih nyaman.

Sumber: What to Expect

Join Dream.co.id