Ketahui Risiko Kehamilan Berdasarkan Rentang Usia Ibu

Do It Yourself | Kamis, 19 September 2019 10:04

Reporter : Tantiya Nimas Nuraini

Usia berapa sih yang tepat untuk hamil. Yuk simak informasinya berikut ini.

Dream – Usia memang jadi faktor yang sangat penting dalam kondisi kesehatan tubuh. Terutama para calon ibu yang sedang menjalani program kehamilan.

Tak dipungkiri, seiring bertambahnya usia, kemungkinan hamil akan semakin kecil. Belum lagi risiko kesehatan yang bakal muncul.

Sistem reproduksi, secara hukum alam, bakal mengalami penurunan fungsi ketika usia bertambah. Risiko komplikasi kehamilan bakal lebih besar.

Beberapa diantaranya adalah tekanan darah tinggi, preeklampsia, kondisi Down Syndrome pada janin hingga masalah. Meskipun ada juga yang hamil di usia 40an tapi kondisi ibu dan janin sangat sehat.

Kehamilan memang sebaiknya terjadi di usia 20an hingga 30an. Hal ini karena kondisi tubuh perempuan sedang sangat fit dan mampu hamil dengan sehat.

Untuk mengetahui risiko kehamilan yang bakal muncul di usia-usia tertentu, berikut informasinya.

 

Ketahui Risiko Kehamilan Berdasarkan Rentang Usia Ibu
Pixabay.com
2 dari 7 halaman

Risiko Kehamilan di Usia 20-25 Tahun

Pada rentan usia 20-25 tahun, kesuburan wanita berada pada tingkat maksimum. Menurut para peneliti, semakin muda usia ibu saat hamil pertama maka semakin rendah pula risiko yang akan diterimanya. Namun, usia aman untuk kehamilan tetap di atas 20 tahun.

Salah satu keuntungan hamil di usia muda adalah akan memiliki stretch mark lebih sedikit daripada wanita yang hamil di usia tua.

Walaupun muncul stretch mark, maka akan secara cepat menghilang dengan sendirinya. Pasalnya, kulit wanita di usia muda memiliki tingkat elastisitas yang lebih besar daripada kulit wanita yang sudah berumur.

Meskipun keuntungan yang banyak sekali, hamil pada rentan usia ini tetap memiliki beberapa risiko. Pada usia 20-25 tahun, akan sangat memungkinkan timbulnya sedikit komplikasi seperti misalnya hipertensi atau diabetes gestasional.

3 dari 7 halaman

Risiko Kehamilan di Usia 26-34 Tahun

Kesuburan seorang wanita akan mulai memburuk ketika memasuki usia 30 tahun. Terdapat sebuah penelitian yang menunjukkan jika tingkat infertilitas wanita cenderung akan naik menjadi 15% seletah memasuki usia 30 tahun.

Padahal, tingkat infertilitas wanita di usia 26 hingga 29 tahun hanya sebesar  9%. Saat ini, banyak sekali ditemukan seorang wanita yang memilih menunda memiliki anak hanya untuk melanjutkan karir mereka.

Sebuah penelitian juga mengungkap bahwa kehamilan di rentang usia 30-34 tahun cenderung menjalankan proses persalinan secara operasi Caesar. Tidak hanya dapat menimbulkan dampak buruk bagi sang ibu, sang bayi juga akan memiliki risiko seperti terkena kelainan Down Syndrome atau jenis kelainan kromosom lainnya.

4 dari 7 halaman

Risiko Kehamilan di Usia 35-40 Tahun

Pada rentang usia 35-40 tahun, wanita akan semakin sulit untuk bisa mengandung. Kesuburan wanita juga akan mulai turun secara tiba-tiba pada saat memasuki usia 38 tahun.

Jika terjadi kehamilan, kemungkinan besar tidak akan mudah dan muncul banyak keluhan. Kehamilan di rentang usia ini,  ibu akan memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipertensi serta diabetes gestasional.

Tidak berhenti di situ, berat badan juga akan sulit dikontrol. Efek dari berat badan yang berlebih sulit dikontrol adalah komplikasi saat persalinan, bahakn setelah persalinan. 

Pada janin juga akan lebih berisiko terkena kelainan kromoson jika ibu hamil di rentang usia 35 hingga 40 tahun.

Rasio tingkat keguguran juga akan meningkat menjadi 1 : 4. Tingkat kelainan kromosom juga mengalami meningkatan hingga menjadi 1 : 100. 

5 dari 7 halaman

Risiko Kehamilan di Atas Usia 40 Tahun

Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan, terungkap setidaknya sekitar 1/3 wanita berusia di atas 40 tahun akan bermasalah dengan ketidaksuburan atau infertilitas.

Setelah usia 40, berat badan yang dimiliki secara bertahap akan menurunkan sistem metabolisme di dalam tubuh. Pada usia ini ibu juga akan mengalami kesulitan dalam memulihkan diri setelah melahirkan nantinya.

Tidak hanya itu saja, risiko terkena penyakit diabetes gestasional juga meningkat sebanyak 3-6 kali lipat dibanding dengan kehamilan di usia 20an. Kemungkinan mengalami keguguran juga di kehamilan usia ini meningkat hingga 50%. Janin juga akan memiliki risiko terkena kelainan kromosom bahkan hingga berkali-kali lipat. (mut)
 
(Sumber: Boldsky)

6 dari 7 halaman

Hamil Melewati 41 Minggu, Waspada Kondisi Ini

Dream - Masalah kehamilan sangat beragam dan komplesk. Salah satu yang membuat banyak ibu khawatir adalah ketika tak ada tanda-tanda persalinan, padahal usia kehamilan sudah memasuki 41 minggu.

Secara umum, lamanya masa kehamilan adalah 37 sampai 41 minggu. Ada juga sejumlah literatur yang merujuk hingga 42 minggu. Jika sudah lebih dari 41 minggu, maka akan disebut hamil posterm.

Hamil posterm adalah kehamilan lewat bulan yang sudah melebihi 41 minggu. Dilansir dari buku " 9 Bulan Menjalani Kehamilan dan Persalinan yang Sehat" , perhitungan waktu kelahiran ini didasarkan pada hari pertama menstruasi (HPM) terakhir tapi tidak selalu tepat HPM, bisa jadi maju 2 sampai 3 minggu atau mundur maksimal 2 minggu.

Untuk batas waktu 2 hingga 3 minggu tersebut masih dalam tahap normal. Ada beberapa hal penting yang perlu diketahui bila kehamilan sudah lebih dari 9 bulan.

1. Plasenta Mulai Mengalami Pengapuran

Dokter akan memeriksa kondisi plasenta. Pada hamil posterm, terkadang plasenta sudah mengalami pengapuran. Fungsinya sebagai pengantar sari makanan dan suplai oksigen ke bayi juga bisa semakin menurun. Baik tidaknya kondisi bayi bisa dilihat dari kondisi plasentanya.

7 dari 7 halaman

2. Air Ketuban Mulai Berkurang

Seiring mundurnya hari perkiraan lahir, air ketuban akan mulai berkurang. Warnanya pun akan makin keruh. Kondisi ketuban yang semakin sedikit dan keruh ini bisa memengaruhi proses persalinan kelak. Bila air ketuban yang keruh tersebut tertelan oleh bayi dalam proses persalinan, maka risikonya bisa cukup berbahaya.

3. Janin Mengalami Pertumbuhan Berat Badan

Bayi yang lewat dari hari perkiraan lahirnya akan mengalami pertumbuhan berat badan. Tak jarang bayi akan lahir dengan berat badan yang besar pada kasus kehamilan yang sudah jauh melebihi hari perkiraan lahirnya.

4. Bayi Kekurangan Suplai Nutrisi dan Oksigen

Kondisi ini berkaitan dengan kondisi plasenta yang mengalami pengapuran dan air ketuban yang makin berkurang. Suplai nutrisi dan oksigen pada bayi bisa makin berkurang. Deposit kalsium juga bisa terjadi pada bayi karena tidak tercukupnya nutrisi dengan baik.

Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan USG untuk memastikan kondisi bayi dan perlu tidaknya melakukan tindakan untuk persalinan. Pemeriksaan lebih intensif harus dilakukan demi menjamin kondisi kesehatan ibu dan janin.

Laporan: Endah Wijayanti/ Sumber: Fimela.com

Join Dream.co.id