Ribuan Anak Dites Covid-19, Ini Gejala yang Paling Sering Muncul

Do It Yourself | Rabu, 2 Desember 2020 14:03
Ribuan Anak Dites Covid-19, Ini Gejala yang Paling Sering Muncul

Reporter : Mutia Nugraheni

Tes dilakukan pada 2.400 anak di Kanada. Berikut hasilnya.

Dream - Demam dan sesak napas, jadi gejala Covid-19 yang sangat menyiksa pada pasien dewasa. Kondisi semakin parah jika yang terjangkit memiliki penyakit bawaan seperti diabetes, darah tinggi dan asma.

Bagaimana gejala covid-19 pada anak, apa yang paling sering muncul? Sebuah penelitian dilakukan tim dari University of Alberta, Kanada dengan melakukan tes Covid-19 pada ribuan anak.

Hasilnya, sakit perut, anosmia (kehilangan kemampuan untuk mencium aroma dan merasa), demam dan sakit kepala adalah gejala yang paling memprediksi hasil tes positif. Fakta lainnya yang cukup mencengangkan adalah sepertiga dari anak-anak dan remaja yang diketahui positif Covid-19 tidak menunjukkan gejala.

" Lebih dari sepertiga pasien anak-anak yang dites positif terinfeksi SARS-CoV-2 tidak menunjukkan gejala, mengidentifikasi anak-anak yang kemungkinan terinfeksi merupakan tantangan. Memang, proporsi infeksi SARS-CoV-2 tanpa gejala pada anak-anak adalah mungkin jauh lebih tinggi daripada yang telah kami laporkan, mengingat kemungkinan bahwa banyak yang tidak hadir untuk pengujian," dr. Finlay McAlister, dari University of Alberta, dikutip dari WebMD.

2 dari 7 halaman

Anosmia

Batuk dan pilek juga sering muncul pada anak yang terinfeksi Covid-19. Para peneliti mengatakan keluhan yang sama itu umum di antara anak-anak yang dites negatif dan tidak dapat dianggap sebagai tanda-tanda infeksi COVID-19.

Penelitian dilakukan pada lebih dari 2.400 anak di provinsi Alberta, Kanada, yang dites virus Covid-19 antara 13 April dan 30 September 2020. Gejala covid-19 yang paling sering muncul pada anak adalah kehilangan kemampuan membau /merasa (anosmia), ini tujuh kali lebih tinggi pada anak-anak dengan Covid-19.

Untuk gejala sakit perut lima kali lebih mungkin, dan sakit kepala dua kali lebih mungkin. Semantara gejala demam 68% lebih mungkin terjadi pada anak-anak dengan hasil tes positif Covid-19.

 

3 dari 7 halaman

Cenderung Tanpa Gejala

Pada anak-anak yang kehilangan penciuman/ rasa, juga mengeluhkan sakit kepala dan sakit perut, kemungkinan hasil tes positifnya 65 kali lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak dan remaja tanpa gejala-gejala tersebut.

“ Mengingat tingginya proporsi anak-anak dengan SARS-CoV-2 yang tetap asimtomatik (tanpa gejala), tidak mungkin strategi skrining gejala apa pun akan mencegah setiap anak dengan infeksi SARS-CoV-2 untuk memasuki sekolah," dr. Nisha Thampi, seorang dokter spesialis anak di Rumah Sakit Anak Ontario.

Oleh karena itu, langkah-langkah kesehatan dan keselamatan berbasis sekolah di luar skrining seperti jarak fisik, kebersihan tangan, peningkatan ventilasi dan belajar di luar ruangan - memainkan peran penting dalam mencegah penyebaran infeksi. Sekolah-sekolah di Kanada sudah mulai dibuka sejak September 2020 setelah dilaporkan nol kematian karena Covid-19.

4 dari 7 halaman

Ibu Hamil yang Positif Covid-19 Harus Ditangani Tim Dokter

Dream - Sistem kekebalan tubuh ibu hamil cenderung lemah, hal ini membuat mereka lebih rentan tertular virus Covid-19. Dibutuhkan kedisiplinan diri serta keluarga di rumah dalam menjaga kesehatan ibu hamil agar tak tertular virus tersebut.

Pasalnya, ibu hamil yang terkena Covid-19 berisiko mengalami keguguran. Terutama di trimester pertama kehamilan mulai di usia kehamilan di bawah 12 minggu. Lalu bagaimana jika hasil pemeriksaan ibu hamil ternyata positif Covid-19?

Ibu hamil bisa melakukan konsultasi lewat telemedicine, dan kondisi kesehatannya harus dipantai secara intensif. Gejala yang muncul pun harus diperhatikan.

" Laporkan kondisi tubuh secara jujur kepada petugas medis dan dokter. Dilihat dari gejala lebih dulu, jika tak bergejala bisa isolasi mandiri dan melakukan telemedicine," ujar dr. Merwin Tjahjadi, Sp.OG yang berpraktik di RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, dalam webinar yang digelar RSPI 25 November 2020.

 

 

5 dari 7 halaman

Dirawat oleh Tim Dokter

Pada ibu hamil pasien Covid-19 yang bergejala sedang dan berat, akan dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Dalam melakukan pemantauan, ibu hamil tak hanya diperiksa oleh dokter kandungan, tapi juga tim dokter.

" Dokter kandungan tidak bisa merawat pasien (ibu hamil) sendiri, harus berbarengan dengan tim dokter Covid yang terdiri dari dokter paru, dokter ahli infeksi dan juga dokter kandungan untuk memastikan keadaan janin," ujar dr. Mervin.

Seperti juga pasien Covid-19, ibu hamil harus menjalani perawatan isolasi dan tak boleh dikunjungi keluarga atau kerabat demi mencegah penularan. Bila ibu sudah masuk dalam tahap persalinan, maka protokol kesehatan harus dilakukan dengan ketat oleh tim medis.

Persalinan dilakukan di ruangan bertekanan negatif. Seluruh tim medis, juga harus menggunakan APD lengkap. Kuncinya adalah disiplin dengan protokol kesehatan demi mencegah penularan.

" Pengalaman, ada beberapa pasien yang positif pada saat mau melahirkan. Saya rasa selama kita menerapkan protokol, APD lengkap, tidak ada yang sulit merawat pasien covid, yang terpenting adalah kesiapan rumah sakit dengan protokol kesehatan," kata dr. Mervin.

 

6 dari 7 halaman

Muncul Gejala Covid-19, Bolehkah Ibu Menyusui?

Dream - Bayi berhak mendapatkan air susu ibu (ASI) apapun kondisinya. Termasuk jika ibu sedang mengalami gejala atau sudah positif Covid-19. Bagi ibu yang sedang menyusui dan masih banyak beraktivitas di luar rumah, sederet protokol kesehatan ketat harus dilakukan.

Sesampainya di rumah, segera mandi dan ganti baju. Cuci tangan dengan sabun, baru memegang bayi dan menyusui. Hal ini sangat penting, jangan sampai bayi tertular virus dari ibu.

Penting diketahui, sampai Oktober 2020, virus SARS-COV2 belum ditemukan terdeteksi pada ASI. Para peneliti terus-menerus melakukan penelitian dan melakukan telaah lebih lanjut terhadap ibu hamil dan menyusui yang terkonfimasi Covid-19.

" Namun demikian, penularan virus penyebab sakit pernapasan melalui ASI tergolong rendah, sehingga WHO (World Health Organization) tetap memberikan rekomendasi bagi ibu yang terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) maupun COVID-19 untuk tetap menyusui," ujar dr. Meutia Ayuputeri Kumaheri, M.Res, IBCLC, CIMI, konsultan laktasi dari Rumah Sakit Pondok Indah, Bintaro Jaya.

 

 

7 dari 7 halaman

Lakukan Panduan Ini

Seorang ibu yang positif Covid-19 atau yang dicurigai terinfeksi Covid-19 dalam isolasi mandiri, menurut dr. Meutia, dapat menyusui. Tentu saja harus menerapkan langkah-langkah pencegahan penularan demi menjamin keamanan bayi dari penularan penyakit. Berikut panduannya:

- Cuci tangan sebelum bersentuhan dengan bayi, peralatan pompa, dan peralatan minum bayi
- Ikuti semua petunjuk cara membersihkan peralatan pompa dan minum bayi
- Gunakan masker wajah saat menyusui bayi
- Ganti masker apabila lembab atau basah
- Segera buang masker sekali pakai setelah tidak digunakan
- Saat memakai dan membuka masker, hindari memegang wajah bagian depan
- Apabila ibu harus dalam perawatan terpisah dengan bayi, cari informasi terkait donor ASI atau orang sehat yang dapat memberikan ASI perah kepada bayi
- Orang sehat yang merawat dan memberikan ASI perah kepada bayi juga harus menjalankan protokol kesehatan yang sama dengan ibu
- Bersihkan area permukaan perabotan di rumah dengan cairan pembersih secara berkala
- Ibu tidak perlu membersihkan kulit payudara secara teratur sebelum menyusui atau perah ASI. Namun demikian, apabila ibu batuk atau bersin mengenai kulit payudara, ibu dapat segera mandi dan membersihkan area kulit payudara dengan sabun dan air mengalir selama 20 detik, sebelum menyusui
- Apabila ibu merasakan gejala-gejala COVID-19 seperti demam, sakit kepala, batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan lainnya, segera konsultasikan ke dokter
- Apabila ibu mengalami keraguan, dapat berkonsultasi dengan tenaga profesional yang dapat membimbing menyusui dalam kondisi COVID-19
- Pilih fasilitas kesehatan untuk konsultasi dokter atau konsultasi laktasi yang menjalankan protokol kesehatan yang ketat

" Langkah-langkah di atas tak hanya dapat diterapkan pada ibu yang dicurigai atau positif Covid-19, tapi juga untuk semua ibu menyusui yang sehat. Protokol kesehatan yang ketat memang sangat penting diberlakukan di masa pandemi sekarang ini," ujar dr Meutia.

Apabila ibu menyusui menemukan kesulitan dalam kegiatan menyusui, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan konselor atau konsultan laktasi. Segera datang ke fasilitas klinik laktasi dan konsultan menyusui, seperti di RS Pondok Indah Group.

Join Dream.co.id