Profesor Kebidanan Ungkap Posisi Melahirkan Telentang Seperti 'Siksaan'

Do It Yourself | Rabu, 26 Juni 2019 14:04

Reporter : Mutia Nugraheni

Jadi bagaimana posisi yang tidak menyiksa?

Dream - Kondisi berbaring dengan telentang jadi posisi umum ibu saat melahirkan secara normal. Saat kontraksi muncul, ibu lalu diminta sedikit mengangkat punggung dengan sedikit duduk dan memegang betis.

Hal tersebut menurut banyak praktisi kebidanan bakal mempermudah bayi keluar. Rupanya hal ini tak sepenuhnya tepat. Bahkan menurut Hannah Dahlen, seorang profesor kebidanan, meminta ibu berbaring saat melahirkan sama seperti menyiksanya.

" Wanita dipaksa melahirkan dengan punggung berbaring dan ini seperti siksaan dengan rasa sakit yang tak tertahankan," katanya.

Profesor Kebidanan Ungkap Posisi Melahirkan Telentang Seperti 'Siksaan'
Ibu Melahirkan (Foto: Shutterstock)
2 dari 6 halaman

Coba posisi alami

Profesor Dahlen dari Western Sydney University mengatakan secara fisiologis posisi paling alami bagi wanita untuk melahirkan adalah bersandar ke depan atau forward. Yaitu bertumpu pada tangan dan lutut. Namun, lebih dari 90% wanita masih melahirkan dengan berbaring telentang.

Profesor Dahlen dan timnya melakukan penelitian mengamati wanita yang melahirkan di rumah, pusat persalinan dan di rumah sakit. Mereka mempelajari setiap gerakan ibu selama persalinan.

" Sangat jelas bahwa wanita yang melahirkan di rumah atau di pusat-pusat kelahiran bergerak terus-menerus dan akan condong ke depan ketika kontraksi. Secara naluriah akan akan mbersandar pada tangan mereka dan lutut," ungkap Dahlen, dikutip dari KidSpot.

3 dari 6 halaman

Temukan posisi yang membuat nyaman

Presiden Royal Australian College of Obstetricians, Profesor Steve Robson, mengamini Profesor Dahlen. Meski ia tak mau menggunakan terminologi 'siksaan'. Menurutnya persalinan dengan posisi berbaring sebaiknya dihindari.

" Bobot bayi di dalam rahim dapat menghalangi suplai darah sehingga ada alasan fisiologis yang baik untuk menghindarinya. Saya pikir ini sepenuhnya tentang apa yang nyaman bagi ibu. Penting membiarkan ibu untuk mendapatkan posisi yang paling nyaman baginya," kata Robson.

4 dari 6 halaman

Lihat Posisi yang Direkomendasikan

Ia pun menyarankan bagi para tim medis, agar membiarkan ibu mencari posisi yang paling nyaman saat bersalin untuknya. Dengan begitu, trauma rasa sakit persalinan bisa diminimalisir.

 Melahirkan
© Melahirkan

 

5 dari 6 halaman

Sentuhan Pasangan Bisa Kurangi Rasa Sakit Saat Melahirkan

Dream - Merasakan tangan orang yang Sahabat Dream cintai lalu menggenggamnya akan membanjiri perasaan dengan rasa damai. Ini seperti meyakinkan tentang cinta dan perhatian mereka.

Bukan hanya menciptakan rasa tenang dan nyaman, bahkan juga bisa mengurangi level rasa sakit, bahkan saat persalinan. Hal ini terungkap dalam penelitian yang dilakukan tim dari University of Colorado, Amerika Serikat.

Diketahui bahwa sentuhan memiliki kekuatan untuk bertindak sebagai analgesik (atau penghilang rasa sakit). " Penelitian ini menggambarkan kekuatan dan pentingnya sentuhan manusia," tulis Pavel Goldstein, peneliti utama seperti dikutip dari KidSpot.

Goldstein terinspirasi melakukan penelitian ini dengan melihat pengalaman pribadinya. Saat itu sang istri yang sedang melahirkan mengalami rasa sakit yang luar biasa. Denga memegang tangan Goldstein, sang istri mengungkap bisa mengurangi rasa sakit dan membuatnya lebih tenang.

Penelitian pun dilanjutkan dengan menganalisis 22 pasangan, berusia 22 hingga 32 tahun, dan memeriksa bagaimana otak mereka merespons sentuhan saat mengalami rasa sakit.

Hasilnya, cukup mengejutkan. Bagian otak yang biasanya aktif saat mengalami rasa sakit, cenderung menurun saat melakukan sentuhan. Cara ini menurut Goldstein, bisa dipraktikkan para suami saat menemani istri tercintanya menjalani persalinan.

 

6 dari 6 halaman

Masalah Jantung Bisa Dialami Ibu Setelah Melahirkan

Dream - Setelah melahirkan, ibu akan dibanjiri dengan emosi yang membuncah. Perasaan juga menjadi penuh cinta dan rasa ingin melindungi yang begitu besar. Tak hanya itu, sebenarnya ada risiko lain yang juga dihadapi para ibu, yaitu masalah jantung.

Selama atau setelah kehamilan, seorang ibu dapat mengalami perubahan jantung atau suatu kondisi yang disebut kardiomiopati peripartum. Hal ini membuat otot jantung jadi melemah.

Kondisi kardiomiopati peripartum, membuat jantung tidak memompa sekeras yang seharusnya. Efeknya adalah penumpukan cairan karena darah tidak diedarkan dengan benar. Penumpukan ini dapat menyebabkan cairan di paru-paru, yang menyebabkan sesak napas, dan dapat menyebabkan pembengkakan di kaki.

Meskipun kardiomiopati peripartum jarang terjadi, tetapi ada perempuan yang memiliki risiko lebih tinggi terkena kardiomiopati peripartum. " Faktor-faktor risiko makin tinggi jika hamil kembar atau hamil di usia tua," kata Lili Barouch, seorang ahli jantung, spesialis kardiomiopati Universitas Johns Hopkins.

Apa saja gejalanya? Kesulitan bernapas dan pembengkakan kaki adalah gejala utama. Beberapa ibu juga mengalami irama jantung yang tidak normal, kelelahan dan jantung berdebar.

Gejala-gejala tersebut memang kerap terjadi saat hamil. Untuk membedakan apakah itu hanya keluhan saat hamil atau keluhan jantung adalah dengan memperhatikan tingkat keparahannya.

" Jika napas sangat pendek, batuk parah saat berbaring, bengkak ekstrem, atau sangat lelah, maka ini adalah tanda-tanda potensial bahwa ibu mungkin mengalami kondisi kardiomiopati peripartum," kata Barouch, seperti dikutip dari Todays Parent.

Meskipun gejala ringan, jika khawatir, Barouch menyarankan untuk berkonsultasi dengan bidan atau dokter. Terutama jika kehamilan pertama.

Kardiomiopati peripartum biasanya terjadi dari satu bulan sebelum sampai lima bulan setelah melahirkan. Barouch mengungkap konsisi tersebut paling sering muncul setelah melahirkan.

 

Join Dream.co.id