Permainan Seru yang Bisa Tingkatkan Intelektualitas Si Kecil

Do It Yourself | Rabu, 17 Februari 2021 14:03
Permainan Seru yang Bisa Tingkatkan Intelektualitas Si Kecil

Reporter : Mutia Nugraheni

Jangan pandang sebelah mata saat si kecil memainkan permainan berikut.

Dream - Hanya di rumah saja karena pandemi Covid-19 selama berbulan-bulan pastinya membuat anak jenuh dan bosan. Hanya permainan-permainan simpel rumah yang bisa jadi hiburannya.

Sebenarnya, permainan di rumah bukan hanya bisa menyenangkan anak tapi juga membantu menstimulasi intelektualitasnya. Sering tak disadari orangtua kalau anak-anak belajar banyak hal melalui bermain.

Seperti tipe-tipe permainan berikut yang ternyata mengajarkan banyak hal, termasuk menstimulasi aspek intelektualitasnya. Apa saja?

1. Dokter-dokteran
Permainan pura-pura atau permainan fantasi bisa menjadi alat yang hebat untuk perkembangan otak serta perkembangan sosial dan kognitif. Ini dapat membantu dengan keterampilan sosial dan bahasa anak, meningkatkan imajinasi mereka, dan memperluas pengetahuan mereka tentang seperti apa dunia itu.

Berpura-pura menjadi dokter adalah salah satu dari banyak permainan peran yang dapat dimainkan anak-anak kita, dan memastikan boneka atau mainan favorit mereka sehat dapat membantu membuat mereka lebih berempati ketika mereka lebih besar.

Manfaat lain dari permainan pura-pura termasuk pengembangan kreativitas dan imajinasi, harga diri yang lebih baik, empati, kemampuan berpikir, keterampilan sosial, kesehatan mental yang baik serta keterampilan bahasa dan komunikasi

 

2 dari 5 halaman

2. Tebak-tebakan

Permainan tebak-tebakan membantu anak-anak mengembangkan pemikiran logis, dan mengajarkan keterampilan deskriptif. Misalnya menebak pofesi, makanan, minuman atau yang mereka mengerti.

Dengan permainan ini anak akan belajar bergiliran, mengikuti aturan, dan sportivitas. Permainan juga dapat mengajari anak cara membedakan warna, mengidentifikasi hal yang berlawanan, seperti " mulut besar" dan " mulut kecil" , mengajarkan juga keterampilan deskriptif, seperti mendeskripsikan fitur wajah dan rambut. Termasuk meningkatkan artikulasi serta mengembangkan pemikiran logis

 

3 dari 5 halaman

3. Bermain make up

Bermain dengan riasan terbukti sangat penting untuk harga diri anak bertahun-tahun kemudian. Bermain dengan riasan dapat berkontribusi pada pertumbuhan kepercayaan diri karena anak akan merasa dilibatkan dalam apa yang ibu lakukan.

Bersenang-senang dalam suatu aktivitas dengan orang favoritnya, mendapatkan banyak perhatian, dan mendapatkan pujian atas pekerjaan yang dilakukan dengan baik, berdampak positif bagi psikologis anak.

Sumber: Brightside

4 dari 5 halaman

'Nintendoitis', Cedera Otot Anak Saat Terlalu Banyak Main Games

Dream - Orangtua mungkin sudah sangat kebingungan untuk meredakan kebosanan anak-anak mereka. Nyaris satu tahun, pandemi belum kunjung berakhir dan anak-anak tetap diminta hanya di rumah saja. Tidak ke sekolah, bermain dan berkumpul-kumpul dengan temannya.

Jika biasanya mereka bermain sepeda, bola, berlarian di taman bermain, kini rumah jadi satu-satunya tempat paling aman. Tak bisa melakukan banyak aktivitas, gadget dan video games jadi andalan bagi anak sebagai sumber hiburan.

Hal ini memunculkan risiko yang kemudian dikenal dengan istilah " nintendoitis"  dan " playstation thumb" . Apa maksudnya? Permainan konsol seperti PS dan nintendo memang mengasyikkan tapi jika dilakukan berlebihan bisa menimbulkan cedera otot terutama pada anak-anak.

Dari penelitian, sebanyak 91 persen anak-anak berusia antara 2 hingga 17 tahun saat ini bermain video game - meningkat 13 persen dari tahun 2009. Satu penelitian terbaru terhadap 171 anak usia 7 hingga 12 menemukan bahwa 12 persen dari mereka mengalami nyeri jari dan 10 persen menderita nyeri pergelangan tangan.

 

5 dari 5 halaman

Beri Durasi Maksimal

Fakta lainnya, semakin kecil usia anak bermain game konsol, mereka juga semakin rentan terhadap rasa sakit. Penelitian ini dilakukan oleh dr. Yusuf Yazici, seorang ahli reumatologi di Rumah Sakit Universitas New York dan timnya. Ia mencurigai hal ini ada hubungannya dengan fakta bahwa otot dan tendon anak masih dalam tahap perkembangan.

“ Semakin kecil anak, semakin banyak rasa sakit yang mereka alami, terlepas dari berapa lama mereka bermain setiap hari,” ujar Yazici dikutip dari Fatherly.

Bermain video game dalam waktu lama dapat menyebabkan cedera stres yang berulang, seperti carpal tunnel syndrome atau tendonitis. Termasuk duduk dalam satu posisi selama berjam-jam menekan tombol berulang-ulang pada pengontrol game dapat menyebabkan nyeri dan peradangan berulang, dan tanpa pengobatan dapat menyebabkan kerusakan permanen.

Peradangan adalah mekanisme pertahanan tubuh sebagai respons terhadap cedera atau penggunaan berulang. Jenis peradangan sendi akut yang terjadi dari " Nintendoitis" , " Playstation Thumb" , dan cedera terkait video game lainnya sangat besar karena serangannya tidak kentara dan dapat tidak terdeteksi sampai kondisinya menjadi lebih parah.

Tanda-tanda peradangan akut akibat cedera antara lain kemerahan, bengkak, nyeri, sulit bergerak, dan panas atau hangat yang berasal dari daerah yang terkena. Untuk itu, pastikan jika anak bermain game konsol, buat durasi maksimal. Jangan sampai lebih dari satu jam, terutama anak di bawah 10 tahun.

Join Dream.co.id