Peringatan Penting Ketua IDAI Jika Anak Kembali Masuk Sekolah

Do It Yourself | Rabu, 5 Mei 2021 16:08
Peringatan Penting Ketua IDAI Jika Anak Kembali Masuk Sekolah

Reporter : Mutia Nugraheni

Banyak orangtua yang masih ragu mengizinkan anak untuk sekolah tatap muka.

Dream - Rencana sekolah kembali dibuka pada tahun ajaran baru mendatang kini tengah disiapkan. Beberapa sekolah untuk mulai melakukan simulasi dengan menerapkan protokol kesehatan.

Anak-anak datang ke sekolah dan yang masuk ke kelas hanya setengah dari jumlah total siswa. Syarat penting sekolah dibuka adalah guru dan tim di sekolah harus sudah divaksinasi Covid-19.

Terkait hal ini, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sudah memberikan rekomendasi untuk menunda pembukaan sekolah. Alasan utamanya adalah ditemukannya new variant of coronavirus sejak Maret 2021, cakupan imunisasi Covid-19 di Indonesia yang belum mencapai target.

Profesor Aman Pulungan, Ketua IDAI, menegaskan jika memang sekolah tatap muka dilakukan, maka ada sejumlah syarat ketat yang harus dipenuhi. Keamanan dan kesehatan anak-anak adalah yang utama.

" IDAI bersedia mengajarkan sekolahnya bagaimana harusnya. Misalnya kalau ada sekolah dalam ruangan di pake HEPA filter, tadi ada orang dari salah satu persatuan orangtua murid tanya sama saya, ternyata sekolahnya luas halamannya, nah buka saja di luar sekolahnya. Ada syarat lain lagi, gurunya semua harus divaksin," ungkap Prof Aman, dalam Live Instagram beberapa waktu lalu bersama dr. Tiwi.

 

2 dari 6 halaman

Pesan Penting Bagi Orangtua

Profesor Aman juga mengungkap kondisi sekolah di Australia dan Singapura yang mulai dibuka saat pandemi. Setelah dibuka, sekolah di Australia muncul 18 kasus positif Covid-19 pada murid dan 9 guru.

" Mereka sekolahnya pakai CCTV. Terpantau tertular dari mana. Sekolah di Indonesia bisa gak? Singapura juga seperti itu, awal sekolah sampai keluar pakai CCTV," ungkap Prof Aman.

Ia juga mensyaratkan jika ada satu kasus positif di sekolah setelah dibuka maka harus dilakukan PCR pada semua yang kontak pada hari itu. Ada langkah prosedur yang harus disiapkan jika terjadi penularan di sekolah. Ada lagi satu pesan yang diingatkan Profesor Aman pada orangtua yang mengirimkan anaknya ke sekolah saat pandemi.

" Bukan hanya cuci tangan, pakai masker. Satu lagi saya titip anak yang mau sekolah, orangtua harus tahu dr, dokter anak yangg harus dihubungi kalau ada apa-apa. UKS (Unit Kesehatan Sekolah) juga harus dibuka, harus lengkap," pesan Prof Aman.

3 dari 6 halaman

Ikatan Dokter Anak Indonesia Tak Rekomendasikan Sekolah Dibuka Juli 2021

Dream - Skenario pembukaan sekolah saat pandemi sudah dibuat sejak beberapa bulan lalu. Pemerintah berencana untuk memulai sekolah tatap muka pada tahun ajaran baru, Juli 2021 mendatang.

Beberapa sekolah di Indonesia juga sudah memulai tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan. Terkait hal ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan rekomendasi melalui surat resmi yang diunggah di situs Idai.or.id. Berikut isinya.

Dalam menyikapi perkembangan terkini terkait pembukaan sekolah pada Juli 2021 telah melakukan kajian berikut:
1. Hak-hak anak berdasarkan Konvensi Anak dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB pada 20 November 1989 dan Keputusan Presiden Indonesia No 36 tahun 1990
2. Perkembangan pandemi Covid-19 secara nasional yang kembali meningkat ( data sebaran dari Satgas Covid-19)
3. Ditemukannya new variant of coronavirus sejak Maret 2021
4. Cakupan imunisasi Covid-19 di Indonesia yang belum mencapai target

Berdasarkan kajian di atas maka IDAI mengimbau sebagai berikut:
1. Melihat situasi dan penyebaran Covid-19 di Indonesia saat sekolah tatap muka belum direkomendasikan
2. Persyaratan untuk dibukanya kembali sekola antara lain terkenalinya transmisi lokal yang dtandain dengan positivity rate <5% dan menurunnya tingkat kematian
3. Jika sekolah tatap muka tetap dimulai maka pihak penyelenggara harus menyiapkan blended learning, anak dan orangtua diberikan kebebasan memilih metode pembelajaran luring atau daring
4. Anak yang belajar secara luring maupun daring harus memiliki hak dan perlakuan yang sama
5. Mengingat prediksi jangka waktu pandemi Covid-19 yang masih belum dapat ditentikan maka guru dan sekolah hendaknya mencari inovasi baru dalam proses belajar mengajar, misalnya memanfaatkan belajar di ruang terbuka seperti di taman, lapangan, atau sekolah di alam terbuka

Rekomendasi selengkapnya baca di sini.

4 dari 6 halaman

Pandemi Covid-19 Bikin Anak Berisiko 'Malnutrisi Sosial'

Dream - Bagi banyak orangtua, salah satu efek dari pandemi Covid-19 yang cukup merisaukan bukan hanya risiko penularan tapi juga soal kesehatan mental anak. Khususnya, karena akses anak bertemu banyak orang untuk belajar bersosialisasi jadi sangat minim.

Anak harus belajar di sekolah, tak ada interaksi dengan teman dan guru secara tatap muka. Memang, masih bisa berkomunikasi melalui teknologi, tapi tak ada yang mampu menggantikan proses belajar dari sentuhan, kontak mata dan pengalaman langsung.

Ontario Medical Association (OMA), Kanada baru saja membahas dampak jangka panjang pandemi pada kesehatan fisik dan mental anak-anak. Salah satu risiko yang muncul karena pandemi pada anak adalah 'malnutrisi sosial'.

" Penghentian dan pembelajaran virtual telah menghilangkan rutinitas dan struktur dari rutinitas anak, dan menyebabkan isolasi sosial. Kami menciptakan istilah malnutrisi sosial," kata Saba Merchant, dokter anak dan pemilik Klinik Maple Kidz di Vaughan, Ontario, dikutip dari Today Parents.

 

5 dari 6 halaman

Kesehatan Mental Anak

Menurut Merchant, isolasi ini telah menyebabkan penurunan kesehatan mental anak, perkembangan sosial dan mental, perkembangan kognitif, dan bahkan perkembangan bahasa sampai batas tertentu.

Risikonya bahkan lebih tinggi pada anak-anak dengan masalah perkembangan saraf yang sudah ada sebelumnya seperti autisme, ADHD dan ketidakmampuan belajar, atau anak-anak dari keluarga yang menghadapi tekanan finansial, penyalahgunaan zat atau riwayat masalah kesehatan mental.

“ Dalam setahun terakhir, saya telah melihat kasus kecemasan, depresi, pikiran untuk bunuh diri, kurang perhatian, obesitas, gangguan makan, obsesi, kompulsif — dan daftarnya terus berlanjut,” kata Merchant.

Ia juga mengungkap bahwa beberapa anak tertinggal secara akademis dan sosial " setidaknya satu tahun" . Meski begitu, dia merasa masalah kesehatan mental akan menjadi hal yang butuh waktu lebih lama untuk sembuh.

 

6 dari 6 halaman

Tanda Kecemasan Anak

Daniel Rosenfield, spesialis pengobatan darurat anak di Rumah Sakit Anak Sakit di Toronto, sependapat. Sebuah laporan oleh Sick Kids Kanada awal tahun ini menemukan sekitar 40 persen anak melaporkan kecemasan.

" Pada tahun lalu, kami melihat peningkatan 25 persen dalam upaya bunuh diri di bagian gawat darurat dan saya tahu rumah sakit lain di seluruh negeri telah melihat hal yang sama," katanya.

Orang tua dan pengasuh perlu menyesuaikan diri dengan tanda peringatan potensial. Perubahan apa pun dalam rutinitas dan perilaku anak akan menjadi tanda bahaya. Tanda-tanda yang harus diperhatikan antara lain perubahan pola tidur, pola makan, suasana hati, atau kurangnya minat pada hobi atau berhubungan dengan teman dalam waktu lama.

Join Dream.co.id