Penting, Pertolongan Pertama Saat Si Kecil Terserang Alergi

Do It Yourself | Senin, 13 Juli 2020 14:03

Reporter : Mutia Nugraheni

Orangtua yang memiliki anak dengan riwayat alergi wajib tahu.

Dream - Reaksi alergi muncul ketika ada pencetusnya. Beberapa anak, terutama yang memiliki gen alergi memang harus lebih waspada. Bagi anak-anak, terutama balita tentunya belum bisa mengerti dan menghindari penyebab alergi.

Dikutip dari KlikDokter, alergi merupakan kondisi sistem imun yang bereaksi terhadap zat asing (alergen) yang masuk ke dalam tubuh, yang disebabkan oleh sesuatu yang dimakan, dihirup, maupun disentuh kulit. Reaksi alergi bisa muncul dengan gejala ringan maupun berat, sehingga krusial untuk memberikan pertolongan pertama untuk mengatasi reaksi alergi si Kecil secara tepat. Jika terlambat atau tidak ditangani dengan benar, justru membahayakan nyawanya.

Alergen yang masuk ke dalam tubuh memang belum tentu zat beracun, yang biasanya berupa makanan, serbuk sari bunga, hingga gigitan serangga. Namun, bagi si Kecil yang memiliki alergi, kondisi ini bisa jadi hal yang bisa mengancam hidupnya.

 

Penting, Pertolongan Pertama Saat Si Kecil Terserang Alergi
Reaksi Alergi Pada Anak (Foto: Shutterstock)
2 dari 7 halaman

Pemicu Alergi

Pemicu alergi tersering antara lain, serbuk sari bunga dan tungau debu, makanan yang mengandung protein seperti kacang, kedelai, ikan, telur, dan produk susu. Termasuk gigitan serangga, misalnya lebah atau tawon. Ada juga obat yang bisa picu alergi, yaitu penisilin

Si Kecil mengalami risiko yang lebih tinggi untuk memiliki alergi jika anggota keluarganya atau orangtua juga mengalami hal yang sama. Tak hanya itu, usia anak-anak juga merupakan rentang usia yang lebih rentan mengalami alergi.

Saat reaksi alergi muncul biasanya muncul tanda seperti rasa kesemutan di mulut, pembengkakan di bibir, lidah, wajah, dan tenggorokan. Bisa juga berupa bentol merah dan gatal di kulit (disebut urtikaria atau biduran).

Muncul gejala pada saluran pernapasan yang ditandai dengan sesak napas hingga bunyi “ ngik-ngik” pada napas. Bagaimana meredakannya?

 

3 dari 7 halaman

Sesak Napas karena Alergi, Berbahaya!

Gejala alergi ada yang bermanifestasi di saluran napas. Jika si Kecil mengalami gejala alergi berat di saluran napas, dapat terjadi penyempitan jalan napas akibat pembengkakan dan produksi lendir yang berlebihan.

Saat jalan napas menyempit dan oksigen sulit untuk masuk, bisa terjadi penurunan kesadaran. Kondisi alergi yang berat ini disebut anafilaksis. Lakukan langkah-langkah pertolongan pertama yang harus dilakukan bila si Kecil (atau anggota keluarga lain) mendadak mengalami anafilaksis, antara lain:

- Instruksikan si kecil atau anggota keluarga lain untuk tetap tenang, dalam posisi berbaring, sementara cari bantuan petugas kesehatan
- Umumnya, anak yang mengalami alergi berat punya riwayat pengobatan dan memiliki simpanan alat suntikl antialergi epinefrin. Jika tersedia, segera suntik
- Bila anak mengalami penurunan kesadaran, periksa denyut nadi arteri karotis yang berada di leher. Apabila masih ditemukan adanya denyut, baringkan ia di tempat yang aman dengan posisi kaki agak ditinggikan. Jangan tunda penyuntikan epinefrin.
- Sekalipun telah mendapat suntikan epinefrin, anak tetap harus dibawa ke instalasi gawat darurat karena gejala bisa saja muncul kembali saat efek obat habis

Penjelasan selengkapnya baca di sini.

4 dari 7 halaman

Tak Perlu Takut Si Kecil Alergi Makanan, Simak Panduannya

Dream- Memberikan menu dari bahan makanan baru untuk anak dapat menjadi suatu aktivitas yang menyenangkan bagi orangtua. Namun, juga dibutuhkan perhatian khusus untuk memastikan makanan tersebut aman dikonsumsi.

Bisa jadi anak mengalami alergi makanan setelah mengonsumsinya. Reaksi alergi pada beberapa anak muncul seringkali tanpa disadari.

Biasanya baru terlihat saat kondisinya sudah parah, atau tampak sercara kasat mata. Tak perlu panik dengan hal ini. Simak panduan memberikan makanan untuk anak agar aman dari serangan reaksi alergi.

5 dari 7 halaman

Mengapa Anak bisa Alergi Makanan?

Alergi adalah salah satu reaksi abnormal sistem imunitas tubuh akibat pemicu/alergen tertentu. Jika terekspos pada pemicu atau alergen tertentu, sistem imun tubuh seseorang menafsirkannya sebagai tanda bahaya.

Otomatis reaksi abnormal ini pun muncul, misalnya hidung meler, mata merah, atau bersin-bersin. Makanan yang 90 persen menyebabkan reaksi alergi adalah susu, telur, kacang tanah, kacang pohon, kerang, ikan, kedelai, dan gandum.

" Alergi makanan terjadi ketika tubuh merespons protein dalam makanan yang secara keliru dianggap berbahaya," kata Katie Marks-Cogan, M.D., salah satu pendiri dan Kepala Ahli Alergi dari Ready, Set, Food.

Apakah bayi akan mengalami alergi makanan atau tidak sebagian ditentukan oleh gen, tetapi faktor makanan dan gaya hidup lainnya juga ikut berperan. Bayi yang terkena eksim, misalnya, memiliki kemungkinan lebih tinggi terkena alergi makanan, kata Dr. Marks-Cogan.

6 dari 7 halaman

Tidak Dibenarkan Menunda Pengenalan Makanan

Beberapa waktu yang lalu, American Academy of Pediatrics mempublikasikan panduan mengenai jenis makanan yang aman diperkenalkan kepada anak, serta kapan dan bagaimana melakukannya.

American Academy of Pediatrics menerbitkan pedoman pada tahun 2000 yang merekomendasikan agar bayi tidak mengkonsumsi susu sampai mereka berusia 1 tahun, telur sampai usia 2 tahun, dan kacang tanah, kacang pohon, ikan, atau kerang sampai ulang tahun ketiga mereka. Tidak ada bukti bahwa menunda makanan itu mencegah eksim dan alergi makanan, jadi pada 2008 pedoman itu diubah.

Hingga kini memang belum terdapat bukti yang cukup bahwa penundaan pemberian makanan berpotensi untuk menjadi alergen kepada bayi, terutama untuk makanan yang terbuat dari kacang, telur, atau ikan. Karena pada dasarnya menunda memberikan makanan baru pada anak hanya akan menghilangkan nutrisi yang ia butuhkan.

7 dari 7 halaman

Memberikan Makanan Alergen Sedini Mungkin

Menurut penelitian, makanan allergen seperti nasi atau sereal gandum, buah-buahan, dan sayuran harus diperkenalkan ketika bayi berusia antara empat dan enam bulan. Orang tua dapat secara bertahap memperkenalkan bayi makanan baru sedini  mungkin. Dengan kata lain, memperkenalkan makanan sejak dini sebenarnya dapat mencegah alergi makanan pada bayi dan anak-anak.

Pengenalan dini tersebut dapat dimulai sejak masa ASI ekskusif berakhir, yakni usia 6 bulan, dengan memperkenalkan berbagai jenis makanan secara bertahap. Pengenalan kacang-kacangan pada usia dini dapat membantu mencegah terjadinya alergi kacang pada anak yang berisiko tinggi, misalnya anak dengan riwayat alergi pada keluarganya. Cara ini diyakini sebagai kiat untuk mengurangi risiko alergi pada anak. 

Sebagai catatan, pengenalan tersebut juga harus disertai dengan pemantauan dari orang tua terhadap respons anak setelah mengonsumsi bahan makanan tertentu.

Join Dream.co.id