Penting Diketahui Ibu Hamil Seputar Pecah Ketuban

Do It Yourself | Rabu, 29 Juli 2020 16:04
Penting Diketahui Ibu Hamil Seputar Pecah Ketuban

Reporter : Mutia Nugraheni

Bagi ibu yang baru pertama kali hamil, mungkin mengira kalau pecah ketuban seperti air yang tumpah dan mengalir deras.

Dream - Bagi ibu hamil, terutama pada kehamilan pertama, pecah ketuban merupakan sebuah hal yang membuat khawatir. Terutama jika terjadi sebelum sampai rumah sakit atau klinik persalinan.

Bagi ibu yang baru pertama kali hamil, mungkin mengira kalau pecah ketuban seperti air yang tumpah dan mengalir deras. Faktanya tak selalu demikian. Bisa juga air ketuban keluar seperti buang air kecil yang tak bisa berhenti.

Air ketuban merupakan pelindung bagi janin di rahim. Untuk itu, penting mengetahui seputar kondisi air ketuban, terutama bagi ibu yang baru hamil untuk pertama kalinya.

Apa yang menyebabkan air ketuban pecah?
Dalam rahim, bayi dilindungi oleh kantong penuh cairan yang bernama ketuban. Saat kantung itu pecah, semburan cairan bening akan mengalir keluar dari leher rahim dan vagina lalu diikuti oleh rembes terus menerus.

 

2 dari 6 halaman

Persalinan Bakal Terjadi dalam Waktu Dekat

Hal itu bisa jadi pertanda kalau janin akan segera lahir. Sangat dianjurkan untuk segera ke rumah sakit memeriksakan diri. Persalinan bisa terjadi dalam hitungan jam atau mungkin dua hari kemudian.

" Sekitar 80 persen persalinan dimulai dengan kontraksi, kemudian pecah ketuban. Sedangkan 20 persen lainnya, ketiban pecah lebih dulu dan biasanya diikuti oleh nyeri persalinan dalam beberapa jam," kata Allison Hill, M.D., dokter kandungan yang juga penulis buku The Mommy Docs.

 

3 dari 6 halaman

Bagaimana rasanya ketika air ketuban pecah?

Sensasinya berbeda untuk pada tiap ibu. Untuk beberapa orang, seperti tetesan lambat atau perasaan keluar tiba-tiba seperti mengompol. Ada juga yang keluar dengan deras, bahkan terdengar bunyi letupan dan merasakan tekanan.

Saat ketuban pecah mungkin rasanya seperti buang air kecil, tapi cairan ketuban biasanya tidak berbau. Biasanya juga keruh atau jernih atau diwarnai dengan garis-garis kecil darah.

Jika ketuban pecah di usia kehamilan sebelum 37 minggu, maka dianggap ketuban pecah dini. Perlu dilakukan pemeriksaan secepat mungkin oleh dokter atau bidan, untuk mengetahui apakah persalinan bisa ditunda atau janin harus dilahirkan segera.

Sumber: Parents

4 dari 6 halaman

Fobia dan Serangan Cemas Saat Hamil Tak Boleh Didiamkan

Dream - Kehamilan memang membuat rasa cemas dan kekhawatiran meningkat. Hal ini karena pengaruh hormon, dan kondisi fisik ibu. Biasanya, ibu akan cenderung sulit tidur atau cemas bayinya di kandungan mengalami masalah.

Nah, ada beberapa ibu yang sampai mengalami sesak napas, tak nafsu makan bahkan hingga hilang kesadaran. Kondisi ini dikenal dengan fobia yang merupakan ketakutan konstan, berlebihan dan intens terhadap sesuatu atau situasi.

Kadang-kadang fobia dimulai dari peristiwa traumatis, meskipun tidak selalu ada alasan yang jelas di mana mereka memulai. Beberapa orang menghalangi ingatan mereka tentang pengalaman yang mengganggu dan akar penyebab kecemasan.

Perbedaan antara ketakutan dan fobia adalah bahwa fobia berdampak pada kehidupan sehari-hari. Pola perilaku dan penghindaran muncul yang didasarkan pada menghindari situasi yang menyebabkan kecemasan.

 

5 dari 6 halaman

Fobia tentang persalinan

Tokophobia adalah nama untuk rasa takut yang kuat akan persalinan. Sekitar 13 persen wanita yang belum pernah hamil mengatakan mereka sangat takut memiliki bayi, sehingga mereka menunda atau menghindari kehamilan sama sekali. Ini dapat secara langsung terkait dengan memiliki bayi tetapi mungkin juga karena takut akan darah (hemofobia), prosedur medis, jarum atau tes.

Bagi banyak wanita, dorongan untuk memiliki bayi bisa sangat kuat sehingga bisa menjadi awal untuk mendapatkan bantuan untuk mengatasi tokofobia mereka. Beberapa wanita merasakan kecemasan yang lebih spesifik tentang aspek tertentu dari kehamilan mereka.

 

6 dari 6 halaman

Terapi

Misalnya bayi lahir dengan komplikasi, merasa tidak terkendali dalam persalinan, merasa sakit, atau bahkan sekara. Kondisi ini tak boleh didiamkan. Perlu segera dikonsultasikan dengan dokter atau psikolog.

Nantinya ibu akan diberikan terapi untuk membantu mengendalikan perasaan dan emosi. Jika dibiarkan, ibu akan sangat berisiko mengalami depresi pasca melahirkan yang bisa membahayakan nyawa baik ibu sendiri maupun bayi yang dilahirkannya.

Sumber: KidSpot

Join Dream.co.id