Pasangan yang Program Hamil, Tak Perlu Ragu Vaksinasi Covid-19

Do It Yourself | Kamis, 23 September 2021 08:12

Reporter : Mutia Nugraheni

Justru sangat direkomendasikan bagi mereka yang berencana untuk memiliki anak dalam waktu dekat.

Dream - Vaksinasi Covid-19 masih terus dilakukan pada mereka yang belum mendapatkannya, baik dosis pertama maupun dosis kedua. Hal ini demi mencapai kekebalan komunitas dan tentunya mengurangi risiko penularan dan tingkat keparahan jika memang tertular.

Beberapa waktu lalu sempat beredar kabar kalau vaksinasi Covid-19 bisa berdampak buruk pada kesuburan. Hal ini tentu saja membuat khawatir para pasangan yang sedang merencanakan kehamilan atau menjalani program hamil secara intensif.

Kabar tersebut sebenarnya tidak benar. Pasalnya, sebelum vaksin didistribusikan tentunya melewati sejumlah penelitian khusus dan uji klinis.

Lalu pada Agustus 2021 Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) memperbarui panduan vaksin Covid-19. Salah satu poinnya adalah vaksin direkomendasikan pada semua orang yang berusia 12 tahun ke atas untuk divaksinasi, termasuk orang-orang yang mencoba hamil dalam waktu dekat atau mungkin hamil di masa depan, serta pasangan mereka.

 

Pasangan yang Program Hamil, Tak Perlu Ragu Vaksinasi Covid-19
Vaksinasi/ Foto: Shutterstock
2 dari 5 halaman

Vaksin Tak Sebabkan Masalah Kesuburan

CDC juga memaparkan penelitian terbaru pasangan yang menjalani fertilisasi in vitro (IVF). Para peneliti tidak menemukan adanya perbedaan dalam tingkat keberhasilan kehamilan di antara tiga kelompok wanita yang mencoba hamil dan sudah divaksin Covid-19 serta yang belum. Pertama mereka yang memiliki antibodi dari vaksinasi, mereka yang memiliki antibodi dari infeksi COVID-19, dan mereka yang tidak memiliki antibodi.

Mendapatkan vaksinasi merupakan cara terbaik untuk melindungi diri sendiri dan bayi dari virus corona,termasuk varian Delta yang sangat menular. " Penelitian menunjukkan bahwa wanita hamil yang terinfeksi COVID lebih mungkin mengembangkan infeksi parah (dibandingkan wanita yang tidak hamil yang terinfeksi) dan memerlukan perawatan di rumah sakit/ICU selama mereka sakit," kata Janet Choi, MD, direktur medis di CCRM, yang juga ahli kesuburan, dikutip dari Parents.

CDC juga juga mengungkap tak satu pun dari vaksin yang tersedia (Pfizer, Moderna, atau Johnson & Johnson) dikaitkan dengan masalah kesuburan pada pria atau wanita. " Saat ini tidak ada bukti bahwa antibodi yang dibuat setelah vaksinasi COVID-19 atau bahwa bahan vaksin akan menyebabkan masalah kehamilan sekarang atau di masa depan," ungkap CDC.

Banyak organisasi medis lainnya juga mendukung vaksinasi ketika mencoba untuk hamil, termasuk American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), American College of Nurse-Midwives, Society for Maternal-Fetal Medicine, American Academy of Family Physicians, dan masih banyak lagi. Jadi tak perlu ragu untuk vaksinasi Covid-19 bagi pasangan yang sedang menjalani program hamil, karena justru bisa memberikan perlindungan.

3 dari 5 halaman

Deretan Kelainan Sel Sperma yang Bisa Pengaruhi Kesuburan

Dream - Kesuburan tentunya jadi hal yang sangat penting bagi pasangan yang berencana untuk memiliki buah hati. Jika kehamilan tak kunjung terjadi selama setahun padahal sudah rutin berhubungan intim, sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan ke dokter spesialis kesuburan.

Banyak faktor yang menyebabkan ketidaksuburan. Salah satu yang menyebabkan kehamilan tak kunjung terjadi adalah kelainan sperma. Dikutip dari SehatQ, kualitas dan kesehatan sperma biasanya hanya diukur melalui kekentalan dan jumlahnya setelah pemeriksaan di laboratorium.

Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kualitas sperma antara lain jumlah, bentuk, dan pergerakan dari sperma. Jika terjadi masalah pada setidaknya satu dari tiga faktor itu, maka bisa jadi mengalami kelainan sperma.

Lalu apa saja jenis kelainan sel sperma?

1. Leukocytospermia
Kelainan ini juga sering disebut pyospermia. Terjadi ketika ditemukan banyak sel darah putih dalam air mani. Sel darah putih dalam air dapat merusak sperma dan menurunkan kesuburan. Leukocytospermia menjadi pertanda infeksi atau penyakit autoimun dalam tubuh.

2. Necrozoospermia
Necrozoozpermia menjadi salah satu penyebab kemandulan pada pria. Terjadi ketika sel sperma dalam air mani mati dan tidak melakukan pergerakan. Penyebab kelainan sperma yang satu ini masih belum dapat dipastikan.

Sedikitnya kasus necrozoospermia membuat penelitian mengenai kelainan sperma ini masih sangat minim. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui penyebab dan cara mengatasi necrozoospermia.

 

4 dari 5 halaman

3. Oligoasthenoteratozoospermia (OAT)

Merupakan penyebab kemandulan yang paling sering dialami pria. OAT terjadi ketika jumlah, pergerakan, dan bentuk sperma tidak normal. Kelainan sperma ini dibagi dalam tiga tingkat keparahan, yaitu ringan, sedang, atau berat. Tingkat keparahan tersebut nantinya akan menjadi acuan dokter untuk melakukan prediksi (prognosis) kesuburan dan pengobatan.

4. Teratozoospermia
Disebabkan masalah genetik, teratozoospermia terjadi ketika bentuk sperma tidak normal. Salah satu indikasi kelainan ini misalnya sperma memiliki kepala atau ekor lebih dari satu. Sperma yang normal hanya punya satu kepala dengan ekor panjang.

Bentuk sperma tidak normal dapat mengurangi kemampuan sperma untuk bergerak ataupun berenang. Saat sperma memiliki bentuk dan pergerakan yang tidak normal, hal itu nantinya berdampak pada pembuahan sel telur.

 

5 dari 5 halaman

5. Asthenozoospermia

Merupakan abnormalitas sperma yang terjadi saat pergerakannya (motilitas) tidak normal. Pergerakan sperma yang normal harus berada di dalam satu garis lurus atau lingkaran besar.

Beberapa hal yang menjadi penyebab buruknya kemampuan gerak sperma misalnya terlalu banyak minum alkohol, paparan racun, penyakit, merokok, mengonsumsi narkoba, hingga buruknya nutrisi yang masuk ke tubuh. Selain motilitas, minimnya jumlah sel sperma dalam air mani juga dapat menjadi Anda mengalami kelainan ini.

6. Oligozoospermia
Oligozoospermia terjadi ketika jumlah sperma dalam air mani jauh lebih sedikit dari biasanya. Berbeda dengan OAT, kelainan sperma ini memiliki empat tingkat keparahan, yaitu ringan, sedang, berat, dan ekstrem.

Penderita oligozoospermia dengan tingkat keparahan rendah dan sedang masih punya harapan untuk memiliki momongan secara normal. Berbeda dengan penderita dengan tingkat keparahan tinggi dan ekstrem yang akan kesulitan untuk mempunyai anak.

Selain itu, sedikitnya jumlah sel sperma dalam air mani nantinya dapat berpengaruh juga terhadap bentuk dan pergerakannya. Beberapa hal yang memicu masalah sperma ini, seperti penyakit celiac, infeksi saluran reproduksi, gangguan genetik, obesitas, berendam dalam air panas, merokok, hingga mengonsumsi obat-obatan terlarang.

Selengkapnya baca di sini.

Join Dream.co.id