'Nintendoitis', Cedera Otot Anak Saat Terlalu Banyak Main Games

Do It Yourself | Kamis, 7 Januari 2021 08:02

Reporter : Mutia Nugraheni

Tak bisa melakukan banyak aktivitas, gadget dan video games jadi andalan bagi anak sebagai sumber hiburan.

Dream - Orangtua mungkin sudah sangat kebingungan untuk meredakan kebosanan anak-anak mereka. Nyaris satu tahun, pandemi belum kunjung berakhir dan anak-anak tetap diminta hanya di rumah saja. Tidak ke sekolah, bermain dan berkumpul-kumpul dengan temannya.

Jika biasanya mereka bermain sepeda, bola, berlarian di taman bermain, kini rumah jadi satu-satunya tempat paling aman. Tak bisa melakukan banyak aktivitas, gadget dan video games jadi andalan bagi anak sebagai sumber hiburan.

Hal ini memunculkan risiko yang kemudian dikenal dengan istilah " nintendoitis" dan " playstation thumb" . Apa maksudnya? Permainan konsol seperti PS dan nintendo memang mengasyikkan tapi jika dilakukan berlebihan bisa menimbulkan cedera otot terutama pada anak-anak.

Dari penelitian, sebanyak 91 persen anak-anak berusia antara 2 hingga 17 tahun saat ini bermain video game - meningkat 13 persen dari tahun 2009. Satu penelitian terbaru terhadap 171 anak usia 7 hingga 12 menemukan bahwa 12 persen dari mereka mengalami nyeri jari dan 10 persen menderita nyeri pergelangan tangan.

 

'Nintendoitis', Cedera Otot Anak Saat Terlalu Banyak Main Games
Anak Bermain Game Konsol/ Foto: Shutterstock
2 dari 6 halaman

Beri Durasi Maksimal

Fakta lainnya, semakin kecil usia anak bermain game konsol, mereka juga semakin rentan terhadap rasa sakit. Penelitian ini dilakukan oleh dr. Yusuf Yazici, seorang ahli reumatologi di Rumah Sakit Universitas New York dan timnya. Ia mencurigai hal ini ada hubungannya dengan fakta bahwa otot dan tendon anak masih dalam tahap perkembangan.

“ Semakin kecil anak, semakin banyak rasa sakit yang mereka alami, terlepas dari berapa lama mereka bermain setiap hari,” ujar Yazici dikutip dari Fatherly.

Bermain video game dalam waktu lama dapat menyebabkan cedera stres yang berulang, seperti carpal tunnel syndrome atau tendonitis. Termasuk duduk dalam satu posisi selama berjam-jam menekan tombol berulang-ulang pada pengontrol game dapat menyebabkan nyeri dan peradangan berulang, dan tanpa pengobatan dapat menyebabkan kerusakan permanen.

Peradangan adalah mekanisme pertahanan tubuh sebagai respons terhadap cedera atau penggunaan berulang. Jenis peradangan sendi akut yang terjadi dari " Nintendoitis" , " Playstation Thumb" , dan cedera terkait video game lainnya sangat besar karena serangannya tidak kentara dan dapat tidak terdeteksi sampai kondisinya menjadi lebih parah.

Tanda-tanda peradangan akut akibat cedera antara lain kemerahan, bengkak, nyeri, sulit bergerak, dan panas atau hangat yang berasal dari daerah yang terkena. Untuk itu, pastikan jika anak bermain game konsol, buat durasi maksimal. Jangan sampai lebih dari satu jam, terutama anak di bawah 10 tahun.

3 dari 6 halaman

Dibelikan Mainan Mahal tapi Si Bayi Lebih Suka Main Kardusnya, Mengapa?

Dream - Orangtua memang selalu ingin memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Termasuk juga ingin membelikan mainan berkualitas yang harganya cukup mahal. Setelah dibelikan, si kecil malah tak terlalu tertarik dan lebih suka kardus kemasannya.

Pernah mengalami hal ini, Sahabat Dream? Saat disodori mainan, anak malah mengambil kertas pembungkus, kardus atau benda lain yang bisa mereka dapatkan, memasukkan semuanya ke dalam kotak dan membuang semuanya lagi. Bayi akan melakukan ini berulang kali.

Perlu diketahui, para ahli perkembangan anak mengatakan bahwa anak-anak balita sebenarnya belajar saat mereka bermain dengan kotak kardus yang ada di sekitarnya. Mereka tidak hanya belajar tentang diri mereka sendiri, tetapi mereka juga menemukan dunia di sekitar mereka.

" Ketika bayi belajar cara duduk, kita akan melihat bahwa mereka akan mulai tertarik untuk mengisi wadah dengan barang-barang kecil dan kemudian membuang benda-benda tersebut. Sekitar usia 7 hingga 8 bulan, mereka mulai membuang yang ada di depannya menjelajahi lingkungan dengan cara yang berbeda," ujar Jana Beriswill, seorang terapis okupasi di Rumah Sakit Anak Wolfson di Jacksonville.

 

 

4 dari 6 halaman

Belajar Banyak

Hal itu adalah perkembangan utama kognitif mereka dan bisa jadi tanda kalau anak mulai memahami bahwa mereka dapat memengaruhi lingkungannya. Saat anak mengeksplorasi dan bereksperimen dengan objek di sekitarnya, dia sudah menggunakan indera dan fisiknya untuk memperluas pemikirannya.

" Ini memperkenalkannya pada konsep dan penemuan baru, termasuk bagaimana objek berhubungan satu sama lain dan sebab dan akibat. Di otaknya penuh rasa penasaran 'kotak apa ini dan apa yang dapat saya lakukan dengannya? Akankah tangan saya muat di dalam? Apa lagi yang bisa saya masukkan ke dalamnya? Apa yang akan terjadi jika saya membalik kotak itu?," kata Beriswill.

Bayi memang sebenarnya tak memerlukan mainan mahal, tapi lebih kepada stimulus dari orangtuanya. Selalu mendampingi mereka, membiarkan anak bereksplorasi dan belajar dengan memanfaatkan barang-barang sekeliling yang ada di rumah dan tentu saja aman untuknya.

Sumber: SmartParenting

5 dari 6 halaman

Telinga Bayi Alami Infeksi, Orangtua Sering Tak Menyadari

Dream - Infeksi telinga identik dengan rasa sakit yang luar biasa, bayangkan jika ini terjadi pada anak atau bayi. Pastinya mereka akan sangat tersiksa. Banyak yang tak tahu kalau infeksi telinga pada bayi cukup umum terjadi.

“ Sebagian besar anak, hingga 80 persen akan memiliki satu kali infeksi telinga pada usia empat tahun,” kata Sheila Jacobson, dokter anak di Clairhurst Pediatrics.

Seringkali orangtua tak menyadari kalau anaknya mengalami infeksi di telinganya. Terutama pada bayi dan anak di bawah tiga tahun yang belum bisa mengatakan apa yang dirasakannya secara jelas.

Apa penyebab infeksi telinga?
Infeksi telinga adalah infeksi virus atau bakteri di telinga tengah. Biasanya dimulai dengan pilek atau alergi, yang dapat menyebabkan saluran eustachius — saluran antara telinga tengah dan tenggorokan atas — tersumbat.

" Efeknya adalah cairan menumpuk di area tepat di belakang gendang telinga, dan tekanan dari peradangan inilah yang menyebabkan rasa sakit yang hebat," kata Jacobson.

 

6 dari 6 halaman

Cara mengenali infeksi telinga

Anak-anak di bawah usia dua tahun tidak bisa begitu saja mengatakan, 'telingaku sakit,', membuat infeksi telinga bayi sulit dideteksi. Jacobson mengatakan untuk mewaspadai demam, terutama jika didahului oleh pilek, juga tangisan, kekakuan, kehilangan nafsu makan dan rewel.

Anak-anak dengan infeksi telinga sering kali tidak dapat tidur nyenyak, karena tekanan di telinga tengah pada saluran eustachius meningkat saat mereka berbaring. Dan jika melihat cairan atau nanah mengalir dari telinga anak, itu pertanda pasti adanya infeksi. Perhatikan juga jika anak kerap menggaruk, menarik atau menggosok telinganya.

Kabar baiknya adalah sebagian besar infeksi telinga bayi hilang dengan sendirinya. Beberapa mungkin memerlukan antibiotik, namun itu pun jika sudah parah.

“ Jika anak berusia lebih dari enam bulan, jika dia terlihat sehat dan tidak ada demam tinggi, maka awasi sebelum memberikan antibiotik,” kata Jacobson.

Segera konsultasikan dengan dokter jika curiga anak mengalami infeksi telinga. Terutama jika si kecil sulit tidur dan rewel disertai demam tinggi.

Sumber: Today Parents

Join Dream.co.id