Mengerikan, Mikroplastik Ditemukan di Plasenta Janin

Do It Yourself | Rabu, 27 Januari 2021 16:04

Reporter : Mutia Nugraheni

Jumlahnya cukup tinggi.

Dream - Sampah plastik kondisinya memang sudah sangat memprihatinkan. Bukan hanya yang berukuran besar dan mengotori daratan serta lautan tapi juga yang berukuran mikro dan tertelan tubuh.

Sebuah fakta mengerikan baru saja terungkap soal plastik yang berukuran sangat kecil atau mikroplastik. Tim dari Rumah Sakit San Giovanni Calibita Fatebenefratelli di Roma, Italia, menemukan partikel mikroplastik ditemukan di plasenta bayi yang belum lahir untuk pertama kalinya.

Menurut peneliti, temuan ini sangat memprihatinkan. Bahan kimia berupa plastik ini dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang atau mengganggu sistem kekebalan tubuh bayi yang sedang berkembang. Partikel tersebut kemungkinan besar telah dikonsumsi atau dihirup oleh ibu.

Partikel tersebut ditemukan di dalam plasenta dari empat wanita sehat yang memiliki kehamilan dan kelahiran normal. Mikroplastik terdeteksi di janin dan ibu, tepatnya di plasenta dan selaput tempat janin berkembang.

 

Mengerikan, Mikroplastik Ditemukan di Plasenta Janin
Pemeriksaan USG Janin (Foto: Shutterstock)
2 dari 7 halaman

Berukuran 10 Mikron

Ada selusin partikel plastik ditemukan. Hanya sekitar 4% dari setiap plasenta yang dianalisis. Hal ini menunjukkan jumlah mikroplastik jauh lebih tinggi. Semua partikel yang dianalisis adalah plastik yang telah diwarnai biru, merah, oranye atau merah muda dan mungkin berasal dari kemasan, cat atau kosmetik, dan produk perawatan pribadi.

Mikroplastik sebagian besar berukuran 10 mikron (0,01 mm), yang berarti cukup kecil untuk dibawa dalam aliran darah. Partikel tersebut mungkin telah memasuki tubuh bayi, tetapi para peneliti tidak dapat menilai ini.

“ Ini seperti memiliki bayi cyborg, tidak lagi hanya terdiri dari sel manusia, tetapi campuran entitas biologis dan anorganik,” kata Antonio Ragusa, direktur kebidanan dan ginekologi di rumah sakit San Giovanni Calibita Fatebenefratelli di Roma, yang merupakan kepala studi, dikutip dari The Guardian.

Dalam studi yang diterbitkan dalam jurnal Environment International, para peneliti menyimpulkan peran penting plasenta dalam mendukung perkembangan fetus dan dalam bertindak sebagai pelindung dengan lingkungan eksternal.

Keberadaan partikel plastik yang berpotensi berbahaya menjadi masalah dan perlu perhatian besar. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk menilai apakah keberadaan mikroplastik dapat memicu respons kekebalan atau dapat menyebabkan pelepasan kontaminan beracun, yang mengakibatkan bahaya.

3 dari 7 halaman

3 Kondisi Plasenta yang Bisa Mengancam Kehamilan

Dream - Plasenta atau ari-ari merupakan organ vital selama kehamilan. Setelah bayi lahir, organ ini tak lagi tak lagi berfungsi dan dikubur dengan baik. Bahkan pada masyarakat tertentu, penguburan plasenta ini dilakukan ritual tersendiri.

Bukan hanya sekadar penghubung nutrisi dari ibu ke janin, plasenta memiliki banyak sekali fungsi. Plasenta merupakan sejenis bantalan pelindung yang menjaga kondisi sekitar rahim dalam keadaan baik sehingga janin tumbuh optimal.

Plasenta terbentuk dari sel yang sama dengan embrio dan menempel pada dinding dalam rahim. Plasenta ini bakal tumbuh ketika janin tumbuh dan volume cairan ketuban meningkat. Setelah persalinan, plasenta akan keluar dan beratnya mencapai 500 gram.

 

4 dari 7 halaman

Waspada Masalah Plasenta

Kondisi plasenta begitu signifikan dalam kehamilan. Saat plasenta mengalami masalah, kemungkinan besar kehidupan janin atau perkembangannya di dalam rahim jadi tidak optimal.

Plasenta biasanya bekerja optimal hingga akhir kehamilan, namun pada beberapa kasus bisa juga mengalami masalah. Untuk itu sangat penting melakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk mengetahui kondisinya secara detail.

Dalam pemeriksaan USG bisa diketahui secara jelas jika plasenta mengalami masalah. Berikut tiga masalah plasenta yang harus diwaspadai karena dapat mengancam kehamilan.

 

5 dari 7 halaman

Abrasi Plasenta

Suatu kondisi di mana plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum melahirkan. Biasanya terjadi pada trimester ketiga kehamila, tetapi bisa juga pada usia kehamilan 20 minggu.

Abrasi ini dapat membuat janin kekurangan oksigen dan nutrisi, menyebabkan pendarahan pada ibu, dan meningkatkan risiko kelahiran prematur.

Beberapa faktor risikonya antara lain tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol, merokok, penggunaan obat-obatan terlarang, trauma perut, kelainan rahim atau tali pusar, kehamilan di atas 35 tahun, janin kembar dan juga terlalu sedikit cairan ketuban.

Tanda dan gejala yang muncul biasanya ada pendarahan vagina. Kadang disertai dengan rasa tidak nyaman dan nyeri di uterus, atau nyeri di abdomen yang terus menerus.

 

6 dari 7 halaman

Placenta Previa

Plasenta pendek atau menutupi sebagian atau seluruh lubang serviks bagian dalam. Kondisi ini menghambat keluarnya bayi saat proses persalinan. Saat serviks mulai menipis dan melebar dalam persiapan untuk persalinan, pembuluh darah yang menghubungkan plasenta ke rahim dapat robek, dan mengakibatkan pendarahan. J

Jika pendarahannya parah dan terjadi selama persalinan dan persalinan, itu bisa membahayakan kehidupan ibu dan janin. Beberapa faktor risikonya antara lain merokok, penggunaan obat-obatan terlarang, pembedahan uterus sebelumnya seperti operasi cesar atau hamil kembar.

Dalam beberapa kasus, tidak ada gejala, dan plasenta previa ditemukan selama USG rutin. Jika ini terjadi pada trimester pertama kehamilan, kemungkinan besar itu akan membaik dengan sendirinya. Selama trimester kedua kehamilan, kondisi ini ditandai oleh perdarahan vagina yang tidak menyakitkan.

 

7 dari 7 halaman

Placenta Accreta

Kondisi di mana plasenta yang menempel terlalu kuat dan dalam ke dinding rahim. Kondisi serupa termasuk plasenta increta dan percreta, di mana plasenta menembus dinding rahim, kadang-kadang mengenai organ di dekatnya.

Hal ini bisa memicu kelahiran prematur atau perdarahan serius setelah persalinan pervaginam. Faktor risikonya yaitu pernah mengalami plasenta previa atau operasi rahim sebelumnya. Tanda dan gejala yang muncul biasanya pendarahan vagina selama trimester ketiga.

Kondisi ini bisa berakibat jangka panjang. Ibu akan sangat berisiko jika menjalani kehamilan lagi di masa yang akan datang. Untuk itu sangat penting melakukan perawatan dan pemeriksaan rutin selama kehamilan.

Sumber: Parents

Join Dream.co.id