Masuki Trimester Kedua, Ibu Hamil Jadi Glowing?

Do It Yourself | Rabu, 27 Januari 2021 10:03

Reporter : Mutia Nugraheni

Ternyata ini alasannya.

Dream - Ibu hamil kerap mendapat pujian penampilannya lebih bersinar dan tampak glowing. Terutama memasuki usia kehamilan 12 minggu atau 4 bulan (trimester kedua). Hal inilah yang dikenal dengan istilah 'pregnancy glowing'.

Ada penjelasan medis mengapa ibu hamil tampak lebih cantik dan bercahaya di trimester kedua. Hal ini terkait dengan fluktuasi hormon dan aliran darah, tetapi kilauannya juga dapat dikaitkan dengan perubahan psikologis yang dialami ibu.

" Selama kehamilan, kombinasi beberapa faktor dapat membuat kehamilan bersinar. Volume darah yang lebih besar membawa lebih banyak darah ke pembuluh, menghasilkan kulit yang terlihat memerah," ujar dr. Yvonne Butler, dikutip dari Mayo Clinic.

Peningkatan jumlah hormon yang dilepaskan selama kehamilan dapat membuat kulit terlihat memerah, memberi tampilan bercahaya. Hormon semacam itu termasuk estrogen, progesteron, dan human chorionic gonadotropin.

 

Masuki Trimester Kedua, Ibu Hamil Jadi Glowing?
Ibu Hamil (Foto: Shutterstock)
2 dari 6 halaman

Psikologis Ibu Juga Berperan

Selama kehamilan, tubuh menghasilkan lebih banyak darah. Ini karena rahim dan organ vital membutuhkan lebih banyak darah untuk mendukung pertumbuhan janin. Peningkatan volume darah seperti itu juga melebarkan pembuluh darah ibu, membuat kulit ibu merah dan bercahaya.

" Perubahan kadar hormon juga bisa menyebabkan kelenjar kulit di wajah mengeluarkan lebih banyak minyak (sebum). Hal ini bisa membuat kulit terlihat sedikit lebih berkilau," kata Butler.

Sayangnya, faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kilau kehamilan dapat memiliki sisi negatif. Kadar hormon yang berfluktuasi selama kehamilan bisa membuat ibu hamil jadi lebih rentan berjerawat.

Dikombinasikan dengan peningkatan aliran darah dan perubahan hormonal, peregangan kulit juga dapat membuat kulit lebih bersinar selama kehamilan. Biasanya kondisi ini ketika kehamilan di trimester kedua.

Saat mual sudah mereda, ibu lebih nyaman dan mulai menikmati momen kehamilannya. Ibu juga lebih stabil secara psikologis dan ini terlihat dari luar.

3 dari 6 halaman

Waduh, Sering Stres Saat Hamil Bisa Bikin Bayi Mudah Rewel

Dream - Kabar kehamilan bagi banyak ibu disambut dengan kebahagiaan. Bersamaan dengan itu, kecemasan dan kepanikan juga meningkat. Banyak hal yang jadi pemicunya, seperti pemikiran apakah bisa menjadi ibu yang baik, bagaimana nanti soal keuangan, persiapan persalinan, pekerjaan dan masih banyak lagi.

Hal tersebut membuat ibu hamil sangat mudah mengalami stres. Penting bagi ibu untuk mengatur level stres dengan baik selama kehamilan. Biar dibiarkan stres menguasai pikiran efeknya bukan hanya pada ibu tapi juga janin secara jangka panjang.

Studi soal ini pernah dilakukan oleh Marcel F van der Wal, dkk. pada 2007. Tim peneliti mengkaji efek stres dan masalah emosional saat hamil pada tangisan bayi yang berlebihan.

Penelitian ini dilakukan pada ibu hamil berusia 3-6 bulan dengan gejala depresi, seperti kecemasan terkait kehamilan, stres mengenai pengasuhan, dan stres pekerjaan. Hasilnya, stres dan masalah emosional selama hamil dapat membuat anak menjadi suka menangis saat lahir.

Terkait temuan tersebut, dr. Astrid Wulan Kusumoastuti menjelaskan, kondisi emosional ibu dapat memengaruhi proses tumbuh kembang janin selama dalam kandungan.

“ Salah satunya adalah keseimbangan berbagai hormon yang terpapar pada janin, misalnya hormon stres,” ujar dr. Astrid, dikutip dari KlikDokter.com.

 

4 dari 6 halaman

Bisa Picu Kelahiran Prematur

Itu artinya, ketika ibu sering stres, janin juga mengalami kondisi sama. Manifestasinya, ketika sudah lahir, bayi lebih tinggi kemungkinannya untuk sering menangis kencang.

“ Para ahli mencurigai (ibu sering stres saat hamil) turut berpengaruh pada neurobehavior anak saat tumbuh nanti, termasuk bayi mudah stres,” ungkap dr. Astrid.

Selain bikin bayi suka menangis, dampak stres saat hamil juga termasuk:

1. Pengaruhi Otak Janin
Seperti yang dijelaskan di atas, ibu hamil yang mengalami stres akan menghasilkan hormon stres untuk dirinya maupun untuk janinnya. Hal ini akan berpengaruh kepada otak janin, karena hormon stres yang dialirkan ke janin.

2. Bayi Lahir Prematur
Ibu hamil yang mengalami stres berisiko lebih tinggi melahirkan secara prematur, serta alami komplikasi saat persalinan. Tak hanya itu, stres pada bumil juga bisa memengaruhi ari-ari bayi. Plasenta akan memproduksi hormon CRH, yang berfungsi mengatur waktu kehamilan. Bila kadar CRH ibu hamil terlalu tinggi, waktu persalinan bisa terjadi lebih cepat.

3. Bayi Berat Lahir Rendah
Hormon yang terkait stres, seperti kortisol, epinefrin, dan norepinefrin, bisa sebabkan pembuluh darah jadi menyempit. Kondisi tersebut berdampak pada turunnya aliran darah ke tali pusat. Efeknya, janin kesulitan untuk memperoleh nutrisi yang dibutuhkan. Bayi pun berpotensi lahir dengan berat yang rendah.

Penjelasan selengkapnya baca di sini.

5 dari 6 halaman

Berencana Hamil di Usia 30an? Ini yang Harus Disiapkan

Dream - Kehamilan idealnya direncanakan dengan baik dan detail. Terutama pada pasangan yang berusia 30an. Usia tak dipungkiri sangat berpengaruh pada kesuburan. Perlu diingat bahwa peluang untuk hamil secara alami setelah 30 tahun bisa lebih kecil jika dibandingkan dengan usia yang lebih muda karena kesuburan perempuan akan menurun secara bertahap dari waktu ke waktu.

Secara biologis, usia terbaik untuk hamil adalah antara 20-30 tahun. Masalah kesuburan seringkali dapat muncul di usia 30an ke atas karena risiko endometriosis atau fibroid. Ini mungkin berbeda pada setiap perempuan berdasarkan faktor risiko individu.

Lalu apa yang harus disiapkan jika ingin hamil di usia 30an?

" Bukan hanya calon ibu saja yang harus menjaga kesehatan tapi juga calon ayah. Langkah pertama adalah menerapakan pola hidup sehat demi meningkatkan level kesuburan," ujar dr. Deepti Gupta, seorang ahli fertilitas.

Langkah selanjutnya adalah menjaga berat badan dalam angka yang normal. Tidak berlebihan dan tidak kurang. Perempuan yang memiliki indeks massa tubuh (BMI) di bawah 19 dan di atas 30 sangat mungkin menghadapi masalah kesuburan karena haid tidak teratur atau amenore (haid hilang selama lebih dari tiga bulan).

 

6 dari 6 halaman

Jauhkan Rokok dan Stres

Pertahankan dengan baik jika level berat badan sudah normal. Termasuk juga berat badan calon ayah. Hal yang juga sangat penting adalah, hindari rokok.

" Kedua pasangan harus menghindari rokok sebelum konsepsi untuk meningkatkan kesuburan. Ibu yang merokok dapat berdampak buruk pada bayi dan mungkin memiliki risiko lebih tinggi dalam hal kecacatan janin," ujar Deepti.

Usahakan untuk menerapkan manajemen stres dengan baik. Peningkatan kadar hormon stres dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental. Ini juga dapat mengganggu level kesuburan. Konsultasilah dengan dokter kesuburan jika dalam satu tahun sudah berhubungan seksual secara aktif tanpa kontrasepsi tapi belum terjadi kehamilan.

Sumber: Momjunction

 

Join Dream.co.id