Malas Gerak Saat Hamil, Bisa Muncul Risiko Ini

Do It Yourself | Jumat, 2 Oktober 2020 10:03
Malas Gerak Saat Hamil, Bisa Muncul Risiko Ini

Reporter : Mutia Nugraheni

Olahraga sangat dibutuhkan ibu hamil untuk menjaga kondisi fisik dan mental ibu tetap baik.

Dream - Pada ibu hamil, sederet keluhan biasanya muncul. Sulit tidur saat malam hari sehingga keesokan harinya sangat mengantuk dan tubuh menjadi lemas tak bergairah. Hal ini membuat ibu lebih memilih untuk istirahat di kamar atau sofa.

Aktivitas fisik seperti olahraga jadi jarang dilakukan atau tak pernah sama sekali. Padahal, olahraga sangat dibutuhkan ibu hamil untuk menjaga kondisi fisik dan mental ibu tetap baik.

Tak perlu olahraga berat. Cukup jalan kaki, yoga dengan video di internet atau hal lain yang menyenangkan. Saat kondisi tubuh dalam keadaan baik, sebaiknya lakukan sedikit olahraga.

Jika ibu hamil malas bergerak, ada beberapa risiko kesehatan yang mengintai. Apa saja?

1. Berat Badan Ibu dan Bayi Bertambah
“ Biasanya orang yang aktif bergerak, berat badannya (BB) ideal. Ibu hamil memang akan naik berat badannya. Tapi, jika naik berlebihan, juga tidak sehat,” jelas dr. Sara, dikutip dari KlikDokter.

Tidak hanya ibu, berat badan janin pun bisa ikut berlebihan. Hal ini diakui oleh studi dari International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity.
Menurut penelitian tersebut, ibu hamil yang kurang gerak rentan memiliki bayi makrosomia atau lahir dengan berat badan besar. Risiko bayi makrosomia dapat menyebabkan ibu mengalami perdarahan atau robek vagina saat bersalin.

 

2 dari 6 halaman

2. Depresi

Sebuah penelitian dari jurnal Medicina tahun 2019 mengatakan kondisi kurang gerak pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko depresi. Penelitian tersebut menyimpulkan, wanita yang aktif secara fisik berisiko lebih rendah mengalami depresi dibandingkan wanita yang kurang gerak.

Sebab, aktivitas fisik dapat menurunkan kadar kecemasan, stres, serta meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Jika ditelisik lebih jauh, beraktivitas fisik dapat memicu tubuh mengeluarkan hormon endorfin, dopamin, dan adrenalin.

Hormon tersebut merupakan bahan kimia di otak yang menyebabkan perasaan bahagia dan percaya diri. Selain itu, perasaan cemas dan stres yang bisa memicu depresi juga bisa dihindari ketika hormon tersebut muncul.

 

3 dari 6 halaman

3. Diabetes Gestasional

Studi dari Warwick Medical School menjelaskan, wanita hamil yang depresi dan kegiatannya hanya duduk, kira-kira selama enam jam sehari, berisiko mengalami diabetes gestasional.

Dalam kondisi normal, karbohidrat dari makanan yang masuk ke dalam tubuh akan dipecah menjadi glukosa (gula darah). Glukosa membutuhkan insulin agar bisa diolah menjadi energi.

Sayangnya, saat hamil, tubuh ibu mengalami beberapa perubahan hormonal. Perubahan terjadi ketika sistem kerja hormon insulin menjadi kacau saat mengontrol glukosa. 
Jika kondisi ini ditambah dengan kebiasan ibu yang jarang bergerak dan punya berat badan berlebih, risiko diabetes gestasional pun tak dapat dihindari.

Selengkapnya baca di sini.

4 dari 6 halaman

Risiko yang Muncul Pada Ibu Hamil dengan Golongan Darah O

Dream - Saat hamil, pastikan ibu sudah mengetahui golongan darahnya. Jika belum tahu, segera lakukan tes singkat untuk mengetahui golongan darah. Mengapa sangat penting mengetahui golongan darah pada ibu hamil?

Pada beberapa kondisi, saat persalinan ibu membutuhkan bantuan transfusi darah. Dengan mengetahui golongan darah, proses transfusi akan lebih cepat dan efektif. Tak hanya itu, golongan darah ibu juga untuk mengetahui risiko masalah pada janin.

Terutama pada ibu yang memiliki golongan darah O. Dikutip dari Unair.ac.id karakter golongan darah O dikenal tidak mau ‘berkawan’ dengan golongan darah lain. Sifat ini pun terbawa ketika seorang perempuan bergolongan darah O sedang mengandung.

Kecenderungan golongan darah O, berakibat selama proses kehamilan terjadi reaksi antigen dengan janin apabila diketahui bergolongan darah selain O. Kondisi ini tentu mengakibatkan terjadinya peningkatan jumlah bilirubin pada bayi.

" Proses peningkatan bilirubin pada bayi dapat disebabkan karena perbedaan golongan darah antara bayi dengan ibunya. Dari sekian jenis golongan darah, perempuan bergolongan darah O paling berisiko melahirkan bayi dengan hiperbilirubinemia level akut," kata dr Toto Wisnu Hendrarto, SpA(K), dari Unair.

 

5 dari 6 halaman

Efeknya Bagi Janin

Toto menjelaskan, selama proses kehamilan, darah ibu mentransfer nutrisi dan oksigen untuk bayi melalui tali pusar. Jika terjadi perbedaan golongan darah antara ibu dengan janin yang dikandung, maka darah ibu akan membentuk antigen, sehingga terjadi suatu reaksi antigen. Kondisi ini yang kemudian menghancurkan sel darah merah janin.

“ Jika golongan darah ibunya O, sementara anaknya non O, maka di dalam badan darah ibunya sudah membentuk anti O. Anti O itu yang menghancurkan sel darah merah bayi. Kondisi ini yang mengakibatkan terjadinya hiperbiliribunemia,” ujarnya.

Sebenarnya hiperbilirubinemia pada bayi dapat terdiagnosis sejak awal dengan mengetahui golongan darah pada perempuan sejak masa kehamilan.

“ Ketika sudah diketahui golongan darah si ibu ini O, maka dokter sudah mengkode supaya lebih waspada akan potensi bahaya ke depannya,” ujarnya.

 

6 dari 6 halaman

Bilirubin Tinggi/ Bayi Kuning

Perempuan bergolongan darah O sebenarnya berpotensi lebih besar melahirkan bayi dengan ensefalopati bilirubin dan potensi mengalami komplikasi berat.

Bilirubin yang tidak larut dalam lemak akan menempel di otak bisa mengakibatkan terjadinya kerusakan otak secara permanen bahkan berujung kematian. Untuk yang ringan, tingkat bilirubin pada bayi cukup tinggi atau disebut jaundice/ kuning.

“ Kalau ibunya O sementara bapaknya non O, dan ternyata melahirkan anak non O, maka perlu segera dilakukan deteksi dini. Terlebih lagi harus segera diketahui rhesusnya,” ungkap dr. Toto.

Selengkapnya baca di sini.

Join Dream.co.id