Mainan Terlalu Banyak, Ternyata Bisa Berdampak Buruk Bagi Anak

Do It Yourself | Senin, 4 Mei 2020 10:02
Mainan Terlalu Banyak, Ternyata Bisa Berdampak Buruk Bagi Anak

Reporter : Mutia Nugraheni

Sebaiknya lebih selektif saat membelikan mainan untuk anak.

Dream - Mainan memang tak bisa dilepaskan dari anak-anak. Saat pergi ke pusat perbelanjaan, mereka pastinya merengek minta mainan kesukaannya.

Tanpa disadari, mainannya sampai bertumpuk sampai berkardu-kardus. Padahal tak semuanya dimainnya, hal ini karena anak-anak mudah sekali bosan.

Paling hanya satu atau dua mainan yang selalu dimainkannya. Mulai sekarang, sebaiknya lebih selektif saat membelikan mainan untuk anak.

Mereka sebenarnya tak membutuhkan mainan yang banyak. Anak-anak justru lebih membutuhkan pengalamam baru yang seru dan memenuhi rasa ingin tahunnya. Lagipula, terlalu banyak mainan juga bisa berdampak buruk baginya.

 

2 dari 7 halaman

Imajinasinya kurang berkembang

Sebuah studi menunjukkan bahwa anak-anak ternyata menghabiskan banyak waktu hanya dengan 3 mainan saja. Hal ini membuktikan bahwa anak tak perlu memiliki banyak mainan untuk bersenang-senang.

Banyak mainan justru mengurangi rentang perhatian anak dan membuat mereka nggak mengembangkan kemampuan imajinasi. Hal ini bisa mengakibatkan anak sulit berkonsentrasi dan kesusahan menentukan pilihan di masa depan.

 

3 dari 7 halaman

Menjauhkan hubungan anak dan orang tua

Penelitian di Oxford mengungkapkan bahwa memberikan mainan pada anak bisa mengurangi waktu anak bersama dengan orangtua. Menurut penelitian ini, anak menunjukkan lebih banyak perkembangan emosional dan sosial jika mereka sering berinteraksi dengan orang tua mereka.

Psikolog pun setuju dengan pernyataan ini dan menambahkan bahwa membangun hubungan orang tua dan anak yang kuat bisa meningkatkan kecerdasan emosi pada anak. Hal ini sangat menguntungkan untuk kondisi mental dan kemampuan mereka.

Selengkapnya baca di Diadona.id

4 dari 7 halaman

Permainan Sederhana yang Bisa Tingkatkan Kekuatan Otak Bayi

Dream - Pertumbuhan dan perkembangan otak anak usia 0 hingga 5 tahun begitu pesat. Tak heran kalau di masa usia tersebut disebut dengan golden age. Untuk mendukung perkembangan otaknya dibutuhkan nutrisi yang optimal.

Tentunya dari asupan gizi sehari-sehari yang harus selalu terpenuhi. Tak hanya itu, ada juga hal yang tak kalah penting demi meningkatkan kemampuan otak bayi, yaitu memberikan stimulasi rutin.

Perkembangan otak anak sangat tergantung dari stimulasi yang diberikan orangtuanya. Ada beberapa stimulasi yang bisa dilakukan sendiri di rumah pada si kecil. Yuk simak.

 

5 dari 7 halaman

Lakukan Stimulasi Ini

Latihan Otot Mata
Gunakan boneka untuk mendapatkan perhatian si kecil, dengan cara menggerakkannya. Buat mata si kecil mengikuti boneka saat memindahkannya dari kiri ke kanan, atas dan bawah dan dalam bentuk setengah lingkaran. Latihan ini dapat membantu mempertahankan bidang penglihatan bayi yang luas.

Latih Indera Perasa
Latih panca indera si kecil untuk merangsang otak dan memberinya pemahaman bahasa, pastikan konsisten dengan kata-kata yang digunakan sehingga anak bisa mengerti. Jika menyebut sesuatu " panas" , selalu gunakan kata itu, alih-alih ganti kata dengan arti yang sama. Coba gunakan perbandingan, seperti kasar halus, atau panas dingin.

Selengkapnya baca di Diadona.id

6 dari 7 halaman

Kepala Bayi Baru Lahir Tak Rata, Ternyata Ini Penyebabnya

Dream - Pernah memperhatikan kondisi kepala bayi sesaat setelah lahir? Sebagian besar bayi yang baru lahir memiliki kondisi kepala yang tidak rata, atau kita kerap menyebutnya peang.

Mengapa demikian? Dilansir dari beberapa sumber, bayi yang baru lahir memiliki tulang tengkorak yang masih sangat lunak dan fleksibel, sehingga dapat berubah bentuk jika ada tekanan dalam jangka waktu yang lama.

Misalnya karena bayi berbaring ke satu sisi dalam waktu yang lama, inilah yang membuat kenapa bagian belakang kepala atau salah satu sisi kepala bayi yang seharunsya bulat menjadi peang atau datar.

 

7 dari 7 halaman

Dua Kondisi Kepala Bayi

Secara umum, kepala bayi peang dibagi menjadi dua jenis, yaitu plagiocephaly dan branchycephaly. Pada plagiocephaly, kepala bayi yang peang pada salah satu sisi, sehingga kepala terlihat asimetris.

Kondisi ini bisa membuat posisi kedua telinga terlihat tidak sejajar dan kepala nampak tidak rata kalau dilihat dari atas. 

Sedangkan, branchycephaly adalah kepala bayi yang peang pada bagian belakang. Kondisi ini membuat kepala bayi nampak melebar. Kepala bayi menjadi peang bisa dikarenakan oleh beberapa faktor.

Apa saja? Baca penjelasan selengkapnya di Diadona.id

Join Dream.co.id