Ini Penyebab Angka Kematian Anak Akibat Covid-19 di Indonesia Tinggi

Do It Yourself | Rabu, 30 Juni 2021 10:06

Reporter : Mutia Nugraheni

Penting diketahui para orangtua.

Dream - Beberapa waktu lalu, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aman B. Pulungan mengungkap kalau angka kematian anak akibat Covid-19 tertinggi di dunia. Menurut data IDAI, 1 dari 8 kasus COVID-19 adalah anak-anak.

Dari jumlah kasus tersebut, 3 sampai 5 persen anak di antaranya meninggal dunia akibat COVID-19 dan separuhnya adalah balita. Artinya, kematian paling tinggi akibat COVID-19 pada anak adalah balita (50 persen) dan pada kelompok usia 10-18 tahun, yaitu 30 persen.

Salah satu penyebab angka kematian anak karena Covid-19 di Indonesia tinggi ternyata karena komorbid (penyakit bawaan) yang tak terdeteksi. Kondisi komorbid secara medis memang sangat berpengaruh pada pasien Covid-19 baik dewasa maupun anak-anak.

" Anak juga bisa sakit dan meninggal karena COVID-19. Ini tergantung komorbid yang dimiliki anak. Ada yang berbeda antara komorbid anak dengan dewasa," kata Aman, dikutip dari Liputan6.com.

" Salah satu komorbid pada anak, yakni malnutrisi, obesitas, kelainan bawaan cerebral palsy, dan tuberkulosis (TBC), yang kadang tidak terdeteksi. Jadi, akhirnya inilah (komorbid) yang memperberat tingginya angka kematian COVID-19 pada anak," ujarnya.

 

Ini Penyebab Angka Kematian Anak Akibat Covid-19 di Indonesia Tinggi
Ilustrasi
2 dari 6 halaman

Pelayanan Kesehatan Kewalahan

Pemicu lain angka kematian COVID-19 pada anak di Indonesia tinggi, menurut Profesor Aman B. Pulungan, adalah karena pelayanan kesehatan tengah mengalami kesulitan.
Pasien COVID-19 yang membludak berimbas terhadap pelayanan kesehatan.

Pelayanan kesehatan berjalan kurang optimal. Selain itu, kesenjangan tes PCR antar daerah juga menyebabkan angka kematian anak akibat Covid-19 tinggi. Saat ini tes PCR yang dilakukan di Indonesia hanya beberapa provinsi yang sesuai dengan ketentuan WHO.

" Jadi, jangan hemat-hemat PCR termasuk pada anak. Akhirnya, kasus COVID-19 ini tidak terdeteksi. Jika tidak dilakukan tes PCR pada anak, sementara mereka menunjukkan gejala, maka bahaya long COVID-19 akan mengancam. Empat hingga delapan bulan ke depan, anak bisa jadi akan merasa lemas, tidak bisa konsentrasi, nyeri, dan gejala long covid lainnya" ujarnya memperingatkan.

3 dari 6 halaman

Setelah Sembuh, Anak Juga Bisa Alami Gejala Long Covid

Dream - Penularan Covid-19 di Indonesia kembali tinggi, bukan hanya pada orang dewasa tapi juga anak-anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia bahkan menyebut kalau angka kematian anak-anak Indonesia karena Covid-19 tertinggi di dunia.

Adanya virus Covid-19 varian delta membuat penularan jadi makin agresif. Sebagai orangtua kita harus lebih ketat lagi menjaga anak-anak. Pada anak Covid-19 cenderung bergejala ringan, tapi dari beberapa kasus anak juga bisa merasakan efek jangka panjang dari infeksi virus tersebut atau dikenal dengan long Covid.

Dikutip dari KlikDokter menurut dr. Adeline Jaclyn, long Covid adalah kondisi pasien COVID-19 yang sudah dinyatakan sembuh, namun masih merasakan gejala dan penurunan fungsi paru hingga berbulan-bulan lamanya. Singkatnya, para penyintas COVID-19 masih bisa mengalami gejala infeksi yang bertahan lama.

Gejala dari long Covid antara lain sulit bernapas, mengalami nyeri sendi, mengalami nyeri dada, batuk, keluhan pencernaan dan mudah lelah. Pada anak, menurut dr. Adeline long Covid bisa bergejala dan juga tidak.

4 dari 6 halaman

Cenderung Gejala Ringan

“ Tidak menutup kemungkinan juga bahwa long Covid dapat dialami oleh anak. Keluhan yang sering diungkapkan, meski sudah dinyatakan sembuh, berupa sesak napas, nyeri dada, nyeri sendi, perasaan lelah, keluhan pencernaan, dan sebagainya,” ujar dr. Adeline.

Apabila bergejala, biasanya ringan dengan intensitas batuk dan demam yang cukup sering. Kebanyakan anak bisa sembuh dalam satu hingga dua minggu setelah gejala muncul.

Lantas, adakah perbedaan antara COVID-19 dan long Covid? Dokter Adeline menegaskan, ‘perbedaan’ bukanlah kata yang tepat untuk membandingkan kedua kondisi tersebut.

Pasalnya, long Covid masih menjadi satu bagian dari COVID-19 dengan gejala yang mirip. Ini berlaku meski pasien sudah dinyatakan sembuh dan negatif dari virus corona. Selengkapnya baca di sini.

5 dari 6 halaman

Ketua IDAI Gambarkan Situasi Buruk Saat Ini Jika Anak Terkena Covid-19

Dream - Jumlah kasus Covid-19 pada Juni 2021 mencapai puncaknya sejak pandemi dinyatakan berlangsung di Indonesia pada Maret 2020. Bukan hanya menyerang orang dewasa, virus ini juga menulari anak-anak.

Menurut data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang disampaikan oleh Profesor Aman Bhakti Pulungan, dalam satu pekan terakhir penambahan kasus Covid-19 pada anak di Indonesia mencapai 5.500.

" Data @idai_tweets 1 minggu Ini sekitar 5500 kasus baru anak, yg buat sy menangis ada 13 Anak meninggal selama 1 minggu ini karena Covid dan lebih 50% adalah balita, yg tdk sempat Ulang tahun pertama atau ke5. Kenapa Kita tdk lindungi Anak kita?knp Anak tdk cukup tracing dan diswab?,"  ungkap Prof Aman dalam akun Twitternya.

Beliau juga mengingatkan para orangtua dalam situasi Covid-19 saat ini boleh dibilang sangat memprihatinkan. Kasus melonjak drastis dan fasilitas serta tenaga kesehatan sangat kewalahan.

" Kasus Anak melonjak. Tdk semua RS punya ruang khusus Anak. Andaipun ada,Kita tdk siap dgn Nakes yg Sdh ditrain merawat anak. Anak bisa terinfeksi covid dan bisa meninggal. Jaga Anak kita. Jk tdk perlu,Anak Jangan keluar rumah atau Ke keramaian. Jadilah Ayah Bunda masa pandemi,"  pesan Prof Aman.

Ia juga menceritakan saat ini kondisi di banyak rumah sakit bahkan sudah krisis tabung oksigen. Hal ini akan sangat berisiko bagi anak jika tertular Covid-19 dan harus di rawat.

 Twitter Profesor Aman
© Twitter Profesor Aman

 

 

6 dari 6 halaman

Peringatan dari IDAI, Kematian Anak Indonesia karena Covid-19 Tertinggi di Dunia

Dream - Kasus Covid-19 di Indonesia saat ini kembali melonjak tajam dan diperparah dengan adanya varian delta yang lebih menular. Hal ini harus jadi perhatian para orangtua dalam menjaga anak-anaknya.

Sebuah fakta memilukan diungkap oleh Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Aman Bhakti Pulungan. Profesor Aman mengatakan kematian anak akibat Covid-19 di Indonesia merupakan tertinggi di dunia. Kesimpulan ini berdasarkan data case fatality atau tingkat kematian pada anak akibat virus SARS-CoV-2 itu.

" Data IDAI menunjukkan case fatality ratenya itu adalah 3 sampai 5 persen. Jadi kita ini kematian yang paling banyak di dunia," katanya, Senin, 21 Juni 2021, dikutip dari Merdeka.com.

Ia menjelaskan, dari total kasus positif Covid-19 nasional saat ini, 12,5 persen dikontribusikan anak usia 0 hingga 18 tahun. Ini menunjukkan, satu dari delapan kasus positif Covid-19 di Indonesia merupakan anak.

Tertinggi di Jakarta

Jika dilihat dari data provinsi 17 Juni 2021, DKI Jakarta mencatat angka penambahan kasus positif Covid-19 cukup tinggi pada anak. Dalam sehari, ada peningkatan 661 anak terjangkit Covid-19. Dari jumlah tersebut, 144 di antaranya usia balita (bawah lima tahun).

" Saya sering mengatakan 50 persen kematian anak itu balita, bukan balita itu meninggal 50 persen. Jadi dari seluruh yang meninggal pada anak, 50 persennya balita," ungkapnya.

Menurut Aman, situasi kasus Covid-19 pada anak di Indonesia mengkhawatirkan. Hal ini lantaran sebagian besar rumah sakit belum memiliki ruang ICU (Intensive Care Unit) khusus anak.

Sementara itu, obat-obatan termasuk Intravenous Fluid Drops (IVFD) terbatas karena tidak masuk dalam skema pelayanan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan.

" Saat ini juga, SDM semakin menurun, termasuk dokter dan perawat. Ini kan menjadi masalah. Jadi kita bisa kolaps," kata dia.

Laporan Supriatin

Join Dream.co.id