Ibu Hamil yang Positif Covid-19 Harus Ditangani Tim Dokter

Do It Yourself | Kamis, 26 November 2020 10:05
Ibu Hamil yang Positif Covid-19 Harus Ditangani Tim Dokter

Reporter : Mutia Nugraheni

Gejala yang muncul harus diperhatikan. Bila masuk kategori sedang wajib dirawat di rumah sakit.

Dream - Sistem kekebalan tubuh ibu hamil cenderung lemah, hal ini membuat mereka lebih rentan tertular virus Covid-19. Dibutuhkan kedisiplinan diri serta keluarga di rumah dalam menjaga kesehatan ibu hamil agar tak tertular virus tersebut.

Pasalnya, ibu hamil yang terkena Covid-19 berisiko mengalami keguguran. Terutama di trimester pertama kehamilan mulai di usia kehamilan di bawah 12 minggu. Lalu bagaimana jika hasil pemeriksaan ibu hamil ternyata positif Covid-19?

Ibu hamil bisa melakukan konsultasi lewat telemedicine, dan kondisi kesehatannya harus dipantai secara intensif. Gejala yang muncul pun harus diperhatikan.

" Laporkan kondisi tubuh secara jujur kepada petugas medis dan dokter. Dilihat dari gejala lebih dulu, jika tak bergejala bisa isolasi mandiri dan melakukan telemedicine," ujar dr. Merwin Tjahjadi, Sp.OG yang berpraktik di RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, dalam webinar yang digelar RSPI 25 November 2020.

 

 

2 dari 7 halaman

Dirawat oleh Tim Dokter

Pada ibu hamil pasien Covid-19 yang bergejala sedang dan berat, akan dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Dalam melakukan pemantauan, ibu hamil tak hanya diperiksa oleh dokter kandungan, tapi juga tim dokter.

" Dokter kandungan tidak bisa merawat pasien (ibu hamil) sendiri, harus berbarengan dengan tim dokter Covid yang terdiri dari dokter paru, dokter ahli infeksi dan juga dokter kandungan untuk memastikan keadaan janin," ujar dr. Mervin.

Seperti juga pasien Covid-19, ibu hamil harus menjalani perawatan isolasi dan tak boleh dikunjungi keluarga atau kerabat demi mencegah penularan. Bila ibu sudah masuk dalam tahap persalinan, maka protokol kesehatan harus dilakukan dengan ketat oleh tim medis.

Persalinan dilakukan di ruangan bertekanan negatif. Seluruh tim medis, juga harus menggunakan APD lengkap. Kuncinya adalah disiplin dengan protokol kesehatan demi mencegah penularan.

" Pengalaman, ada beberapa pasien yang positif pada saat mau melahirkan. Saya rasa selama kita menerapkan protokol, APD lengkap, tidak ada yang sulit merawat pasien covid, yang terpenting adalah kesiapan rumah sakit dengan protokol kesehatan," kata dr. Mervin.

 

3 dari 7 halaman

Muncul Gejala Covid-19, Bolehkah Ibu Menyusui?

Dream - Bayi berhak mendapatkan air susu ibu (ASI) apapun kondisinya. Termasuk jika ibu sedang mengalami gejala atau sudah positif Covid-19. Bagi ibu yang sedang menyusui dan masih banyak beraktivitas di luar rumah, sederet protokol kesehatan ketat harus dilakukan.

Sesampainya di rumah, segera mandi dan ganti baju. Cuci tangan dengan sabun, baru memegang bayi dan menyusui. Hal ini sangat penting, jangan sampai bayi tertular virus dari ibu.

Penting diketahui, sampai Oktober 2020, virus SARS-COV2 belum ditemukan terdeteksi pada ASI. Para peneliti terus-menerus melakukan penelitian dan melakukan telaah lebih lanjut terhadap ibu hamil dan menyusui yang terkonfimasi Covid-19.

" Namun demikian, penularan virus penyebab sakit pernapasan melalui ASI tergolong rendah, sehingga WHO (World Health Organization) tetap memberikan rekomendasi bagi ibu yang terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) maupun COVID-19 untuk tetap menyusui," ujar dr. Meutia Ayuputeri Kumaheri, M.Res, IBCLC, CIMI, konsultan laktasi dari Rumah Sakit Pondok Indah, Bintaro Jaya.

 

 

4 dari 7 halaman

Lakukan Panduan Ini

Seorang ibu yang positif Covid-19 atau yang dicurigai terinfeksi Covid-19 dalam isolasi mandiri, menurut dr. Meutia, dapat menyusui. Tentu saja harus menerapkan langkah-langkah pencegahan penularan demi menjamin keamanan bayi dari penularan penyakit. Berikut panduannya:

- Cuci tangan sebelum bersentuhan dengan bayi, peralatan pompa, dan peralatan minum bayi
- Ikuti semua petunjuk cara membersihkan peralatan pompa dan minum bayi
- Gunakan masker wajah saat menyusui bayi
- Ganti masker apabila lembab atau basah
- Segera buang masker sekali pakai setelah tidak digunakan
- Saat memakai dan membuka masker, hindari memegang wajah bagian depan
- Apabila ibu harus dalam perawatan terpisah dengan bayi, cari informasi terkait donor ASI atau orang sehat yang dapat memberikan ASI perah kepada bayi
- Orang sehat yang merawat dan memberikan ASI perah kepada bayi juga harus menjalankan protokol kesehatan yang sama dengan ibu
- Bersihkan area permukaan perabotan di rumah dengan cairan pembersih secara berkala
- Ibu tidak perlu membersihkan kulit payudara secara teratur sebelum menyusui atau perah ASI. Namun demikian, apabila ibu batuk atau bersin mengenai kulit payudara, ibu dapat segera mandi dan membersihkan area kulit payudara dengan sabun dan air mengalir selama 20 detik, sebelum menyusui
- Apabila ibu merasakan gejala-gejala COVID-19 seperti demam, sakit kepala, batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan lainnya, segera konsultasikan ke dokter
- Apabila ibu mengalami keraguan, dapat berkonsultasi dengan tenaga profesional yang dapat membimbing menyusui dalam kondisi COVID-19
- Pilih fasilitas kesehatan untuk konsultasi dokter atau konsultasi laktasi yang menjalankan protokol kesehatan yang ketat

" Langkah-langkah di atas tak hanya dapat diterapkan pada ibu yang dicurigai atau positif Covid-19, tapi juga untuk semua ibu menyusui yang sehat. Protokol kesehatan yang ketat memang sangat penting diberlakukan di masa pandemi sekarang ini," ujar dr Meutia.

Apabila ibu menyusui menemukan kesulitan dalam kegiatan menyusui, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan konselor atau konsultan laktasi. Segera datang ke fasilitas klinik laktasi dan konsultan menyusui, seperti di RS Pondok Indah Group.

5 dari 7 halaman

Aktivitas Inisiasi Menyusui Berkurang Drastis karena Pandemi Covid-19

Dream - Setelah bayi lahir, idealnya ditempakan di perut ibu untuk melatihnya merangkak mencari puting payudara. Setelah itu, bayi akan menyusu dan didiamkan selama beberapa menit agar kontak kulit dengan ibu. Proses ini disebut Insiasi Menyusui Dini (IMD) yang sangat berpengaruh pada keberhasilan menyusui.

Pada masa pandemi COVID-19 seperti sekarang, aktivitas IMD bisa menurun drastis. Ini dikarenakan pembatasan layanan konseling laktasi serta kondisi darurat yang terjadi bila ibu melahirkan terpapar COVID-19.

“ Pandemi COVID-19 menurunkan aktivitas Inisiasi Menyusu Dini. Kondisi ini terjadi karena kunjungan ibu hamil dibatasi, sehingga layanan konseling laktasi sebelum melahirkan terhambat," ungkap Fenny Yunita, konselor Laktasi, Dosen dan Peneliti Bahan Alam dikutip dari Liputan6.com.

Konseling laktasi termasuk salah satu kunci keberhasilan menyusui. Belum lagi ibu melahirkan yang positif COVID-19.

" Ini membuat IMD tidak berjalan karena menghindari kontak erat dengan ibu, sehingga menyusui sesering mungkin sesuai kebutuhan bayi juga tak terlaksana," kata Fenny.

 

6 dari 7 halaman

Detail IMD

Pemberian Air Susu Ibu (ASI) segera setelah bayi baru lahir perlu dilakukan, yaitu sekitar 30 menit sampai 1 jam pasca-persalinan. Dalam proses ini, bayi yang baru saja dilahirkan akan dibiarkan untuk mencari puting susu ibunya, tanpa bantuan siapapun.

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Emi Nurjasmi menerangkan, menyusui harus menjadi prioritas dalam kondisi apapun. Hal ini sebagai pilihan utama asupan nutrisi untuk bayi.

“ Hanya saja keterbatasan saat ini terkait edukasi menyusui dan IMD secara langsung. Tapi kami sebagai bidan memiliki solusi terkait edukasi ini melalui digital, seperti kelas online atau webinar,” terangnya.

 IMD merupakan langkah awal kesuksesan menyusui untuk enam bulan ke depan atau masa pemberian ASI eksklusif. Emi pun mendorong edukasi dan akses informasi seputar IMD bagi ibu hamil, yang juga didukung oleh suami dan keluarga.

Terkait IMD, Kementerian Kesehatan sudah menerbitkan Panduan Pelayanan Kesehatan Balita pada Masa Pandemi COVID-19 bagi Tenaga Kesehatan. Panduan tersebut juga bisa memberi pemahaman kepada para ibu.

Pada panduan yang diterbitkan sesi Edisi Revisi 22 April 2020, ibu yang terpapar COVID-19 tidak diperbolehkan mendapat IMD.

7 dari 7 halaman

Berikut Panduannya

Inisiasi menyusu dini (IMD) diupayakan tetap dilakukan, sambil melakukan upaya pencegahan penularan infeksi. Sebaiknya tetap berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Namun, bayi yang lahir dari ibu OTG/ODP/PDP/Terkonfirmasi, tidak dilakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD).

Bayi yang lahir dari ibu OTG/ODP tidak diperbolehkan IMD namun selanjutnya bisa mendapatkan ASI dengan menyusu langsung dari ibu, setelah berdiskusi dengan tenaga kesehatan menimbang keuntungan dan kerugian menyusu langsung, serta kepatuhan ibu dalam mencegah penularan, antara lain menggunakan masker bedah, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan sesudah kontak bayi, dan rutin membersihkan area permukaan dimana ibu melakukan kontak.

Dalam keadaan tidak bisa menjamin prosedur perlindungan saluran napas dan pencegahan transmisi melalui kontak, maka bayi diberikan ASI perah. Untuk penggunaan pompa ASI, kebersihan pompa perlu dijaga. Kesehatan ibu akan dipantau terus, hingga ibu dinyatakan negatif COVID-19.

Bayi yang lahir dari ibu PDP atau terkonfirmasi COVID-19, diberikan ASI perah. Pompa ASI hanya digunakan oleh ibu tersebut dan dilakukan pembersihan pompa setelah digunakan, kebersihan peralatan untuk memberikan ASI perah harus diperhatikan. Ibu dan bayi dimonitor ketat dan dilakukan rawat terpisah (atas persetujuan ibu) sampai diketahui hasil pemeriksaan COVID-19 ibu negatif serta perlu di follow up hingga pulang.

Join Dream.co.id