Hoax Jadi Salah Satu Penghambat Sulitnya Pemberian ASI Eksklusif

Do It Yourself | Rabu, 4 Agustus 2021 16:03

Reporter : Mutia Nugraheni

Banyaknya hoax membuat banyak ibu ragu memberikan ASI eksklusif untuk bayinya.

Dream – Air Susu Ibu (ASI) merupakan sumber gizi utama bagi bayi yang belum bisa mengonsumsi makanan padat. Bayi usia 0 hingga 6 bulan disarankan hanya diberi ASI tanpa tambahan makanan apapun atau ASI eksklusif.

Dalam kondisi pandemi seperti sekarang, pemberian ASI ekslusif kerap terhambat. Dari penelitian yang dilakukan Health Collaborative Center (HCC) terungkap kalau sebanyak 62% tenaga kesehatan sulit mempertahankan ibu menyusui dan pemberian ASI eksklusif.

Hal tersebut dijelaskan oleh dr. Ray Wagiu Basrowi pendiri HCC dalam media brief yang membahas Hasil Penelitian Kesiapan Tenaga Kesehatan Indonesia Sukseskan ASI Selama Pandemi pada Rabu, 4 Agustus 2021.

Penelitian dilakukan pada 1.004 responden yang merupakan tenaga kesehatan dari 25 provinsi di Indonesia. HCC mengidentifikasi terdapat 4 faktor penting yang membuat tenaga kesehatan sulit mempertahankan ibu menyusui.

1. Fasilitas kesehatan layanan primer tidak memiliki pelayanan antenatal care daring atau telemedicine selama pandemi COVID-19.

2. Tenaga kesehatan di layanan primer tidak pernah mendapatkan pelatihan menyusui khusus manajemen laktasi untuk pandemi

3. Tidak tersedia informasi mengenai menyusui yang aman selama pandemi di fasilitas kesehatan

4. Fasilitas kesehatan primer tidak memiliki fasilitas menyusui khusus pasien COVID-19.

 

Hoax Jadi Salah Satu Penghambat Sulitnya Pemberian ASI Eksklusif
Menyusui
2 dari 6 halaman

Hoax Jadi Musuh Utama Pemberian ASI Eksklusif

Selain empat faktor di atas, Dokter Ray mengatakan aspek lain yang menjadi salah satu faktor tenaga kesehatan sulit melanjutkan ASI eksklusif adalah hoax.

“ Ibu-ibu sekarang lebih percaya hoax di grup WhatsApp atau Instagram. Dokter atau Bidan tidak lagi dipercaya,” ujar dr. Ray Wagiu Basrowi dalam webinar yang digelar HCC menyambut Pekan ASI Sedunia, 4 Agustus 2021.

Salah satu hoax yang paling sering ditemui adalah pemberian ASI dapat menularkan virus corona. Padahal menurutnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) serta beberapa penelitian mengatakan ASI ibu yang terpapar COVID-19 justru memiliki antibodi spesifik yang dapat melindungi bayi.

Dampak hoax terutama saat pandemi sangat luar biasa selain bisa membuat ibu menyerah dalam memberikan ASI eksklusif. Para tenaga kesehatan seperti dokter dan bidan juga kerap tak dipercaya saat memberikan informasi soal pentingnya pemberian ASI eksklusif.


Laporan: Elyzabeth Yulivia

3 dari 6 halaman

Sederet Tantangan Ibu Menyusui di Masa Pandemi

Dream – Menyusui secara eksklusif selama enam bulan sebelum pandemi, sudah merupakan tantangan tersendiri bagi para ibu. Dalam situasi pandemi seperti sekarang, hal tersebut jadi lebih sulit lagi.

Ibu merasa stres, kondisi serba tak stabil dan diliputi kecemasan. Belum lagi jika di keluarga ada yang terpapar Covid-19 atau ibu menyusui yang tertular. Memicu produksi air susu menurun, dan ibu tak bisa memberi ASI secara optimal.

Dalam webinar yang digelar Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) bertema 'Perlindungan Menyusui Tanggung Jawab Bersama' pada 28 Juli 2021 kemarin, Ninik Sukotjo dari UNICEF mengungkap kalau angka ibu menyusui cenderung turun semenjak masa pandemi.

" Hal ini terjadi karena kekhawatiran seorang ibu yang positif Covid-19, akan menularkan virus kepada jabang bayi," ujarnya.

Bagi ibu yang tertular Covid-19 sebenarnya tak perlu berhenti menyusui. ASI tetap bisa dipompa dan diberikan pada bayi menggunakan sendok atau botol.

Studi global juga menunjukkan ibu yang positif tetap aman untuk menyusui. Donor ASI juga diperbolehkan. Sedangkan susu formula menjadi opsi terakhir, apabila opsi lain tidak mampu dijalankan.

 

4 dari 6 halaman

Promosi Produk Pengganti ASI

Dalam webinar tersebut juga dipaparkan data dari Kementerian Kesehatan bahwa cakupan inisiasi menyusui dini (IMD) belum menunjukkan adanya peningkatan dan masih berada dalam 57-60 persen. Lalu, pmberian ASI eksklusif juga hanya menempuh persentase 52 persen dari bayi berusia di bawah enam bulan.

Tak dapat dipungkiri, tantangan menyusui selama masa pandemi itu sangat luar biasa. Banyak ibu yang terpengaruh dengan produk pengganti ASI.

Promosi produk serupa biasanya dijumpai pada banner di lokasi vaksinasi, iklan di media sosial Instagram, dan produsen yang langsung mengontak target konsumen. Mempromosikan produk pengganti ASI merupakan tindakan yang tidak patut dilakukan.

“ Ketika anak tidak mendapatkan ASI, mereka akan mengonsumsi produk pengganti asi. Lebih dari 800 ribu anak meninggal akibat daya tahan tubuh yang lemah,” ujar Irma Hidayana, penggagas platform LaporCovid19.

Dalam kondisi sekarang, penting bagi ibu untuk mencari pendampingan atau dukungan. Bukan hanya dari keluarga tapi juga support group seperti mengikuti kelas atau konseling yang kerap diselenggarakan oleh AIMI. Bisa dilihat di situsnya atau pun media sosial AIMI.

Laporan: Angela Irena Mihardja

5 dari 6 halaman

Covid-19 Varian Delta Sangat Berbahaya Bagi Ibu Hamil dan Menyusui

Dream - Virus Covid-19 varian delta sudah masuk ke Indonesia. Awalnya terdeteksi di DKI Jakarta, Kudus dan Bangkalan. Diperkirakan varian ini sudah menyebar dengan cepat ke berbagai daerah.

Virus varian delta menurut Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Daeng M Faqih banyak menyerang anak-anak muda. Lebih menular dan langsung memunculkan gejala berat.

" Varian delta ini justru banyak menyerang yang masih muda-muda serangannya langsung dengan gejala berat yang bersangkutan tidak menyadari atau kurang aware, sakit sedikit tidak peduli, sehingga langsung datang dengan gejala berat, kalau datang dengan gejala berat maka angka kesembuhan lebih kecil," kata dr Daeng, dikutip dari Merdeka.com.

Daeng melanjutkan, varian delta ini juga berbahaya bagi ibu hamil yang sedang mengandung dan ibu menyusui. Kontak erat dan lebih menular, ibu sangat mudah menulari bayinya saat menyusui.

" Betul lebih berbahaya. Untuk ibu hamil akan berpengaruh terhadap janin. Atau kalau ibu menyusui berpengaruh kepada anaknya. Sebab hubungan yang dekat itu bisa ikut tertular juga," ujar Daeng.

 

6 dari 6 halaman

Lebih Cepat Menular

" Varian delta ini selain lebih cepat menular, juga lebih berbahaya. Mulanya gejala-gejala ringan tapi perburukannya lebih cepat. Jadi misalnya mengalami sesak napas, lalu lebih cepat memburuk kondisinya," lanjutnya.

Menurutnya, pasien yang terpapar Covid-19 tidak boleh lengah meski masih mengalami gejala ringan. Jangan sampai terlambat menunggu gejala sedang atau berat.

" Dengan gejala yang mungkin masih ringan sebaiknya cepat segera ditangani, jangan sampai lengah walau ringan. Karena pengalaman kami selama setahun lebih ini, kalau orang kena Covid-19 dan cepat ditangani maka tingkat kesembuhan lebih tinggi," kata Daeng.

Join Dream.co.id