Heboh Pernyataan Dokter Soal Area Intim yang 'Gendut' Picu Operasi Caesar

Do It Yourself | Kamis, 19 Desember 2019 15:30

Reporter : Mutia Nugraheni

Pernyataan tersebut mengundang kontroversi.

Dream - Jumlah persalinan caesar tiap tahun terus meningkat. Kecenderungan ini bukan hanya terjadi di negara Asia tapi juga Inggris dan Eropa. Banyak faktor yang memicu persalinan harus dilakukan secara caesar.

Misalnya, kondisi ibu yang memiliki tekanan darah tinggi, panggul yang tak cukup lebar untuk bisa mengeluarkan bayi, letak plasenta yang tidak normal dan masih banyak lagi.

Kecenderungan meningkatnya jumlah operasi caesar di dunia ini juga dikomentari oleh dr. Marco Gaudoin, seorang dokter di Glasgow Centre for Reproductive Medicine di Skotlandia.

Dalam sebuah wawancara dengan radio BBC, Gaudoin mengungkap kalau obesitas pada ibu juga kerap jadi penyebab persalinan caesar. Pernyataan ini rupanya jadi kontroversi.

" Dengan obesitas, ibu akan memiliki jaringan lemak yang cukup banyak di jalan lahir. Ini membuat jalan lahir jauh lebih sempit, yang membuat bayi lebih sulit melaluinya. Jadi ibu cenderung membutuhkan obstruksi persalinan," ujar Gaudoin.

 

 

Heboh Pernyataan Dokter Soal Area Intim yang 'Gendut' Picu Operasi Caesar
Operasi Caesar
2 dari 8 halaman

Sang Dokter dapat Kritikan Keras

Pernyataan Gaudoin ini kemudian banyak diinterpretasikan sebagai area intim yang 'gendut' penuh lemak bakal memicu caesar. Tentu saja banyak pihak yang menganggap pernyataan tersebut tidak tepat.

" Saya kurus dan harus menjalani operasi caesar darurat saat saya melahirkan tiga minggu lebih awal. Alasan c section lebih karena kesehatan ibu dan bayi yang sama-sama dijaga dan dipertahankan," tulis seorang warganet mengomentari pernyataan Gaudoin.

" Aku sangat menyayangkan pernyataan tersebut keluar dari mulut seorang dokter," kata salah satu warganet.

 

3 dari 8 halaman

Ketahui Faktanya

Bukti untuk mendukung pernyataan Gaudoin pada dasarnya tidak ada, meskipun ada beberapa hubungan antara obesitas dan tingkat C-section. Sebuah studi tahun 2016 menemukan bahwa bayi yang dilahirkan dengan operasi caesar lebih cenderung mengalami obesitas saat dewasa, dan badan yang lebih pada ibu hamil telah dikaitkan dengan risiko operasi caesar yang lebih tinggi.

Penting diketahui, kondisi lemak di area intim perempuan atau vagina, menurut dr. Virginia Beckett, juru bicara Royal College of Obstetricians dan Gynaecologists tidak berkaitan dengan sulitnya persalinan normal.

" Obstruksi persalinan terjadi karena ketidaksesuaian posisi bayi di jalan lahir atau tidak pasnya ukuran bayi dan jalan lahir," kata Beckett.

Ia menambahkan memang perempuan yang memiliki berat badan berlebih cenderung memiliki bayi yang besar. Efek dari janin yang besar adalah ia tidak dapat bergerak dengan mudah di jalan lahir untuk keluar. Jadi bukan karena tumpukan lemak di area intim.

Sumber: CafeMom

4 dari 8 halaman

Jangan Terjebak Mitos Soal Operasi Caesar, Ketahui Faktanya

Dream - Ada berbagai mitos melahirkan caesar yang mungkin sering ibu dengar dari kerabat, teman atau mungkin sesepuh. Seperti anggapan bahwa ibu yang melahirkan dengan operasi belum menjadi ibu sepenuhnya atau bayi yang dilahirkan dengan operasi caesar rentan terkena penyakit.

Jangan langsung percaya jika mendengar hal tersebut. Hal penting untuk diyakini adalah baik melahirkan secara normal maupun melalui operasi caesar, ibu tetaplah ibu.

Pada sejumlah kondisi, seperti letak bayi sungsang, bayi terlalu besar, kembar lebih dari 2, dan plasenta yang ada di bawah (plasenta previa), melahirkan secara caesar boleh dibilang merupakan pilihan paling aman bagi ibu dan bayi.

Dokter pasti memiliki pertimbangan khusus. Keselamatan ibu dan bayi adalah yang utama, bukan hanya menyelamatkan salah satunya. Daripada percaya mitos, lebih baik ketahui fakta-fakta berikut.

 

5 dari 8 halaman

Operasi caesar menunda proses menyusui dan “bonding time” dengan bayi

Anggapan ini tentunya kurang tepat, karena saat melahirkan dengan operasi caesar, ada pilihan metode pembiusan yang akan dilakukan. Jika dilakukan bius total, mungkin pemberian ASI baru bisa dilakukan saat ibu sadar penuh.

Selain itu, sebagian besar operasi caesar biasanya menggunakan bius sebagian atau epidural yang hanya membuat area pinggang ke bawah mati rasa.

Bius epidural akan membuat bayi yang dilahirkan melalui operasi caesar boleh langsung ditaruh di dada ibu, untuk melakukan inisiasi menyusui dini (IMD) layaknya melahirkan normal.

IMD yang dilakukan pada operasi caesar sedikit berbeda dengan melahirkan normal. Pada persalinan normal, bayi akan diletakkan di perut ibu. Sedangkan pada operasi caesar, bayi akan diletakkan di dada.

 

6 dari 8 halaman

Gagal menjadi ibu karena tidak merasakan sakitnya melahirkan

Mitos melahirkan caesar yang satu ini tentu tidak benar, karena baik ibu melahirkan normal maupun caesar sama-sama merasakan sakit. Bedanya, sakit melahirkan normal terjadi saat proses persalinan, sedangkan sakit melahirkan caesar dirasakan setelah proses persalinan atau setelah efek bius hilang.

Faktanya, ibu yang melahirkan dengan operasi caesar bisa mengalami rasa nyeri yang lebih lama. Ibu yang pun tetap mengalami nifas, dan memiliki risiko mengalami baby blues syndrome, depresi pascamelahirkan, dan infeksi. Jadi, tidak jauh berbeda kan, Bunda?

 

7 dari 8 halaman

Sekali melahirkan caesar, selamanya akan caesar

Mitos ini pun tidak tepat. Jika tidak ada masalah kesehatan, baik pada ibu maupun pada janin, Bunda masih bisa melahirkan normal setelah operasi caesar, kok. Namun, memang ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, seperti jarak kehamilan, alasan dilakukan operasi caesar sebelumnya, kondisi janin dan ibu, serta riwayat kesehatan ibu.

 

8 dari 8 halaman

Bayi yang lahir secara caesar rentan sakit

Keyakinan ini tak sepenuhnya salah. Bayi yang lahir secara caesar memang lebih berisiko mengalami gangguan pernapasan, terlebih jika proses persalinannya dilakukan sebelum usia kehamilan 39 minggu. Hal ini karena proses pematangan paru dan proses persalinan normal bisa membantu bayi mengeluarkan cairan dari paru-parunya.

Kesehatan bayi tidak sepenuhnya bergantung pada pilihan proses persalinan yang dilakukan, karena ada banyak faktor lain yang juga memengaruhi, mulai dari proses menyusui, imunisasi, hingga gaya dan pola hidup sehat yang dijalani bayi ke depannya.

Sumber: AloDokter

Join Dream.co.id