Efek Jangka Panjang Jika Anak Kekurangan Zat Besi

Do It Yourself | Jumat, 18 Desember 2020 08:05
{IMAGE_NORMAL}

Reporter : Mutia Nugraheni

Tanpa zat besi, organ-organ tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup sehingga menyebabkan gangguan tumbuh kembang.

Dream - Masalah kekurangan zat besi pada anak kerap tak disadari orangtua. Biasanya ketika muncul masalah konsentrasi, anak tak aktif, mudah lemas dan lesu atau melalui pemeriksaan darah, baru diketahui kalau anak mengalami anemia.

Kekurangan zat besi adalah kondisi ketika kadar ketersediaan zat besi dalam tubuh lebih sedikit dari kebutuhan harian. Sebagai bagian dari hemoglobin, fungsi utama zat besi adalah mengantarkan oksigen dari paru-paru untuk digunakan oleh bagian-bagian dalam tubuh anak.

Tanpa zat besi, organ-organ tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup sehingga menyebabkan gangguan tumbuh kembang anak baik secara kognitif, fisik, hingga sosial. Faktanya, satu dari tiga anak Indonesia berusia di bawah lima tahun tercatat anemia (data riset kesehatan dasar/ Riskesdas 2018), di mana 50-60% kejadian anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi.

" Anak yang kekurangan zat besi belajarnya di sekolah akan terganggu, kurang responsif, fungsi motoriknya juga turun, main bola cepat capek, cepat lelah, letih lesu. Dampak jangka panjang, performanya di sekolah menurun, kurang tanggap, anak jadi cenderung penakut dan peragu, kurang percaya diri, perilakunya lebih sulit diatur," kata dr. Nurul Ratna Mutu Manikam, M.Gizi, SpGK, dalam webinar yang digelar Danone, 17 Desember 2020.

 

{IMAGE_PAGING}
2 dari 6 halaman

Perhatikan Asupan Harian

Dokter Nurul mengingatkan para orangtua untuk memenuhi kebutuhan protein si kecil teruutama sejak ia mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI (MPASI). Berikan banyak protein hewani, seperti ikan, daging atau makanan laut.

" Defisiensi zat besi, artinya itu bisa koreksi dari makanan sehari-hari. Untuk kebutuhan protein pilihannya didahulukan dari hewani baru nabati," ujar Nurul.

Menurut dr. Nurul, asupan zat besi yang tidak adekuat dapat menyebabkan menurunnya kecerdasan, fungsi otak, dan fungsi motorik anak sehingga dalam jangka panjang, dapat berakibat menurunnya performa di sekolah. Termasuk perubahan atensi dan sosial akibat tidak tanggap terhadap lingkungan sekitar, serta perubahan perilaku pada anak.

 

3 dari 6 halaman

Protein Hewani

Salah satu penyebab utama terjadinya kekurangan zat besi adalah kurangnya konsumsi asupan makanan kaya zat besi, terutama dari sumber hewani seperti daging merah, hati, ikan, dan ayam. Jika tidak ditangani, gangguan ini bisa jadi permanen.

Bagaimana mengetahui apakah anak kekurangan zat besi atau tidak? Danone Specialized Nutrition Indonesiaa menyediakan sebuah platform daring. Situs ini bisa membantu orang tua melakukan tes risiko terjadinya kekurangan zat besi pada anak melalui fitur di dalam situs www.generasimaju.co.id.

" Danone Specialized Nutrition (SN) Indonesia ingin mengajak orang tua untuk bisa memberikan perhatian khusus dalam memastikan kebutuhan harian gizi anak, termasuk zat besi, telah terpenuhi dan terserap dengan baik,” ujar Arif Mujahidin, Corporate Communications Director Danone Indonesia, di kesempatan yang sama.

4 dari 6 halaman

Anak Mulai Penasaran dengan Sashimi, Kapan Boleh Makan?

Dream - Menu sashimi biasanya jadi favorit saat kita makan di restoran Jepang. Irisan ikan mentah namun segar disajikan dalam potongan kecil dengan saus shoyu yang begitu gurih.

Rasanya begitu segar dan 'meleleh' di lidah. Melihat orangtuanya menyantap sashimi, mungkin anak penasaran akan rasanya. Sayangnya hidangan ini memang tak direkomendasikan bagi anak karena tidak dimasak.

Pada anak yang sensitif, bisa memicu masalah pencernaan hingga keracunan. Makanan mentah seperti sashimi bisa saja terkontaminasi oleh bakteri, virus, atau parasit. Anak yang mengonsumsi makanan mentah terkontaminasi akan mengalami gejala mirip dengan flu perut, sehingga sulit dideteksi.

Pada dasarnya, saat memasuki usia 2-3 tahun, sistem kekebalan tubuh anak belum bekerja dengan sempurna. Nah, saat memasuki usia 4-6 tahun, sistem kekebalan tubuhnya baru mulai bekerja seperti orang dewasa dan akan terus berkembang sepanjang pubertas.

Atas dasar itu, meski belum ada aturan baku, ahli kesehatan menyarankan makanan mentah sebaiknya diberikan saat anak telah memasuki usia 5 atau 6 tahun. Demia mencegah efek keracunan makan sashimi pada anak, berikut ini beberapa trik yang bisa dilakukan.

 

 

5 dari 6 halaman

Simpan dengan Tepat

Untuk mencegah kontaminasi kuman pada makanan mentah, pastikan hanya mengonsumsi sashimi di restoran yang hanya menyajikan sashimi kualitas terbaik.
Jika ingin mengonsumsinya di rumah, kebersihan penyimpanan dan kebersihan harus diperhatikan dengan ekstra.

2. Simpan di tempat yang tepat dan segera
Jika membeli ikan mentah dan akan dikonsumsi di rumah, ada baiknya perhatikan juga tempat menyimpannya. Risiko keracunan makanan akan meningkat apabila penyimpanan dilakukan pada suhu kamar, karena bakteri dapat berkembang dengan pesat. Oleh karena itu, akan lebih baik jika segera mengonsumsi makanan tersebut agar kesegarannya terjaga.

Jika memang ingin menyimpan daging, ayam, atau ikan dalam bentuk mentah di dalam kulkas, gunakan wadah tertutup rapat dan letakkan terpisah dengan bahan makanan lainnya.

 

6 dari 6 halaman

Cuci Tangan

3. Cuci tangan sebelum menyiapkan makanan untuk anak
Kita perlu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum maupun setelah mengonsumsi makanan mentah atau matang. Cuci tangan juga perlu dilakukan sebelum menyimpan atau setelah mengolah makanan.

4. Masak Sashimi Sebentar
Ingin coba memberikan ikan mentah atau sashimi pada anak agar mereka mengenal rasa dan tekstur alami makanan tersebut? Jika ya, bisa memasak sashimi sebentar saja.
Masak hingga permukaannya matang atau sedikit memucat. Anda bisa memasaknya di atas wajan dalam hitungan detik, atau sekadar mencelupkannya sebentar di air mendidih.

Selengkapnya baca di KlikDokter.com

 

 

 

 

Join Dream.co.id