Dokter Anak Bagikan Trik Agar Si Kecil Terbiasa Pakai Masker

Do It Yourself | Minggu, 11 Oktober 2020 10:35
Dokter Anak Bagikan Trik Agar Si Kecil Terbiasa Pakai Masker

Reporter : Mutia Nugraheni

Jika terpaksa keluar rumah, pastikan anak mengenakan masker.

Dream - Mengenakan masker saat keluar rumah dalam situasi pandemi hukumnya adalah wajib. Bukan hanya pada orang dewasa tapi juga anak-anak di atas usia 2 tahun. Pada kondisi sekarang, bermain di rumah saja adalah yang paling aman.

Jika terpaksa keluar rumah, pastikan anak mengenakan masker. Tak mudah memang membuat si kecil tetap menggunakan masker. Untuk itu perlu dilatih, dibiasakan dan jelaskan secara detail alasan ia harus mengenakan masker.

Cynthia Rindang, dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Pondok Indah, memberikan trik agar anak tak menolak dan terbiasa memakai masker. Menurut dr. Cynthia, membuat anak selalu pakai masker di luar rumah memang tak mudah.

" Kalau orangtua datang, selalu tanya, bagaimana sih ngajarin anak pakai masker. Kita perlu membiasakan, anak-anak gak bisa dadakan. Jadi, yang paling penting latihan dulu, buat waktu tertentu," kata dr Cynthia, dalam webinar RSPI Jakarta.

Ia menyarankan tak tiba-tiba sebelum pergi memaksa anak memakai masker. Pada anak di bawah usia 5 tahun bisa dijelaskan dengan bahasa yang dimengerti, alasan mereka harus kenakan masker. Misalnya, ada virus jahat jadi masker seperti seperti senjata untuk menangkalnya.

" Bisa juga libatkan anak saat memilih masker, kan banyak tu sekarang masker untuk anak gambarnya lucu-lucu. Nah biasanya anak senang," kata dr. Cynthia.

 

2 dari 7 halaman

Tunjukkan Gambar

Pada anak yang masih kecil, biasanya mereka lebih mengerti jika melihat gambar menarik. Coba juga tunjukkan kartun atau atau ilustrasi lucu.

" Bisa juga beri contoh mengenakan masker pada boneka atau mainannya. Tunjukkan gambar, atau hal lain yang menarik perhatian anak," kata dr Cynthia.

Biarkan anak mengenakan masker di rumah jika ia mulai terbiasa. Jika mengenakan masker bisa berikan stiker penghargaan, biasanya anak akan termotivasi. Dokter Cynthia juga mengingatkan, meski masker bisa melindungi tetapi usahakan agar anak tetap di rumah saja.

Jika keluar rumah pastikan perlindungannya maksimal dan ikuti protokol kesehatan. Bisa juga menambahkan face shield untuk lebih memproteksi si kecil. 

3 dari 7 halaman

Melihat Orang Selalu Pakai Masker, Apa Dampaknya Bagi Anak?

Dream - Melihat wajah orang yang ditemui membuat anak bisa mempelajari emosi dan berempati. Dalam situasi pandemi, masker jadi benda yang wajib dikenakan.

Anak pun tak bisa melihat jelas ekspresi emosi lawan bicaranya dan orang yang ditemui. Bisa juga anak beranggapan kalau kondisi di luar sangat tidak aman, takut, khawatir dan jadi mudah merasa cemas.

Kondisi sekarang memang bukanlah yang ideal bagi tumbuh kembang mental dan emosi anak. Erin Mueller, seorang psikolog anak, memiliki pendapat terkait hal ini. Menurutnya, melihat orang sekeliling mengenakan masker justru akan membuat anak banyak belajar dan mengembangkan keterampilannya.

“ Perkembangan selama masa kanak-kanak menunjukkan perubahan yang cukup besar, dan situasi pandemi ini dapat dipulihkan melalui ketahanannya,” kata Dr. Erin Mueller.

 

4 dari 7 halaman

Jelaskan Fungsi Masker

Anak-anak, menurut Erin, pada dasarnya cukup tangguh asalkan didampingi dengan baik menghadapi situasi yang kerap membuatnya cemas. Ceritakan pada anak kalau masker seperti 'senjata pelindung', bukan hal yang menakutkan.

" Anak-anak harus diajari untuk memahami bahwa topeng tidak menghilangkan ekspresi kasih sayang. Pada usia yang lebih muda, anak-anak mungkin tak bisa melihat ekspresi wajah lawan bicaranya. Nah, orangtua dapat membantu mereka memahami konsep ini dengan mengenakan dan melepas masker sambil menunjukkan beragam ekspresi emosi," kata Mueller.

Bisa juga membiasakan anak meperhatikan nada suara, gerakan mata dan alis, gerakan tangan dan postur tubuh. Hal ini bisa dilakukan permainan menebak emosi menggunakan masker.

“ Misalnya ibu atau ayah mengenakan masker dan menampilkan ragam emosi, seperti penuh semangat, gembira, sedih, marah dan minta anak untuk menebaknya. Dengan begitu anak tidak menjadi pribadi yang dingin dan kaku dan bisa menangkap emosi orang lain meskipun di balik masker," kata Mueller.

5 dari 7 halaman

Menguak Dampak Pandemi Covid-19 Pada Mental Buah Hati

Dream - Kondisi pandemi membuat anak-anak tak bisa sekolah, termasuk bermain bebas dan melakukan aktivitas untuk tumbuh kembangnya yang optimal. Sejak Maret 2019 hingga kini belum ada tanda-tanda signifikan kasus Covid-19 di Indonesia mereda.

Adaptasi kebiasaan baru harus dilakukan. Seluruh orang dipaksa melakukan adaptasi secara cepat, anak-anak pun demikian. Tak bisa dipungkiri kalau pandemi mengubah banyak hal, termasuk perkembangan mental dan psikologis anak.

Pandemi bukan hanya berdampak negatif, tapi juga positif bagi anak. Perubahan apa saja yang bisa terjadi pada anak karena pandemi? Yuk simak, Ayah Bunda.

1. Anak-anak akan lebih paham teknologi 
Apakah buah hati sekarang tahu cara mematikan/ menyalakan mikrofon saat Zoom meeting atau Google meet? Termasuk mengoperasikan aplikasi belajar online dan melakukan persiapan teknis lainnya?

Pandemi membuat anak-anak jadi lebih banyak belajar teknologi. Laptop, PC, tablet, gadget apapun bahkan anak usia TK sudah bisa mengoperasikannya. Mereka jadi lebih melek teknologi.

“ Karena pembelajaran jarak jauh dan waktu tatap muka yang lebih sedikit, anak-anak yang lebih kecil telah belajar cara menggunakan perangkat, aplikasi, dan program yang sebelumnya tidak dapat mereka akses atau gunakan. Sejak awal pandemi, banyak anak secara alami beradaptasi dengan cara baru (virtual) untuk belajar dan bersosialisasi," ungkap Dr. Ann-Louise Lockhart, seorang psikolog anak.

Gadget tampaknya kini harus dilihat sebagai pendukung anak-anak belajar. Orangtua juga harus aktif belajar tekonologi.

 

6 dari 7 halaman

2. Anak akan lebih cemas dan waspada terhadap interaksi sosial

Lebih dari 6 bulan anak-anak tak melakukan banyak interaksi sosial. Anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan berkomunikasi dengan keluarga dekat saja. Kondisi ini akan membuat anak akan mudah cemas saat berinteraksi dengan banyak orang.

" Mereka mungkin akan senang bertemu teman sebayanya, tapi juga penuh ketakutan akan virus dan dampaknya jika saling berdekatan. Semacam kontradiktif yang membuatnya sangat cemas dan tak nyaman," ujar Lockhart.

 

7 dari 7 halaman

3. Hubungan yang lebih bermakna dengan keluarga dan teman

Pandemi memaksa anak dan keluarga terus bersama dalam rumah. Pertengkaran, konflik, diskusi serta toleransi dan berusaha saling mengerti terjadi setiap hari. Sebenarnya ini adalah waktu yang tepat untuk mengikat dan mengembangkan rasa aman, yang dapat diterjemahkan ke dalam peningkatan kepercayaan diri dan kebahagiaan di kemudian hari.

“ Anak-anak yang besar mendapat kesempatan untuk berlatih bertanggung jawab dan memimpin. Anak-anak yang kecil juga bisa belajar mandiri. Orangtua pun lebih mengenal anak-anaknya secara dalam," ungkap Lockhart.

 

Join Dream.co.id