Covid-19 Varian Delta Sangat Berbahaya Bagi Ibu Hamil dan Menyusui

Do It Yourself | Senin, 21 Juni 2021 14:08

Reporter : Mutia Nugraheni

Gejalanya kerap langsung berat.

Dream - Virus Covid-19 varian delta sudah masuk ke Indonesia. Awalnya terdeteksi di DKI Jakarta, Kudus dan Bangkalan. Diperkirakan varian ini sudah menyebar dengan cepat ke berbagai daerah.

Virus varian delta menurut Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Daeng M Faqih banyak menyerang anak-anak muda. Lebih menular dan langsung memunculkan gejala berat.

" Varian delta ini justru banyak menyerang yang masih muda-muda serangannya langsung dengan gejala berat yang bersangkutan tidak menyadari atau kurang aware, sakit sedikit tidak peduli, sehingga langsung datang dengan gejala berat, kalau datang dengan gejala berat maka angka kesembuhan lebih kecil," kata dr Daeng, dikutip dari Merdeka.com.

Daeng melanjutkan, varian delta ini juga berbahaya bagi ibu hamil yang sedang mengandung dan ibu menyusui. Kontak erat dan lebih menular, ibu sangat mudah menulari bayinya saat menyusui.

" Betul lebih berbahaya. Untuk ibu hamil akan berpengaruh terhadap janin. Atau kalau ibu menyusui berpengaruh kepada anaknya. Sebab hubungan yang dekat itu bisa ikut tertular juga," ujar Daeng.

 

Covid-19 Varian Delta Sangat Berbahaya Bagi Ibu Hamil dan Menyusui
Ilustrasi
2 dari 6 halaman

Lebih Cepat Menular

" Varian delta ini selain lebih cepat menular, juga lebih berbahaya. Mulanya gejala-gejala ringan tapi perburukannya lebih cepat. Jadi misalnya mengalami sesak napas, lalu lebih cepat memburuk kondisinya," lanjutnya.

Menurutnya, pasien yang terpapar Covid-19 tidak boleh lengah meski masih mengalami gejala ringan. Jangan sampai terlambat menunggu gejala sedang atau berat.

" Dengan gejala yang mungkin masih ringan sebaiknya cepat segera ditangani, jangan sampai lengah walau ringan. Karena pengalaman kami selama setahun lebih ini, kalau orang kena Covid-19 dan cepat ditangani maka tingkat kesembuhan lebih tinggi," kata Daeng.

3 dari 6 halaman

Peringatan dari IDAI, Kematian Anak Indonesia karena Covid-19 Tertinggi di Dunia

Dream - Kasus Covid-19 di Indonesia saat ini kembali melonjak tajam dan diperparah dengan adanya varian delta yang lebih menular. Hal ini harus jadi perhatian para orangtua dalam menjaga anak-anaknya.

Sebuah fakta memilukan diungkap oleh Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Aman Bhakti Pulungan. Profesor Aman mengatakan kematian anak akibat Covid-19 di Indonesia merupakan tertinggi di dunia. Kesimpulan ini berdasarkan data case fatality atau tingkat kematian pada anak akibat virus SARS-CoV-2 itu.

" Data IDAI menunjukkan case fatality ratenya itu adalah 3 sampai 5 persen. Jadi kita ini kematian yang paling banyak di dunia," katanya, Senin, 21 Juni 2021, dikutip dari Merdeka.com.

Ia menjelaskan, dari total kasus positif Covid-19 nasional saat ini, 12,5 persen dikontribusikan anak usia 0 hingga 18 tahun. Ini menunjukkan, satu dari delapan kasus positif Covid-19 di Indonesia merupakan pasien anak.

 

4 dari 6 halaman

Kasus Covid-19 Anak Tertinggi di Jakarta

Jika dilihat dari data provinsi 17 Juni 2021, DKI Jakarta mencatat angka penambahan kasus positif Covid-19 cukup tinggi pada anak. Dalam sehari, ada peningkatan 661 anak terjangkit Covid-19. Dari jumlah tersebut, 144 di antaranya usia balita (bawah lima tahun).

" Saya sering mengatakan 50 persen kematian anak itu balita, bukan balita itu meninggal 50 persen. Jadi dari seluruh yang meninggal pada anak, 50 persennya balita," ungkapnya.

Menurut Aman, situasi kasus Covid-19 pada anak di Indonesia mengkhawatirkan. Hal ini lantaran sebagian besar rumah sakit belum memiliki ruang ICU (Intensive Care Unit) khusus anak.

Sementara itu, obat-obatan termasuk Intravenous Fluid Drops (IVFD) terbatas karena tidak masuk dalam skema pelayanan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan.

" Saat ini juga, SDM semakin menurun, termasuk dokter dan perawat. Ini kan menjadi masalah. Jadi kita bisa kolaps," kata dia.

Laporan Supriatin

5 dari 6 halaman

Peringatan Penting Ketua IDAI Jika Anak Kembali Masuk Sekolah

Dream - Rencana sekolah kembali dibuka pada tahun ajaran baru mendatang kini tengah disiapkan. Beberapa sekolah untuk mulai melakukan simulasi dengan menerapkan protokol kesehatan.

Anak-anak datang ke sekolah dan yang masuk ke kelas hanya setengah dari jumlah total siswa. Syarat penting sekolah dibuka adalah guru dan tim di sekolah harus sudah divaksinasi Covid-19.

Terkait hal ini, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sudah memberikan rekomendasi untuk menunda pembukaan sekolah. Alasan utamanya adalah ditemukannya new variant of coronavirus sejak Maret 2021, cakupan imunisasi Covid-19 di Indonesia yang belum mencapai target.

Profesor Aman Pulungan, Ketua IDAI, menegaskan jika memang sekolah tatap muka dilakukan, maka ada sejumlah syarat ketat yang harus dipenuhi. Keamanan dan kesehatan anak-anak adalah yang utama.

" IDAI bersedia mengajarkan sekolahnya bagaimana harusnya. Misalnya kalau ada sekolah dalam ruangan di pake HEPA filter, tadi ada orang dari salah satu persatuan orangtua murid tanya sama saya, ternyata sekolahnya luas halamannya, nah buka saja di luar sekolahnya. Ada syarat lain lagi, gurunya semua harus divaksin," ungkap Prof Aman, dalam Live Instagram beberapa waktu lalu bersama dr. Tiwi.

 

6 dari 6 halaman

Pesan Penting Bagi Orangtua

Profesor Aman juga mengungkap kondisi sekolah di Australia dan Singapura yang mulai dibuka saat pandemi. Setelah dibuka, sekolah di Australia muncul 18 kasus positif Covid-19 pada murid dan 9 guru.

" Mereka sekolahnya pakai CCTV. Terpantau tertular dari mana. Sekolah di Indonesia bisa gak? Singapura juga seperti itu, awal sekolah sampai keluar pakai CCTV," ungkap Prof Aman.

Ia juga mensyaratkan jika ada satu kasus positif di sekolah setelah dibuka maka harus dilakukan PCR pada semua yang kontak pada hari itu. Ada langkah prosedur yang harus disiapkan jika terjadi penularan di sekolah. Ada lagi satu pesan yang diingatkan Profesor Aman pada orangtua yang mengirimkan anaknya ke sekolah saat pandemi.

" Bukan hanya cuci tangan, pakai masker. Satu lagi saya titip anak yang mau sekolah, orangtua harus tahu dr, dokter anak yangg harus dihubungi kalau ada apa-apa. UKS (Unit Kesehatan Sekolah) juga harus dibuka, harus lengkap," pesan Prof Aman.

Join Dream.co.id