Cegah Nyeri Leher dan Punggung Pada Anak Saat Sekolah Online

Do It Yourself | Rabu, 30 Desember 2020 08:02
Cegah Nyeri Leher dan Punggung Pada Anak Saat Sekolah Online

Reporter : Mutia Nugraheni

Duduk berjam-jam di depan komputer menatap layar dalam waktu lama membuat mata, leher, dan punggung tegang

Dream - Sekolah di rumah secara online tampaknya masih terus berlanjut di semester depan. Pasalnya, kasus Covid-19 di Indonesia masih sangat tinggi, bahkan disebut-sebut sedang mencapai puncaknya.

Jadi para orangtua, bersiaplah untuk mendampingi anak kembali bersekolah di rumah di semester dua. Salah satu yang penting diperhatikan saat anak sekolah online adalah membuatnya nyaman dan terhindari dari sakit leher dan punggung.

Seperti yang kita tahu, duduk berjam-jam di depan komputer menatap layar dalam waktu lama membuat mata, leher, dan punggung tegang. Bukan hanya orang dewasa yang mengalami, anak-anak juga demikian.

Rasa tegang tersebut lama kelamaan bisa menjadi nyeri dan sangat menggangu tumbuh kembang anak. Ditambah selama di rumah, anak sangat kurang melakukan aktivitas fisik.
Demi melindungi buah hati dari masalah sakit leher dan punggung karena terlalu lama kelas online di depan layar, pastikan lakukan hal-hal berikut.

 

2 dari 7 halaman

Perbaiki posisi meja yang stabil

Meja rumah sebaiknya serupa dengan ruang kelas. Jangan biarkan anak untuk membungkuk, berbaring dan mengikuti kelas dengan gadget. Lebih baik menggunakan laptop atau PC dan letakkan di meja yang sesuai dengan tubuhnya.

Biasakan anak untuk menjaga postur tubuh yang benar saat mereka duduk dan belajar di meja. Kaki harus menyentuh tanah, layar ditinggikan pada tingkat yang tepat sehingga anak tidak perlu membungkuk dan melihat lurus ke depan ke layar komputer.

Jika memiliki anak di bawah 8 tahun, pertimbangkan untuk membeli meja atau kursi khusus yang sesuai dengan strukturnya dan tidak membahayakan punggungnya.

 

3 dari 7 halaman

Gerakan peregangan

Terlalu lama melihat layar dapat menyebabkan stres yang tidak perlu pada mata, leher, dan otot punggung. Duduk berjam-jam juga dapat membuat si kecil tidak aktif secara fisik.

Solusi sederhana untuk ini adalah memberi tahu mereka untuk sering-sering beristirahat di antara kelas. Ini bisa berupa jalan-jalan sederhana di sekitar ruangan atau melakukan gerakan peregangan otot dan meningkatkan fleksibilitas. Setiap satu jam kelas online, lakukan jalan kaki atau aktivitas peregangan selama 5-10 menit.

Penyangga punggung bawah mereka
Saat duduk dan fokus pada laptop, kita memberi banyak tekanan pada otot punggung bawah dan daerah pinggang.

Penekanan ini ekstra juga menjadi salah satu alasan mengapa banyak anak cenderung membungkuk atau memiliki postur tubuh yang buruk, yang akhirnya dapat menimbulkan masalah di kemudian hari. Untuk mengatasi masalah ini, coba taruh penyangga punggung bawah mereka dengan menggulung bantal atau handuk yang nyaman di sandaran kursi saat mereka duduk. Ini akan membuat anak jauh lebih nyaman.

4 dari 7 halaman

Buah Hati Sangat Tak Fokus Belajar di Rumah? Ini Cara Membantunya

Dream - Anak tak fokus saat belajar di rumah jadi salah satu keluhan yang kerap dilontarkan orangtua selama pandemi. Materi pelajaran yang disampaikan melalui video maupuum Zoom dan Gmeet kerap tak diperhatikan anak dengan baik.

Ada juga anak yang mudah fokus, tapi ada juga yang sangat sulit. Orangtua memiliki peran penting dalam membantu anak dengan rentang perhatian yang pendek atau yang mengalami kesulitan fokus.

" Bagaimana kita merespons saat anak tak fokus,  menuntunnya mencari solusi, akan sangat membantunya," kata Ashley Abramson seorang pakar pengasuhan anak, dikutip dari Fatherly.

Jika tujuan kita adalah untuk mengembangkan rentang perhatian yang lebih lama pada anak, ingatlah bahwa fokus adalah sebuah keterampilan. Dengan sedikit bantuan strategis dan kesabaran, kita bisa melatih fokus anak jadi lebih baik.

Coba beberapa cara berikut

 

5 dari 7 halaman

1. Perhatikan kecenderungan anak

Selalu ada sesuatu yang memicu keharusan mengingatkan anak untuk kesekian kalinya fokus pada tugas, kelas dan hal lainnnya terkait akademik. Ingatlah bahwa karena fokus adalah keterampilan, anak-anak yang lebih kecil tidak selalu memiliki kekuatan otak untuk menyelesaikan suatu tugas.

Rebecca Bransetter, seorang psikolog anak, mengungkap bagian otak anak yang memiliki tugas untuk fokus belum berkembang sepenuhnya. Pada anak-anak yang lebih besar, situasi stres seperti pembelajaran jarak jauh dapat membuat fokus jadi lebih sulit.

" Orang tua terkadang langsung mempermalukan atau mengungkapkan kekecewaan, kemarahan, atau kekesalan tanpa memikirkan sudut pandang anak," kata Bransetter.

Bransetter menyarankan untuk mengingatkan diri sendiri bahwa anak sebenarnya mampu untuk fokus tapi mereka sedang mengalami masa-masa sulit dan perlu dilatih berulang kali untuk menjaga fokusnya.

Ketika orangtua melihat anak tidak fokus, berhentilah untuk memarahi dan ingatkan diri bahwa kemungkinan ada keterampilan perkembangan yang tertinggal atau alasan situasional yang membuat anak kesulitan.

Coba teknik " perhatikan dan jelajahi" . Pertama, amati usaha anak, kedua ajukan pertanyaan.

Seperti, " Mama perhatikan kakak/adik mengalami kesulitan saat bikin tugas matematika. Kenapa? Apakah baik-baik saja? Mau dibantu?”. Pertanyaan detail penting diajukan untuk mencari tahu masalah anak. 

 

6 dari 7 halaman

2. Hindari langsung mencari solusi

Saat melihat anak-anak kita tidak fokus, naluri kita biasanya langsung ingin memberikan solusi dan memaksanya untuk fokus. Bransetter mengatakan melompat terlalu cepat untuk " memperbaiki" adalah mengabaikan kesempatan untuk mengajari anak-anak teknik pemecahan masalah.

Lebih baik mulailah dengan mengajukan pertanyaan. Seperti, " Ada ide biar kakak/adik lebih fokus saat belajar?" , " Lampunya kurang terang ya?" , " Apakah suara di luar mengganggu?" . Perlu diingat bahwa, pada anak-anak yang lebih besar, strategi terbaik untuk membuat mereka lebih fokus adalah dengan menggunakan caranya sendiri.

 

7 dari 7 halaman

3. Memaksa anak

Melihat anak-anak mereka beralih ke YouTube saat mereka seharusnya sedang mengerjakan tugas atau mendengarkan gurunya di Zoom selama pembelajaran jarak jauh, membuat orangtua frustrasi. Orangtua mungkin langsung memarahi anak, tetapi Bransetter mengatakan hal itu malah jadi bumerang dan anak malah kesal.

Lebih baik tarik napas panjang dan ajukan pertanyaan pada anak, kenapa ia malah membuka YouTube atau media sosial saat pelajaran. Pertanyaan akan membawa fokus kembali ke lobus frontal otak anak jadi lebih aktif.

" Di situlah pemikiran rasional dapat muncul.Anak-anak tidak bisa memecahkan masalah jika mereka merasa stres atau dihakimi," kata Bransetter.

Join Dream.co.id