CDC Rekomendasikan Ibu Hamil untuk Divaksin Covid-19

Do It Yourself | Rabu, 28 April 2021 16:03
{IMAGE_NORMAL}

Reporter : Mutia Nugraheni

Perempuan yang tertular Covid-19 saat hamil 22 kali lebih mungkin meninggal selama kehamilan.

Dream - Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (Centers for Disease Control and Prevention/ CDC) beberapa waktu lalu tidak merekomendasikan ibu hamil untuk mendapat vaksin Covid-19 yang sudah mendapat izin penggunaan darurat. Rupanya rekomendasi ini baru saja diubah.

Rachelle Wolensky, Direktur CDC, secara resmi mengumumkan pada Jumat 23 April lalu, CDC merekomendasikan ibu hamil untuk mendapatkan vaksin COVID-19. Pada pertemuan di kantor Presiden AS, White House, Walensky mengutip penelitian terbaru terhadap ribuan orang hamil yang menerima vaksin untuk mendukung rekomendasi tersebut.

Studi yang dilakukan pada ibu hamil, meminta para responden melaporkan gejala pasca vaksinasi ke aplikasi CDC. Ditemukan bahwa ibu hamil memiliki efek samping yang mirip dengan orang tidak hamil saat menerima vaksin dan tidak ada efek buruk pada kehamilan.

" Tidak ada masalah keamanan yang diamati pada ibu hamil yang divaksinasi di trimester ketiga atau masalah keamanan pada bayi mereka. Karena itu, CDC merekomendasikan agar ibu hamil menerima vaksin Covid-19," ujar Wolensky, dikutip dari Fatherly.

Data CDC mengungkap bahwa vaksin tersebut aman untuk ibu hamil, dan membutuhkan langkah lebih agresif dalam memerangi Covid-19. Ini sangat penting mengingat sebuah penelitian yang menemukan bahwa dari beberapa ribu ibu hamil yang diteliti secara internasional, perempuan yang tertular Covid-19 saat hamil 22 kali lebih mungkin meninggal selama kehamilan atau setelah melahirkan.

Mereka juga lebih mungkin mengalami efek samping kehamilan seperti kelahiran prematur, pre-eklamsia, kebutuhan untuk intubasi, dan masuk ke ICU. Vaksin akan melindungi ibu hamil dari kasus terburuk Covid-19.

 

 

{IMAGE_PAGING}
2 dari 5 halaman

Uji Klinik Vaksin Oxford-AstraZeneca untuk Anak di Inggris Dihentikan

Dream - Vaksin Covid-19 untuk anak-anak saat ini masih dalam tahap uji klinik. Salah satu produsen vaksin yang melakukannya adalah Oxford-AstraZeneca. Sebuah kabar mengejutkan datang dan proses uji klinik vaksin Covid-19 untuk anak- anak di Inggris.

Badan regulator obat di Inggris memutuskan untuk menghentikan sementara uji klinik vaksin Covid-19 Oxford-AstraZeneca untuk anak-anak. Dikutip dari BBC, hal tersebut karena kemungkinan adanya hubungan dengan kejadian pembekuan darah langka pada orang dewasa.

Uji coba vaksin Oxford-AstraZeneca pada anak-anak di Inggris dimulai pada Februari 2021 lalu. Uji klinik tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah vaksin bisa menghasilkan respons imun yang kuat pada anak yang berusia antara enam dan 17 tahun.

Kini, uji coba ditangguhkan. Keputusan tersebut dilakukan setelah seorang pejabat European Medicines Agency (EMA), berbicara dalam kapasitas pribadi, mengatakan tampaknya ada hubungan dengan suntikan dan pembekuan darah langka.

Profesor Andrew Pollard dari Universitas Oxford mengatakan kepada BBC bahwa tidak ada masalah keamanan dengan uji coba itu sendiri, tetapi para tim peneliti uji klinik sedang menunggu informasi lebih lanjut.

" Meskipun tidak ada masalah keamanan dalam uji klinis pediatrik, kami menunggu informasi tambahan dari MHRA (Medicines and Healthcare products Regulatory Agency/ badan regulator obat Inggris) tentang peninjauan kasus langka trombosis / trombositopenia yang telah dilaporkan pada orang dewasa, sebelum memberikan vaksinasi lebih lanjut dalam uji coba," kata Pollard.

Saat ini ada dua vaksin Covid-19 yang digunakan di Inggris. Pertama, yang dikembangkan oleh Oxford-AstraZeneca dan yang kedua, Pfizer-BioNtech - digunakan di Inggris. Sementara vaksin Covid-19 dari Moderna telah disetujui.

3 dari 5 halaman

Vaksin Pfizer dan Moderna Diklaim Aman untuk Ibu Hamil dan Menyusui

Dream - Hingga saat ini vaksin Covid-19 belum mendapat izin untuk diberikan kepada ibu hamil. Hal tersebut karena dibutuhkan uji klinik khusus untuk melihat keamanan dan efektivitas vaksin pada ibu hamil dan janin.

Rupanya ada kabar baik, vaksin Covid-19 produksi Pfizer-BioNTech dan Moderna diklaim aman dan efektif pada ibu hamil dan menyusui. Hal ini menurut sebuah studi terbaru yang diterbitkan di American Journal of Obstetrics & Gynecology. Studi tersebut juga menemukan bahwa ibu dapat menularkan antibodi ke bayinya.

“ Itu adalah informasi yang sangat penting bagi pasien kami. Kami tahu bahwa vaksin ini bekerja,” kata Andrea Edlow, MD, penulis studi senior dan spesialis obstetri dan ginekologi di Rumah Sakit Umum Massachusetts, dikutip dari WebMD.

Tim peneliti mempelajari 131 wanita yang menerima vaksin Pfizer atau Moderna, termasuk 84 wanita hamil, 31 menyusui dan 16 wanita tidak hamil. Ketiga kelompok tersebut memiliki tingkat antibodi tinggi yang serupa. Studi tersebut juga tidak menemukan perbedaan yang signifikan dalam efek samping vaksin antara wanita hamil dan tidak hamil.

 

4 dari 5 halaman

Menularkan Antibodi ke Janin

Hasil penelitian juga menunjukkan, dibandingkan dengan wanita hamil yang telah pulih dari Covid-19, wanita hamil yang menerima vaksin memiliki tingkat antibodi yang " sangat tinggi" . Selain itu, wanita penerima vaksin Moderna memiliki kadar antibodi yang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang menerima vaksin Pfizer.

Tim peneliti juga menemukan bahwa antibodi yang dihasilkan dari vaksin ada di semua sampel tali pusat dan ASI yang diuji. Ini menunjukkan bahwa wanita hamil dan menyusui dapat menularkan antibodi COVID-19 ke janin dan bayi mereka yang baru lahir.

“ Itu adalah bagian informasi paling menghibur,” kata Galit Alter, MD, salah satu penulis studi dan profesor kedokteran di Ragon Institute di Massachusetts.

 

5 dari 5 halaman

Antibodi Penetral

Tim peneliti menemukan antibodi penetral dalam darah ibu hamil, yang mengindikasikan bahwa antibodi tersebut dapat membunuh virus corona. Namun, antibodi penetral lebih rendah pada sampel tali pusat, jadi diperlukan lebih banyak penelitian untuk memahami apakah bayi memiliki kekebalan yang cukup tinggi ketika dilahirkan dengan antibodi.

Penelitian di masa depan juga dapat menentukan kapan wanita harus mendapatkan vaksinasi selama kehamilan untuk perlindungan maksimal. Studi tambahan juga akan dibutuhkan untuk efektivitas vaksin Johnson & Johnson dan AstraZeneca pada ibu hamil dan menyusui.

“ Setiap hari, kami merawat pasien yang ingin tahu apakah vaksin itu efektif dalam kehamilan dan apa risikonya. Memiliki data ilmiah yang nyata untuk memberitahu orang banyak akan sangat membantu menghilangkan keraguan terhadap vaksin," kata Alter.

Join Dream.co.id