Catatan 'Handle With Care' Viral, Bantu Anak Hadapi Masa Sulit

Do It Yourself | Kamis, 7 Oktober 2021 08:06

Reporter : Mutia Nugraheni

Untuk mengetahui kondisi anak yang sedang mengalami momen berat tapi tak bisa menceritakannya seccara detail.

Dream - Ungkapan " butuh satu desa untuk mendidik/ mengasuh anak" memang ada benarnya. Orangtua tak bisa sendirian dalam membentuk karakter positif pada anak-anaknya.

Dibutuhkan kerja sama keluarga, tetangga dan tentunya para pendidik untuk menciptakan lingkungan yang positif bagi anak. Ada kalanya anak mengalami masa sulit dalam keluarga dan keesokan harinya harus ke sekolah. Dalam kondisi ini sangat penting komunikasi antara guru dan orangtua

Rachel Harder, seorang guru Hutchinson, Kansas, Amerika Serikat, mmemiliki solusi untuk hal ini yang kemudian menjadi viral. Ia membuat catatan " handle with care" yang dibagikan pada para orangtua.

Harder menjelaskan bahwa dia ingin memberi keluarga yang mengalami kesulitan di rumah dengan " dukungan tambahan di sekolah." Dia menekankan bahwa dia tahu mereka tidak selalu dapat memberikan detailnya, dan " tidak apa-apa" .

Cukup memberitahunya, bisa dengan mengirim email dengan subjek, " handle with care" atau " tangani dengan hati-hati" akan mengingatkannya pada fakta bahwa seorang siswa mungkin membutuhkan " waktu ekstra, kesabaran, dan bantuan di siang hari"

 

Catatan 'Handle With Care' Viral, Bantu Anak Hadapi Masa Sulit
Ilustrasi
2 dari 7 halaman

Masalah keluarga

Harder mengatakan kepada Fox News bahwa dia terinspirasi untuk membuat hal tersebut setelah mengetahui bahwa kantor polisi di AS telah bermitra dengan sekolah untuk memberi tahu konselor atau administrator untuk " menangani siswa dengan hati-hati" jika keluarga mereka menghadapi penegakan hukum di malam hari atau di akhir pekan.

" Kami menyukai ide ini dan berpikir harus ada cara untuk membuat ini berhasil di dalam komunitas kelas kami sendiri," jelasnya.

3 dari 7 halaman

Butuh kerjasama semua pihak

Menurutnya anak-anak juga mengalami stres tapi mereka tak bisa mengungkapkan dan menghadapi. Orangtua atau yang terdekat bisa bekerja sama dengan sekolah untuk menjaga kondisi psikologis anak-anak.

" Kami tahu bahwa anak-anak membutuhkan waktu, ruang dan cinta. Peringatan dari orang tua sangat bagus jika kita pihak sekolah bisa mendapatkannya," ungkap Harder.

Catatan " handle with care tersebut" sangat menyentuh. Orangtua cukup memberitahu anaknya sedang melalui masa sulit dan pihak sekolah nantinya akan bekerja sama dengan guru dan konselor untuk memastikan anak tertangani dengan baik di sekolah.

 

Sumber: Parents

© Dream
4 dari 7 halaman

4 Tanda Orangtua Sudah Ajarkan Kecerdasan Emosi Pada Anak

Dream - Kecerdasan emosi (atau dikenal sebagai emotional quotient/ EQ) adalah kemampuan seseorang untuk memahami, menggunakan, dan mengelola emosi sendiri dengan cara yang positif. Hal ini berdampak pada pengelolaan stres yang baik, mampu berkomunikasi secara efektif, berempati dengan orang lain, serta bisa mengatasi tantangan dan meredakan konflik.

Kecerdasan emosi didapatkan bukan dalam waktu singkat. Perlu diajarkan, dicontohkan dan dilatih terus-menerus sejak dini. Sebagai orangtua, apakah ayah bunda sudah mengejarkan kecerdasan emosi pada buah hati?

Salah satu hal terpenting yang dapat dilakukan untuk anak adalah membantu mereka mengelola emosinya. Berikut tanda jika orangtua sudah mengajarkan kecerdasan emosi pada anak.

Orangtua melatih anak untuk tak impulsif
“ Anak-anak pada dasarnya impulsif dan jika tidak dikendalikan mereka bisa menjadi orang dewasa yang impulsif,” kata Aleasa Word, pelatih kecerdasan emosional bersertifikat.

Impulsif merusak kecerdasan emosional, jadi ajari anak-anak untuk berhenti dan berpikir tentang apa yang mereka rasakan sebelum bertindak. Word menyarankan untuk menggunakan isyarat visual, seperti gelang khusus atau kata-kata pemicu untuk membantu anak-anak belajar cara berhenti. Jelaskan kepada anak-anak pentingnya meluangkan waktu lima detik untuk menanggapi apa pun, kecuali dalam keadaan darurat.

“ Anak-anak saya sendiri telah melihat ke atas, melihat ke bawah, melihat ke kiri, dan melihat ke kanan secara rutin sebelum merespons, demi memaksa mereka untuk berhenti sejenak,” kata Word, dikutip dari Readers Digest.

 

5 dari 7 halaman

Berdiskusi

Penting bagi orangtua untuk selalu meluangkan waktu berdiskusi dengan anak-anaknya. Hal yang dibahas bisa banyak hal, bukan hanya sekadar hal berat, tapi juga tema yang ringan. Kuncinya adalah saling mendengarkan.

“ Miliki waktu bicara untuk keluarga adalah wajib,” kata Tom Kersting, seorang psikoterapis.

Rata-rata orangtua menghabiskan tiga setengah menit per minggu untuk percakapan yang bermakna dengan anak-anak mereka. Ini sangat kurang, coba buat rutinitas seluruh keluarga untuk berbincang selama 15 menit per malam.

 

© Dream
6 dari 7 halaman

Menerima emosi anak

Perasaan tidak ada yang benar atau salah, memang demikian adanya, dan setiap orang berhak atas perasaan mereka, termasuk anak saat mengalami perasaan tertentu. Selalu dorong anak untuk mengungkapkan perasaan mereka melalui pertanyaan.

Misalnya, jika mereka terlihat sedih atau kesal dan tidak mau berbicara, orangtua dapat bertanya, 'Kakak/ adik terlihat murung diri hari ini, apakah sesuatu terjadi?. Jangan pernah menghakimi atau meragukan perasaan anak-anak. Cobalah berempati, bila tak punya kta positif yang ingin diucapkan lebih baik diam dan cukup beri pelukan hangat pada anak.

 

7 dari 7 halaman

Puji saat anak mampu mengendalikan emosi

Membesarkan anak yang memiliki kecerdasan emosi adalah proses yang lambat tapi sangat layak. Jadi, penting bagi orangtua untuk memberi pujian dan merayakannya saat anak mempu mengendalikan emosi.

Akui situasi di mana anak membiarkan emosinya kacau tetapi tetap terkendali. Pujilah dia karena itu. Katakan, 'Aku suka caramu mengontrol emosi saat adik terus mengganggu. Itu cara yang bagus untuk menghadapinya'.

© Dream
Join Dream.co.id