Bumil Harus Waspada, Keguguran Tak Selalu Ditandai Pendarahan

Do It Yourself | Jumat, 21 Mei 2021 08:05

Reporter : Mutia Nugraheni

Keguguran kerap terjadi di minggu-minggu pertama kehamilan dan risikonya terus menurun seiring dengan usia dan perkembangan kehamilan.

Dream – Bagi ibu yang tengah berbadan dua, kerap muncul kekhawatiran kondisi janin dalam kandungan. Terutama di awal kehamilan seperti Aurel Hermansyah, yang mengalami keguguran di kehamilan 5 pekan.

Keguguran kerap terjadi di minggu-minggu pertama kehamilan dan risikonya terus menurun seiring dengan usia dan perkembangan kehamilan. Perlu diketahui bahwa gejala kehamilan kini bergeser seiring waktu.

Dikutip dari HaloDoc, keguguran biasanya ditandai dengan kram atau sakit di bagian pelvis, tidak adanya gerakan janin, berkurangnya rasa mual dan muntah, serta umumnya ditandai dengan pendarahan. Pendarahan sering menjadi gejala yang paling terlihat dari keguguran.

Ternyata tak semua kasus keguguran disertai pendarahan. Dari laporan Medical News Today, ibu mungkin tidak mengalami gejala apa pun dan hanya mengetahui keguguran ketika seorang dokter tidak dapat mendeteksi detak jantung saat pemeriksaan USG. Keguguran mungkin tidak diketahui selama beberapa minggu dan sayangnya banyak yang tidak mencari pengobatan.

 

Bumil Harus Waspada, Keguguran Tak Selalu Ditandai Pendarahan
Keguguran/ Shutterstock
2 dari 5 halaman

Lakukan Pemeriksaan

Menurut American Pregnancy Association, sebagian besar keguguran terjadi dalam 13 minggu pertama kehamilan. Sementara diperkirakan 10-25 persen dari semua kehamilan yang diakui berakhir dengan keguguran, kehilangan pada trimester kedua. Ketika keguguran terjadi sangat dini, ibu justru mengalami tanda kehamilan, sehingga membuat pengidentifikasian lebih sulit.

Normal bagi ibu hamil mengalami perubahan dalam tanda-tanda kehamilan dari waktu ke waktu, terutama dalam transisi dari trimester pertama ke trimester kedua. Namun, perhatikan tanda peringatan keguguran tanpa perdarahan yang perlu diketahui, yaitu:

- Penurunan tanda kehamilan mendadak
- Tes kehamilan yang menunjukkan hasil negatif
- Mual, muntah, atau diare
- Sakit punggung;
- Gerakan janin terasa lambat atau berhenti
Jika ibu mengalami tanda-tanda di atas, segera periksakan ke dokter untuk dipastikan lebih lanjut. Selengkapnya baca di sini.

3 dari 5 halaman

Keguguran Jadi Konten, Kesehatan Mental Aurel Jadi Sorotan

Dream - Kedukaan dialami pasangan Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah. Mereka yang sangat menanti kehadiran anak pertamanya, harus menghadapi kenyataan kalau janin di rahim Aurel meninggal.

Aurel mengalami keguguran di usia kehamilan lima minggu. Keguguran bagi seorang perempuan bukanlah hal mudah, terutama jika ia jadi perhatian publik seperti Aurel. Insiden keguguran Aurel juga jadi konten YouTube sang suami.

Hal tersebut jadi kritikan pedas netizen. Bahasan soal psikologis Aurel setelah keguguran pun sempat trending di Twitter pada 19 Maret 2021. Salah satunya dari penulis Kalis Mardiasih, ia menyoroti kondisi psikologis Aurel.

 Twitter Kalis Mardiasih© Twitter Kalis Mardiasih

Penting disoroti kalau keguguran berdampak sangat besar pada psikologis ibu. Dikutip dari Hello Sehat, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Imperial College London, 4 dari 10 wanita berisiko mengalami gangguan trauma dan stress akibat keguguran yang dialaminya.

 

4 dari 5 halaman

Risiko Trauma

Dalam penelitian yang dipublikasikan oleh jurnal BMJ Open tersebut, tim peneliti mensurvei 113 wanita yang baru saja mengalami keguguran maupun kehamilan ektopik. Mayoritas wanita dalam penelitian ini mengalami keguguran pada usia kehamilan sekitar 3 bulan, sementara sekitar 20 persennya lagi, mengalami kehamilan ektopik di mana bayi mulai tumbuh di luar rahim.

Hasil survei juga menunjukkan, empat dari sepuluh wanita dilaporkan mengidap gejala post traumatic stress disorder (PTSD) tiga bulan setelah kehilangan calon bayinya. Gangguan trauma dan stress akibat keguguran ini, juga dilandasi oleh peristiwa penuh tekanan yang menakutkan dan menyedihkan. Sehingga tidak jarang menyebabkan seseorang teringat kembali kejadian tersebut lewat mimpi buruk, kilas balik, pikiran atau gambaran di saat-saat tidak diinginkan.

Gejalanya bisa mulai berminggu-minggu, berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah kejadian sampai bisa menyebabkan masalah tidur, kemarahan, dan bahkan berubah menjadi depresi.

 

5 dari 5 halaman

Butuh Dukungan Psikologis

Wanita yang keguguran membutuhkan dukungan psikologis untuk mengatasi trauma. Para periset dari Imperial College London mengatakan bahwa temuan tersebut menyarankan agar perempuan secara rutin dipantau perihal kondisi tersebut, dan mendapat dukungan psikologis spesifik setelah kasus hilangnya kehamilan.

Ada anggapan dan sebuah mitos tertentu juga di masyarakat yang ikut memengaruhi. Katanya, kehamilan belum boleh dipublikasikan kalau kehamilan itu sendiri belum berusia minimal 3 bulan. Parahnya lagi, hal itu juga berlaku apabila terjadi keguguran dalam kurun waktu 3 bulan kehamilan. Nah, sayangnya hal yang dipendam ini bisa mengakibatkan rasa sakit yang mendalam pada wanita. Efek psikologis kehilangan ini harusnya dibicarakan dan dicurahkan, bukan malah dipendam sendirian bersama suami.

Selengkapnya baca stress-akibat-keguguran/" target=" _blank" >di sini.

Join Dream.co.id