Bocah 2 Tahun Jadi Anggota Termuda Mensa, Organisasi IQ Tinggi

Do It Yourself | Minggu, 13 Juni 2021 10:41

Reporter : Mutia Nugraheni

Skor IQ bocah lucu ini mencapai 146.

Dream - Usia 2 tahun biasanya anak baru belajar berbicara dan mengenal benda-benda di sekitarnya. Tak demikian dengan dengan Kashe Quest. Anak perempuan yang tinggal di Los Angeles, California, Amerika Serikat ini di usia 2 tahun, sudah jadi anggota Mensa.

Mensa merupakan organisasi untuk orang-orang yang mempunyai IQ tinggi. Syarat satu-satunya untuk menjadi anggota Mensa adalah calon anggota mesti berada di 2% peringkat teratas dalam ujian kepandaian yang telah disetujui.

Menurut Fox 11 Los Angeles, Quest memiliki IQ 146 dan dia dapat menghitung sampai 100, mengidentifikasi semua 50 negara bagian berdasarkan bentuknya, dan sudah belajar bahasa Spanyol, Inggris, dan bahasa isyarat. Ibu Kashe, Sukhjit Athwal mengatakan bahwa dia mulai memperhatikan bahwa ingatan putrinya sangat bagus sejak awal dan pada usia 18 bulan.

 Kashe Quest
© Instagram Kashe Quest

" Dia telah mengenali semua alfabet, angka, warna, dan bentuk," kata Athwal.

Menurut sang ibu, fakta bahwa IQ Kashe sangat tinggi, tak membuat dirinya terobsesi. Justru Athwal ingin menjaga putrinya itu memiliki masa kecil yang bahagia.

“ Saya pikir salah satu hal terbesar adalah memastikan dia memiliki masa kecil dan kami tidak memaksakan apa pun padanya. Kami mengikuti langkahnya dan kami hanya ingin memastikan dia menikmati masa kecilnya," ungkap Athwal.

Bocah 2 Tahun Jadi Anggota Termuda Mensa, Organisasi IQ Tinggi
Kashe Quest/ Instagram Kashe Quest
2 dari 6 halaman

Kecenderungan yang Muncul Pada Anak dengan IQ Tinggi

Dream - Pemeriksaan IQ (Intelligence Quotient) biasanya dilakukan jelang masuk sekolah untuk mengetahui kemampuan anak secara detail. Prosesnya dilakukan oleh psikolog, begitu juga analisis dan penjelasan detailnya.

Tak hanya untuk mengetahui level IQ tapi bisa juga kelemahan dan kelebihannya. Memang, hanya dengan tes tersebut kita bisa mengetahui angka persis IQ si kecil, meski demikian ada kecenderungan lain yang bisa dilihat pada anak yang memiliki IQ tinggi.

Dikutip dari KlikDokter, ada beberapa hal yang yang bisa diperhatikan orangtua untuk mengetahui tingkat kecerdasan anak. Apa saja?

1. Cara Anak Berkomunikasi
Dijelaskan oleh psikolog Gracia Ivonika, tanda-tanda anak memiliki tingkat kecerdasan tinggi bisa dilihat dari caranya berkomunikasi dengan orang lain. Umumnya anak dengan IQ yang diprediksi tinggi dapat dilihat dari bagaimana kita berinteraksi dengan si anak mau pun bagaimana kapabilitas kemampuannya dalam keseharian.

“ Misalnya saat berinteraksi atau berdiskusi bersama, cara anak merespons, bertanya, menyampaikan argumen, dan memproses informasi lebih baik dari anak lain seusianya,” kata Gracia.

2. Anak Lahir dengan Berat Badan Besar
Melansir dari NewsCom AU, penelitian yang diterbitkan oleh British Medical Journal mengamati sebanyak 3.000 bayi yang baru lahir. Hasil penelitian menunjukan bahwa bayi yang lahir dengan berat badan besar memiliki IQ yang sedikit lebih tinggi daripada bayi dengan berat badan rendah.

 

3 dari 6 halaman

Cepat Belajar Hal Baru

3. Mudah Menguasai Bahasa Asing
Menurut laporan ilmiah dari Child Development, anak yang menguasai bahasa asing di usia 12-24 bulan menandakan bahwa ia memiliki ingatan atau memori yang baik. Hal itu juga merupakan tanda bahwa anak memiliki kecerdasan yang tinggi. Oleh karena itu, orangtua bisa membangun kecerdasan anak sejak dini dengan memperkenalkan bahasa asing sejak usia kecil di atas satu tahun.

4. Cepat Mempelajari Hal Baru
Suka mencoba hal baru dan memiliki sifat yang pantang menyerah bisa menjadi indikasi bahwa anak memiliki kecerdasan yang tinggi. “ Dilihat dari keseharian juga, anak tampak secara akademis performanya lebih unggul dari anak-anak di kelasnya. Cepat juga mempelajari hal baru. Kreatif dalam menemukan alternatif pemecahan masalah sehari-hari,” kata Gracia.

Selengkapnya baca di sini.

4 dari 6 halaman

Ini Alasan Anak Cenderung Tak Nyaman Belajar dengan Orangtua

Dream - Pandemi mau tak mau membuat orangtua harus turun tangan mendampingi anak-anaknya belajar di rumah. Tentunya hal ini sangat menantang, terutama saat anak berhadapan dnegan pelajaran yang sulit dan orangtua juga kurang mengerti.

Emosi anak dan orangtua pun jadi sama-sama tinggi dan proses belajar malah jadi tak efektif. Anak lebih bisa menyerap pelajaran saat didampingi guru atau tutor privat, mengapa?

Dikutip dari KlikDokter, Gracia Ivonika, M. Psi., seorang psikolog memberi penjelasan. Menurutnya, kondisi seperti itu berkaitan dengan pendekatan antara orangtua ke anak dan orang lain/guru ke anak.

“ Guru punya kelebihan dalam ilmu dan kemampuan memberikan pengajaran yang pastinya berguna secara spesifik untuk membantu anak belajar. Sedangkan, tidak semua orangtua memahaminya dengan baik,” jelasnya.

 

5 dari 6 halaman

Relasi Orangtua dan Anak

Perbedaan lain yang mendasari adalah relasi orangtua ke anak yang berbeda dari relasi guru ke anak. Relasi orangtua dan anak lebih melibatkan emosi. Perbedaan relasi ini akan memengaruhi proses belajar mengajar dan bagaimana anak menangkap informasi dari yang dijelaskan oleh orangtua atau guru.

“ Orang tua punya ekspektasi dan harapan tersendiri kepada anak. Alhasil, itu memengaruhi cara orangtua dalam mengajarkan anak. Orangtua juga lebih leluasa untuk memberikan respons kepada anak. Misalnya, jika anak cukup lama atau susah mengerti, orangtua mungkin lebih mudah marah atau kecewa karena adanya ekspektasi terhadap anak,” kata Ivon.

Atas dasar itulah beberapa anak justru takut dan sering menangis ketika diajari oleh ibu atau bapaknya sendiri. Daripada dimarahi, lebih baik iya-iya saja dan pura-pura mengerti. Saat mengerjakan soal, anak pun kesulitan karena sebenarnya belum paham.

 

6 dari 6 halaman

Pola Pengajaran

Jika bicara soal dampaknya, ternyata hal itu tidak bisa digeneralisasikan. Kita perlu melihat dulu pola pengajaran seperti apa yang diberikan orangtua saat di rumah dan karakteristik si anak sendiri.

“ Banyak juga kasus yang pada akhirnya membuat si anak memiliki trauma tertentu. Mereka jadi low self esteem (rendah diri/minder), kurang punya motivasi. Salah satu hal yang dapat memengaruhi kondisi tersebut adalah karena anak memiliki pengalaman belajar yang buruk, termasuk pengalaman saat diajari orangtuanya sendiri," kata Ivon.

Tak cuma itu, apa yang dilakukan orangtua akan diserap oleh anak sehingga di masa depan, dirinya berpotensi melakukan hal serupa. Misalnya, orangtua mengajari anak sambil marah-marah. Di kemudian hari, saat dia sudah dewasa dan punya anak, dia pun berpotensi membentak anaknya juga saat belajar.

Penjelasan selengkapnya baca di sini.

Join Dream.co.id