Bidan Ajarkan Latihan Napas Simpel yang Redakan Mual Ibu Hamil

Do It Yourself | Senin, 16 Agustus 2021 10:03

Reporter : Mutia Nugraheni

Jangan dulu konsumsi obat pereda mual, lakukan trik ini.

Dream - Mual dan muntah merupakan gejala yang kerap dialami ibu hamil. Ada yang hanya sekadar mual, tapi banyak juga yang sampai muntah. Makanan dan minuman yang dikonsumsinya akhirnya keluar.

Tentunya hal ini membuat tubuh ibu hamil menjadi lemas. Jika dibiarkan terus bisa memicu dehidrasi dan berdampak buruk pada janin. Mual dan muntah sebenarnya adalah hal normal selama kehamilan karena perubahan hormon.

Untuk mengatasinya, ada latihan pernapasan simpel yang bisa dilakukan. Jamilatus Sa'diyah seorang doula dan bidan profesional, membagikan trik bagi ibu hamil yang ingin meredakan mual tanpa obat.

 Latihan napas© Instagram @jamilatus

" Caranya letakkan lidah di tengah-tengah antara gigi atas dan bawah," ungkap Bidan Mila, di akun Instagramnya @jamilatus.sadiyah.

Setelah itu buang napas secara perlahan melalui hidung. Bayangkan juga mual muntah seperti bara api dan udara yang masuk adalah airnya untuk memadamkannya.

 

Bidan Ajarkan Latihan Napas Simpel yang Redakan Mual Ibu Hamil
Ibu Hamil Merasa Mual/ Foto: Shutterstock
2 dari 6 halaman

Lihat videonya

Trik pernapasan ini cukup mudah diterapkan di mana pun. Terutama ketika ibu hamil merasa sangat mual. Kuncinya adalah mengendalikan pikiran agar lebih tenang dan napas perlahan. Lihat videonya.

      View this post on Instagram

A post shared by Jamilatus Sa'diyah (@jamilatus.sadiyah)

3 dari 6 halaman

Pengapuran Plasenta Saat Hamil, Seberapa Bahaya?

Dream - Kehidupan janin dalam rahim sangat bergantung pada plasenta. Organ ini begitu istimewa yang tumbuh di tubuh ibu hamil yang berfungsi memasok oksigen serta nutrisi kepada janin di dalam kandungan.

Saat plasenta bermasalah tentunya bisa mengancam nyawa janin. Nah, ada salah satu kondisi di mana plasenta mengalami gangguan berupa pengapuran atau disebut kalsifikasi.

Dikutip dari KlikDokter, menurut dokter Devia Irine Putri pengapuran plasenta terjadi karena adanya penumpukan kalsium di dalam plasenta. “ Akibatnya, jaringan plasenta berubah menjadi lebih keras secara bertahap. Kondisi ini biasanya terjadi saat trimester akhir atau ketika lewat dari perkiraan lahir,” kata dr. Devia.

Pengapuran plasenta merupakan kondisi yang normal. Kondisi ini menjadi bagian dari proses penuaan alami yang terjadi ketika usia plasenta mendekati hari kelahiran.

 

4 dari 6 halaman

Dipicu Hal Ini

Menurut dr. Devia efek pengapuran plasenta bisa mengganggu perkembangan janin. Hal ini karena penumpukan kalsium dapat menyumbat pembuluh darah di plasenta.
Pengapuran plasenta berisiko menyebabkan berat badan janin tak bertambah (stagnan) akibat pasokan nutrisi dan oksigen yang terhambat.

Bayi pun bisa lahir dengan berat badan yang rendah atau kecil. Meski kondisi ini umum dialami oleh ibu hamil, ada beberapa faktor risiko yang bisa meningkatkan terjadinya pengapuran plasenta, seperti:
- Kebiasaan merokok
- Mengalami hipertensi selama kehamilan
- Mengalami stres saat kehamilan
- Ada infeksi bakteri pada plasenta
- Solusio plasenta (kondisi plasenta terlepas dari dinding rahim).
- Terpapar radiasi.
- Mengonsumsi obat-obatan tertentu selama kehamilan.

Efek pengapuran plasenta bisa berbeda pada satu kehamilan dengan kehamilan lainnya. Pengapuran plasenta juga menyebabkan ibu mengalami kontraksi rahim, kram di bagian perut, dan perdarahan di vagina. Selengkapnya baca di sini.

5 dari 6 halaman

Kehamilan Ternyata Bisa Picu Alergi Baru

Dream - Setelah melahirkan, kondisi fisik dan psikis ibu berubah drastis. Keluhan yang muncul antara lain, sakit punggung, baby blues, hingga rambut rontok. Rupanya, ada juga efek kesehatan yang muncul dan kerap tak disadari yaitu munculnya alergi baru.

Kondisi alergi bisa terjadi karena adanya perubahan hormon secara drastis. Bisa berupa bersin terus-menerus, gatal-gatal atau reaksi alergi lainnya. Jika sebelum hamil tak pernah terjadi, justru reaksi tersebut muncul setelah melahirkan.

" Fluktuasi hormon memengaruhi alergi Anda karena estrogen dan progesteron berdampak pada sel mast (sel alergi) Anda,” kata Purvi Parikh, M.D., ahli alergi dan imunologi dari Allergy and Asthma Network, dikutip dari Parents.

Alergi baru dapat muncul selama periode perubahan hormonal yang signifikan, termasuk kehamilan, pascapersalinan, perimenopause, dan menopause. Saat menstruasi, wanita bisa mendapatkan reaksi yang lebih parah.

" Peningkatan kadar estrogen dan progesteron dapat menyebabkan reaksi baru, terutama alergi musiman," kata dr. Parikh.

Bagi mereka yang memiliki alergi yang sudah ada sebelum kehamilan, reaksi yang muncul dapat bervariasi. Menurut Dr. Parikh, gejalanya bisa memburuk, tetap sama, atau membaik selama kehamilan.

 

6 dari 6 halaman

Kehamilan dan Sistem Kekebalan Tubuh

Kita sering mendengar sistem kekebalan tubuh dalam keadaan lemah selama kehamilan, itulah sebabnya ibu hamil mungkin lebih rentan terhadap pilek dan flu. Ada juga kepercayaan bahwa keadaan sistem kekebalan yang unik saat hamil dapat membuka pintu bagi alergi baru untuk berkembang.

Tapi apa yang sebenarnya terjadi? Sistem kekebalan kita memiliki dua subsistem: kekebalan bawaan dan adaptif. Keduanya memiliki respons yang berbeda-beda terhadap kehamilan.

" Selama kehamilan, sistem kekebalan beradaptasi untuk memungkinkan koeksistensi antara ibu dan janin/plasenta yang mengandung materi genetik ayah. Untuk mencapai ini, respons bagian adaptif dari sistem kekebalan berkurang. Inilah sebabnya mengapa kehamilan dianggap sebagai keadaan imunodefisiensi," kataAmina Abdeldaim, MD, MPH.

Sementara itu, respon imun bawaan, yang bertahan melawan infeksi, tetap tinggi. Dalam keadaan baru ini, tubuh dapat melakukan dua peran kunci—menjaga janin yang sedang tumbuh aman dari serangan sistem kekebalan dan melindungi ibu dari infeksi bakteri dan virus yang berbahaya.

Join Dream.co.id