Bayi Pengungsi Afghanistan Lahir Selamat di Ketinggian 30.000 Kaki

Do It Yourself | Rabu, 1 September 2021 10:04

Reporter : Mutia Nugraheni

Tak ada tenaga medis di pesawat, persalinan hanya dibantu kru Turkish Airlines.

Dream - Kondisi negara Afghanistan yang saat ini dikuasai Taliban, membuat banyak warga negaranya memutuskan untuk mengungsi ke negara lain. Salah satunya adalah keluarga Soman Noori, seorang ibu yang tengah hamil.

Ia menumpang pesawat evakuasi Turkish Airlines pada 28 Agustus 2021 lalu bersama suami dan dua anaknya. Rupanya dalam perjalanan ke Birmingham di Inggris, Soman merasakan kontraksi.

Persalinan pun terjadi di pesawat, tepatnya di ketinggian 30.000 kaki, di atas Kuwait. Tidak ada dokter dan tim medis dalam pesawat. Bersyukur, bayi lahir selamat dan ibunya dalam kondisi baik.

 Ibu melahirkan di pesawat© The Sun

Awak pesawat Turkish Airlines membantu sang ibu melahirkan bayi tersebut. Bayi itu berjenis kelamin perempuan yang diberi nama Havva. Para awak yang membantu persalinan sempat berpose dengan si kecil Havva.

Sepanjang perjalanan, Havva hanya dibungkus oleh selimut. Kini keluarga Soman Noori sudah berada di Inggris dan memulai kehidupan baru setelah meninggalkan Afghanistan.

Sumber: KidSpot/ The Sun

 

 

 

Bayi Pengungsi Afghanistan Lahir Selamat di Ketinggian 30.000 Kaki
Foto: The Sun
2 dari 5 halaman

Pilu, Ibu 25 Tahun Meninggal Setelah Melahirkan karena Covid-19

Dream - Perjuangan para ibu hamil tetap dalam kondisi sehat dalam situasi pandemi Covid-19 memang tak mudah. Risiko tertular virus corona bisa datang dari mana saja.

Dampak yang paling fatal dari virus adalah komplikasi yang berujung kematian. Sebuah cerita pilu dibagikan akun Twitter @septiojk. Ia adalah seorang suami yang istrinya meninggal dunia setelah melahirkan anak pertama mereka.

Berawal dari istri Septio tertular Covid-19 saat hamil tua. Perburukan terjadi begitu cepat. Operasi caesar dilakukan agar paru-paru sang istri tak bekerja terlalu berat.

" Di akhir kehamilan yg tinggal menghitung hari mendekati hpl saya dan istri terinfeksi covid-19. Kondisi perburukan istri saya berlangsung begitu cepat. Hingga saat kami pergi ke igd dokter berkata dengan raut wajah tidak yakin dan suara lirih. 'Mas, istrinya harus segera di caesar untuk mengurangi beban paru-parunya, perasi ini sangat beresiko. Ada yg berhasil ada yg tidak'. Berhasil atau tidak yg dimaksut adalah kondisi dari istri saya yg kemungkinan bisa tidak tertolong (50%-50%) karena perburukan infeksi pada paru-parunya bukan karena operasi caesarnya,"  tulis @septiojk.

Penjelasan dokter membuat Septio sangat sedih. Ia berusaha tegar mendampingi sang istri yang masih sangat muda, 25 tahun.

" Betapa hati ini remuk mendengar dokter berkata demikian dengan intonasi yg lirih dan raut wajah yg tidak yakin. Sebagai seseorang yg tidak pernah patah hati dalam percintaan karena ya seumur hidup saya cuma pacaran hingga menikah dengan orang ini, benar-benar hari itu saya dibuat hancur dengan beberapa kalimat yg dilontarkan dokter. Sempat saya tanyakan kepada istri. “ Kamu gmn mah gas nggk?” Dia jawab “ gas aja yah”. Saya sahut lagi “ tapi kamu kuat dan semangat lho”. “ Iya iya” jawabnya,"  ungkap @septiojk.

 

3 dari 5 halaman

Anak Lahir dengan Selamat, Sang Ibu Alami Perburukan

Operasi caesar pun dilakukan. Anak pertama mereka lahir dengan selamat. Sebelumnya dilakukan sederet tes pada si bayi dan dinyatakan negatif Covid-19.

" Saya mendengar suara 2x tangisan bayi yg begitu kuat dari luar ruangan. Tepat di titik ini adalah momen yg sangat sangat sangat tidak bisa didefinisikan. Disatu sisi saya berucap alhamdulillah ini tangis anakku yg sudah lahir didunia disisi lain ada sesuatu yg masih mengancam istri saya dan kemungkinan anak saya tertular oleh ibunya. Alhamdulillah 2x test pcr anak saya dinyatakan (-) dan boleh dibawa pulang dengan kondisi sangat sehat,"  tulis @septiojk.

Sementara setelah operasi caesar, istri dari Septio harus masuk ruang ICU. Kondisinya dipantau intensif karena mengalami sesak parah

" Hingga pada suatu pagi saturasinya menyentuh angka 16% yg membuat istri saya tidak sadar(gagal nafa) dan terpaksa untuk dipasang ventilator. Sebuah alat yg sangat dihindari pada tindakan medis. Hingga tirai terakhir dibuka saya tanya keperawat berapa saturasinya. Dia menjawab membuka semua 5 jarinya yg artinya 50% dengan raut muka yg suram. Istri saya dinyatakan meninggal setelah 10 hari dirawat di ruang ICU (7 hari dengan ventilator),"  ungkap @septiojk.

Cerita @septiojk ini membuat banyak warganet terharu. Doa pun mengalir untuknya dan sang anak yang belum sempat melihat wajah ibunya sendiri. Akun @YazidAbdur menullis " Yang tabah dan kuat ya Mas. InsyaAllah Mbak Deya husnul khotimah. Saya mungkin gak bisa sekuat Mas Tio kalo ada di posisi itu" .

Lalu akun @sangkonseptor menulis " Innalillahi wainnailaihi rojiun, Alfatihah kagem istri" . Lihat unggahan @septiojk selengkapnya.

 

4 dari 5 halaman

Tertular Covid-19, Ibu Hamil 22 Kali Lebih Mungkin Meninggal Dunia

Dream - Ibu hamil di Amerika Serikat saat ini termasuk golongan yang diprioritaskan untuk mendapat vaksin Covid-19 yang diproduksi oleh Pfizer dan Moderna. Kebijakan ini juga diterapkan di Kanada.

Penelitian yang dilakukan menunjukkan kalau dua vaksin tersebut tak terbukti berbahaya bagi ibu hamil. Fakta lainnya yang juga mendukung kebijakan tersebut adalah enurut sebuah studi internasional yang dipimpin oleh UW Medicine dan dokter di Universitas Oxford, orang yang terkena COVID-19 saat hamil memiliki kemungkinan 22 kali lebih besar untuk meninggal dunia dibandingkan mereka yang sedang hamil dan tidak tertular COVID-19.

Risiko lainnya yang mungkin muncul adalah, ibu hamil yang tertular Covid-19 lebih mungkin melahirkan bayi prematur, mengalami preeklamsia, menjalani intubasi, dan masuk ICU. Kondisi tersebut diperparah jika ibu hamil menglami obesitas, menderita hipertensi atau diabetes. Jika bayi tersebut lahir dari ibu yang terinfeksi, 11% di antaranya dinyatakan positif COVID-19.

 

5 dari 5 halaman

Cenderung Membutuhkan Perawatan Intensif

Studi ini dilakukan pada 2.130 wanita hamil di 18 negara yang didiagnosis dengan Covid-19 dan menunjukkan bahwa tertular Covid-19 saat hamil memiliki hubungan yang konsisten dengan hasil kesehatan yang lebih buruk. Termasuk peningkatan substansial dalam morbiditas ibu, kematian, dan komplikasi neonatal.

" Hal pertama yang diambil dari penelitian ini adalah bahwa ibu hamil tidak lebih mungkin tertular COVID-19, tetapi jika mereka mendapatkannya, mereka lebih cenderung menjadi sangat sakit dan lebih mungkin membutuhkan perawatan ICU, ventilator, atau mengalami kelahiran prematur dan preeklamsia," kata dr. Michael Gravett, peneliti utama studi tersebut kepada The Seattle Times.

Informasi tersebut menyoroti perlunya langkah-langkah pencegahan Covid-19 yang ketat yang harus diikuti di setiap fase dalam kehamilan. Penelitian yang menunjukkan bahwa vaksin Pfizer dan Moderna aman untuk ibu hamil, perlu ditindaklanjuti secara aktif.

Analisis awal dari penelitian terhadap 35.000 orang hamil yang menerima salah satu dosis sesaat sebelum, atau selama, kehamilan, mengungkapkan bahwa vaksin tidak menimbulkan risiko serius bagi individu tersebut. Saat ini, pusat pengendalian penyakit AS (CDC) telah menyatakan bahwa ibu hamil harus mendapatkan vaksin tersebut.

Sumber: Fatherly

Join Dream.co.id