ASI Ibu yang Positif Covid-19 Membentuk Antibodi Spesifik

Do It Yourself | Rabu, 27 Mei 2020 12:03

Reporter : Mutia Nugraheni

Bukan tidak mungkin dikembangkan menjadi obat atau mungkin vaksin Covid-19.

Dream - Seluruh peneliti kesehatan di dunia, terutama dalam hal farmasi, vaksin, ahli virus, epidemiolog dan masih banyak lagi, sedang bekerja keras untuk membuat obat agar bisa memerang virus Covid-19. Hingga kini, virus tersebut tak memiliki obat khusus yag efektif dan vaksinnya belum ditemukan.

Salah satu penelitian dilakukan oleh ahli imunologi asal New York, Amerika Serikat, Rebecca Powell. Ia secara khusus meneliti air susu ibu (ASI) dari para ibu baik yang sehat maupun yang terpapar Covid-19.

Untuk melakukan studinya, ibu tiga anak ini (satu di antaranya masih menyusui) mengenakan topeng dan melakukan perjalanan di New York City demi mengambil ASI.

Powell, yang merupakan asisten profesor kedokteran dan penyakit menular di Sekolah Kedokteran Mount Sinai, mengumpulkan sampel ASI dengan aman tanpa kontak untuk meneliti “ apakah ASI membantu melindungi bayi dari penyakit, dan apakah komponen susu dapat membantu mengarah ke perawatan coronavirus?"

Faktanya, ASI mengandung antibodi alami untuk membantu bayi melawan infeksi dan penyakit, tetapi bagaimana selama krisis kesehatan di seluruh dunia seperti ini? Bisakah ASI digunakan untuk perawatan Covid-19?

 

ASI Ibu yang Positif Covid-19 Membentuk Antibodi Spesifik
ASI Perah (Foto: Shuterstock)
2 dari 6 halaman

Kedahsyatan Antibodi

“ Antibodi adalah protein yang diciptakan oleh sistem kekebalan untuk menetralkan paparan bakteri dan virus. Dalam beberapa kasus, antibodi dapat digunakan sebagai terapi, seperti untuk kanker atau bahkan untuk mengobati rabies pada manusia. Para ilmuwan telah mempelajari orang-orang yang dalam darahnya terdapat virus Covid-19 dalam darah untuk tujuan pengujian dan pengobatan, tetapi kurang perhatian pada kekuatan ASI," kata Powell

Rebecca Powell dan timnya dalam penelitian yang diterbitkan pada 8 Mei lalu mengungkap hasil studi pendahuluan. Studi ini mencakup 15 sampel ASI dari 5 ibu menyusui yang telah pulih dari Covid-19 dan 10 ibu yang sehat.

Hasil penelitian menunjukkan 80% ibu menyusui yang sembuh dari Covid-19 memiliki antibodi spesifik dalam ASI khusus untuk penyakit tersebut. Temuan ini memberi tahu Powell bahwa ada nilai dalam melanjutkan penelitiannya tentang ASI dan antibodi COVID-19, terutama karena

" Antibodi ASI terkenal untuk membantu melindungi bayi dari berbagai penyakit seperti campak saat bayi terlalu kecil untuk menerima vaksin , dan menyusui juga dikaitkan dengan risiko rendahnya kondisi termasuk beberapa kondisi pencernaan, diabetes, asma, dan sindrom kematian bayi mendadak, ” kata Powell kepada Insider.

Selanjutnya, antibodi ASI datang dalam bentuk IgA, yang berarti dirancang untuk tidak hancur ketika ada di mulut atau perut bayi," kata Powell.

 

3 dari 6 halaman

Tetap Berikan ASI Meski Ibu Positif Covid-19

Ia menambahkan bahwa bentuk IgA " cukup tahan lama" . Ini berarti bahwa antibodi ASI, lebih dari antibodi yang datang dalam bentuk lain, memungkinkannya bertahan dengan baik jika digunakan secara terapeutik, seperti melalui infus.

Studi Powell juga semakin menekankan pentingnya menyusui bayi bagi ibu yang terkena Covid-19. Hingga kini belum ada bukti bahwa virus bisa menular melalui ASI.

Jika memang ibu takut menularkan, ASI bisa dipompa dan diberikan melalui media lain seperti sendok, gelas kecil atau dot. Kuncinya adalah ibu selalu mengenakan masker dan menjaga kebersihan saat memompa ASI.

Sumber: Insider

4 dari 6 halaman

Perjuangan Bayi 6 Bulan dengan Kelainan Jantung Melawan Covid-19

Dream - Sejak lahir sudah berjuang habis-habisan untuk bisa bertahan hidup, itulah gambaran Erin Bates, bayi berusia 6 bulan yang tinggal di Amerika Serikat. Virus Covid-19 membuat nyawanya sempat di ujung tanduk.

Erin Bates adalah putri dari Emma dan Wayne Bates. Ia lahir setelah Emma dan Wayne berusaha mendapat momongan selama 10 tahun. Setelah lahir pada 8 Oktober 2019, Erin diketahui memiliki kelainan jantung langka dan berbahaya yang disebut Tetralogy of Fallots.

Sebulan kemudian, pada 23 Desember, Erin menjalani operasi perbaikan jantung dan harus menjalani di perawatan intensif di ruang ICU. Setelah dua hari di bangsal jantung, ia dirawat kembali di ICU setelah tertular RSV, virus yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan.

 

5 dari 6 halaman

Paru-paru Bermasalah Ternyata Covid-19

Paru-parunya bermasalah dan Erin didiagnosis dengan bronchomalacia, melemahnya tulang rawan di dinding tabung bronkial. Erin juga mengalami tracheomalacia, penyempitan saluran udara.

Ternyata saat menjalani tes, Erin kecil juga positif Covid-19. Hasil tes baru keluar pada 10 April. Bocah ini akhirnya menjalani perawatan berbulan-bulan di rumah sakit. Erin harus menggunakan alat bantu dan mesin untuk bisa bernapas.

Hal ini karena jantungnya belum bisa bekerja untuk memompa saluran udara. Setelah diketahui positif Covid-19, Erin tak bisa dijenguk oleh orangtuanya. Bayi sekecil itu harus menjalani isolasi.

 

6 dari 6 halaman

Berhasil Sembuh

Menjalani serangkaian perawatan intensif, dengan masalah jantung dan terkena Covid-19, Erin merupakan pejuang yang sesungguhnya. Ia berhasil sembuh dan akhirnya bisa bertemu dengan ayah dan ibunya.

Selepas dari ruang ICU dan sudah dinyatakan negatif Covid-19, tim medis memberikan semangat untuk Erin. Para dokter dan perawat memberikan tepukan membaha khusus untuknya.

Cerita ini dibagikan Emma sang ibu, di akun Facebooknya. Sebuah video menunjukkan bagaimana hangatnya tepukan para tim medis menyambut kesembuhan Erin.

 

 

Join Dream.co.id