Anak Suka Berjalan Saat Tidur, Seberapa Bahaya?

Do It Yourself | Rabu, 13 Oktober 2021 15:13

Reporter : Mutia Nugraheni

Episode sleepwalking biasanya berlangsung dari lima hingga 15 menit.

Dream - Anak-anak kerap mengalami masalah mengigau atau meracau saat tidur. Mereka bisa berbicara atau bahkan sampai bergerak dengan mata tertutup hingga berjalan.

Kondisi anak yang berjalan dalam keadaan tidur dan tak sadar, dikenal dengan sebutan somnambulisme atau sleepwalking. Dikutip dari Healthline, sleepwalking paling sering terlihat pada anak-anak antara usia 4 dan 8 tahun.

Kebanyakan anak yang berjalan dalam tidur mulai melakukannya satu atau dua jam setelah tertidur. Episode sleepwalking biasanya berlangsung dari lima hingga 15 menit.

Sebenarnya kondisi cenderung tidak berbahaya. Tapi dalam beberapa kondisi, memang bisa berdampak fatal jika anak tergelincir atau jatuh saat berjalan dalam keadaan tak sadar. Penting untuk melindungi anak dari kemungkinan cedera akibat berjalan dalam tidur.

 

Anak Suka Berjalan Saat Tidur, Seberapa Bahaya?
Anak Tidur Dan Berjalan/ Foto: Shutterstock
2 dari 6 halaman

Apa yang menyebabkan sleepwalking?

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan sleepwalking. Ini termasuk:

- kelelahan atau kurang tidur
- kebiasaan tidur tidak teratur
- stres atau kecemasan
- berada di lingkungan tidur yang berbeda
- sakit atau demam
- obat-obatan tertentu, termasuk obat penenang, stimulan, dan antihistamin
- riwayat keluarga berjalan sambil tidur
- sleep apnea (ketika seseorang berhenti bernapas untuk waktu yang singkat di malam hari)
- mimpi buruk yang terjadi dalam tidur nyenyak)
- migrain

 

 

3 dari 6 halaman

Apa saja gejala sleepwalking?

Berjalan saat tidur mungkin merupakan gejala yang paling umum dari berjalan dalam tidur, tetapi ada tindakan lain yang terkait dengan kondisi ini. Seperti
duduk di tempat tidur dan mengulangi gerakan, bangun dan berjalan di sekitar rumah, berbicara atau bergumam saat tidur tapi tidak merespons saat diajak bicara atau melakukan perilaku rutin atau berulang, seperti membuka dan menutup pintu.

Bila hanya terjadi sesekali, kondisi ini sebenarnya akan mereda dengan sendiri. Sebaliknya jika dirasa sangat menggangu dan membahayakan anak, jangan segan untuk berkonsultasi dengan dokter.

Biasanya, dokter dapat mendiagnosis sleepwalking berdasarkan laporan anggota keluarga lain tentang perilaku anak. Umumnya, tidak diperlukan pengobatan. Dokter mungkin ingin melakukan pemeriksaan fisik dan psikologis untuk menyingkirkan kondisi lain yang dapat menyebabkan sleepwalking. Jika masalah medis lain menyebabkan anak berjalan dalam tidur, perawatan diperlukan untuk masalah yang mendasarinya.

Sumber: Healthline

4 dari 6 halaman

Efek Buruk Bagi Otak Anak Saat Tidurnya Tak Berkualitas

Dream - Pernah menghitung berapa jam buah hati tidur dalam sehari? Pastikan durasi tidur anak tak kurang dari 8 jam. Perhatikan juga apakah tidurnya berkualitas atau tidak, seperti terlelap atau sering terbangun, gelisah atau tidak.

Jangan sampai anak kurang tidur atau tidurnya tak berkualitas dalam waktu lama. Hal ini akan sangat berdampak pada tumbuh kembangnya, termasuk aspek psikososial. Dikutip dari KlikDokter, fungsi psikososial dapat dilihat dari bagaimana cara seseorang bersosialisasi, menjalin hubungan dengan orang lain, berpikir dan menghadapi suatu masalah.

Apabila gangguan tidur pada anak terus terjadi, berikut ini beberapa dampak buruk yang bisa terjadi pada fungsi psikososialnya:

Berpengaruh pada Perkembangan Fisik dan Psikologis
Dalam child encyclopedia, studi telah menemukan hubungan antara masalah tidur dengan gangguan fungsi psikososial anak. Hal tersebut meliputi perilaku menentang, agresif, serta gangguan kecemasan.

Kondisi tersebut bisa terjadi, karena menurut Gracia Ivonika, seorang psikolog, kebutuhan tidur anak yang terpenuhi dengan baik secara kuantitas dan kualitas akan mendukung kondisi fisik dan psikologis si kecil.

“ Kebutuhan tidur anak yang terpenuhi secara kualitas dan kuantitas sesuai usianya terbukti dapat mendukung perkembangan aspek fisik dan psikologis yang optimal,” ujar Gracia.

 

5 dari 6 halaman

Berpengaruh pada Perkembangan Otak

Menurut American Psychological Association (APA), pada anak usia sekolah, kurang tidur dapat menyerupai gejala attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD).Dengan kata lain, anak yang kurang tidur dapat secara konsisten menunjukkan defisit kognitif.

Seperti memori dan kemampuan memecahkan masalah yang buruk. Anak tersebut pun juga berpotensi memiliki kinerja akademik yang rendah. Sebuah studi prospektif terhadap lebih dari 1.000 anak menyatakan, mereka yang kurang tidur di usia dini memiliki lebih banyak masalah sosial dan perilaku ketika menginjak 7 tahun.

 

6 dari 6 halaman

Berpengaruh pada fokus dan suasana hati anak

Menurut Gracia, kebutuhan tidur anak yang terpenuhi dapat menurunkan risiko masalah kesehatan mental, seperti kecemasan dan depresi. Selain itu, anak yang selalu memenuhi kebutuhan tidur sehari-hari juga cenderung lebih baik dari segi performa akademis, interaksi sosial, pengelolaan emosi dan perilaku, serta atensi (fokus).

Selengkapnya baca di sini.

Join Dream.co.id