Anak di Bawah 12 Tahun Boleh Masuk Mal, IDAI Ingatkan Belum Aman

Do It Yourself | Minggu, 26 September 2021 10:17

Reporter : Mutia Nugraheni

Dalam keadaan pandemi begini, no one is save until everyone save," pesan Profesor Aman.

Dream - Anak di bawah usia 12 tahun kini sudah bisa masuk ke mal meskipun belum divaksin. Syaratnya adalah orangtua sudah divaksin dan juga melakukan scan pada aplikasi Peduli Lindungi.

Terkait hal ini, Profesor Aman Pulungan, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDAI) memberikan peringatan. Memang sudah diperbolehkan memabawa anak di bawah 12 tahun untuk masuk mal, tapi hal itu tidak aman

" Kalau ditanya aman pasti belum, karena jelas anak itu belum diimunisasi. Kalau di atas 12 tahun sudah diimunisasi dengan protokol saya sepakat. Kalau membawa anak kita memang ada beberapa risiko," kata Aman, dalam Instagram resmi IDAI.

 IDAI© Instagram IDAI

Ia juga mengingatkan dalam situasi seperti sekarang, protokol kesehatan benar-benar tak boleh disepelekan apalagi diabaikan. Menggunakan masker, mencuci tangan pakai sabun serta menjaga jarak harus sudah jadi kebiasaan, termasuk pada anak-anak.

Anak di Bawah 12 Tahun Boleh Masuk Mal, IDAI Ingatkan Belum Aman
Anak Ke Mal Pakai Masker/ Foto: Shutterstock
2 dari 6 halaman

Vaksinasi Harus Ditingkatkan

Menurut Profesor Aman, memang sebagian orang dewasa sudah mendapat vaksin Covid-19 dosis penuh. Penting diingat hal itu tak menjamin keamanan bagi anak-anak.

Pelaksanaan vaksinasi Covid-19, menurutnya, juga masih harus terus ditingkatkan. Jika nanti sudah tersedia vaksin Covid-19 untuk anak di bawah 12 maka harus segera diberikan.

" Imunisasi harus semaksimal mungkin kita tingkatkan. Dalam keadaan pandemi begini, no one is save until everyone save," pesan Profesor Aman.

3 dari 6 halaman

Bermunculan Kluster Covid-19 di Sekolah, Dokter Beri Kritikan Pedas

Dream - Penurunan kasus Covid-19 di Indonesia dalam beberapa bulan terakhir cukup signifikan. Hal ini karena pemerintah memberlakukan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) dengan ketat.

Dengan menurunnya jumlah kasus, pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah akhirnya diizinkan tapi dengan sejumlah persyaratan kesehatan. Sejak beberapa waktu lalu sekolah yang sudah mendapat izin, menyelenggarakan PTM.

Sayangnya setelah PTM diberlakukan, muncul sejumlah kluster atau penularan berkelompok Covid-19 di sekolah. Kasus yang paling banyak terjadi adalah di tingkat Sekolah Dasar (SD).

Terkait hal ini, dr. Adaninggar, seorang spesialis penyakit dalam, yang juga relawan dari akun edukasi Covid-19 @pandemictalks, memberi kritikan keras. Menurutny jika memang sekolah dibuka dan PTM dijalankan, seluruh pihak harus benar-benar disiplin. Jangan sampai nyawa anak jadi taruhannya.

" Yuk donk please semua orang tua, guru dan siapapun yang pengen PTM benar-benar berjalan, ya yang bener donk. Tujuan PTM itu apa sih? Bener kan alasannya karena ingin anak-anak kita ga jadi loss generation?? Klo bener itu alasannya mestinya pelaksanaan dan pemantauan pelaksanaan PTMnya juga ga asal-asalan donk. Kecuali kalo tujuannya hanya menuruti ego para orang dewasa tapi alasan anak jadi pembenaran,"  tulis dr. Ning, sapaan akrabnya, di akun Instagram @drningz.

 

4 dari 6 halaman

Kejujuran

Ia pun meminta semua pihak yang bertanggung jawab dalam hal kebijakan PTM benar-benar jujur atas kondisi di lapangan. Bukan sekadar asal menerapkan protokol kesehatan.

 dr Ning© Instagram dr Ningz

" Ngeri karena masih banyak orang di luar sana yang tidak memegang prinsip KEJUJURAN, EMPATI, dan PENGENDALIAN DIRI. Hanya memikirkan diri sendiri. Ini hal yang paling mengerikan,"  ungkapnya.

5 dari 6 halaman

Mulai Sekolah Tatap Muka, Pastikan Barang Ini Ada di Tas Anak

Dream - Beberapa sekolah sudah mulai menerapkan sekolah tatap muka. Sejumlah persyaratan protokol kesehatan diterapkan demi mengurangi risiko penularan Covid-19.

Mungkin sebagian besar orangtua merasa khawatir mengirimkan anak-anaknya ke sekolah. Dalam situasi seperti sekarang, tampaknya kita harus mulai beradaptasi dengan keadaan, termasuk dalam hal sekolah anak-anak.

Hal yang terpenting adalah melatih dan selalu mengingatkan buah hati kalau kondisi di sekolah jauh berbeda dan mereka harus berhati-hati. Tak boleh lepas masker, dan tetap menjaga jarak.

Siapkan juga barang-barang berikut pada tas sekolah anak. Pastikan selalu ada dalam tas, sebelum anak ke sekolah saat pandemi.

- Masker ganti
Anak-anak cenderung aktif dan masker yang dikenakan akan mudah kotor atau basah. Siapkan masker cadangan dalam tas. Masukkan dalam kantung khusus yang bersih.

Akan lebih baik siapkan masker medis dan masker kain agar bisa digunakan anak. Masker dua lapis akan lebih baik untuk perlindungan maksimal, terutama saat di sekolah.

- Hand sanitizer
Barang ini juga sangat penting agar anak bisa menggunakan setiap saat. Bisa digantung di celana atau tasnya agar anak mudah mengakses dan tak gampang hilang.

Bisa juga menyiapkan hand sanitizer yang berdesain lucu dan disukai anak. Hal ini membuat anak selalu semangat menggunakannya. Ini termasuk semprotan antivirus bakteri.

 

6 dari 6 halaman

Keperluan Pribadi Anak

- Botol minum dan bekal
Seperti yang kita tahu, kantin di sekolah selama pandemi tak diperbolehkan dibuka. Untuk itu anak-anak harus membawa minum dan makanan sendiri dari rumah. Perhitungkan durasi waktu sekolah anak.

Siapkan minuman, makanan dan camilan yang cukup. Jangan sampai anak merasa lapar dan haus di sekolah. Ingatkan anak untuk minum atau makan jauh dari teman-temannya karena harus membuka masker.

- Alat tulis
Pastikan juga seluruh alat tulis anak lengkap di dalam tas. Mulai dari pensil, pulpen, penghapus, penggaris, rautan dan perlengkapan lain. Hal ini agar anak tak perlu meminjam dan melakukan banyak kontak.

Join Dream.co.id