6 Bulan Pasca Melahirkan Hormon Baru Kembali Normal

Do It Yourself | Rabu, 11 November 2020 14:05
6 Bulan Pasca Melahirkan Hormon Baru Kembali Normal

Reporter : Mutia Nugraheni

Fluktuasi emosi akan dialami ibu karena peruahan hormon yang drastis.

Dream - Segera setelah dua garis merah muda itu muncul pada tes kehamilan, hormon ibu mendapatkan 'pesan' bahwa ada sesuatu yang berbeda. Progesteron dan human chorionic gonadotropin (hCG) mulai memompa untuk memberi sinyal pada tubuh untuk menghentikan produksi pada periode menstruasi berikutnya, dan mulai membentuk kelompok sel itu menjadi janin.

Seperti yang mungkin sudah ketahui, saat hormon mulai bekerja, ibu akan mengalami gejala awal kehamilan seperti mual, kelelahan, dan nyeri payudara. Saat kehamilan berlanjut, tubuh kita menghasilkan estrogen dan progesteron dalam jumlah yang luar biasa.

" Kedua hormon ini adalah kunci untuk menciptakan dopamin dan serotonin, dua neurotransmiter di otak yang penting untuk merasa tenang dan bahagia," ujar Aumatma Shah, spesialis kesuburan dan dokter naturopati di Pusat Kesuburan Holistik Bay Area, dikutip dari Parents.

 

2 dari 6 halaman

Perubahan Hormon

Inilah sebabnya mengapa banyak wanita merasa luar biasa saat hamil. Kehamilan menawarkan lonjakan hormon dan neurotransmiter yang membantu kita merasa hebat. Nah, hormon berubah drastis setelah melahirkan.

Salah satunya menyebabkan emosi yang menggila setelah melahirkan. Berikut ini tahapannya dan hormon cenderu stabil setelah 6 bulan setelah melahirkan.

Hormon pada 3 hingga 6 minggu setelah melahirkan
Setelah beberapa minggu pertama berlalu, ibu mungkin mulai merasakan emosi seperti rollercoaster, ibu pun kurang tidur. Tiga minggu pertama adalah sedikit gangguan tidur dan emosi karena sistem hormon sebagian besar berjalan pada aktivasi adrenalin untuk menggerakkan ibu sepanjang hari.

Sekitar enam minggu, katanya, gejala depresi pascapersalinan mungkin mulai terlihat karena hormon pasca melahirkan yang positif terus memudar. Perubahan yang harus diperhatikan dengan seksama adalah tidak ingin mandi, takut meninggalkan bayi dengan orang lain, tidak bisa tidur nyenyak karena terus memeriksa bayi, dan kurangnya keinginan untuk hal lain seperti makan, minum, berada di sekitar orang, serta meninggalkan rumah.

 

3 dari 6 halaman

Hormon 3 bulan setelah melahirkan

Tiga bulan setelah melahirkan, ibu mungkin memiliki rutinitas yang ditetapkan untuk bayi. Namun hormon tiga bulan pascapersalinan masih bekerja keras agar bisa kembali normal setelah lahir.

" Sekitar dua hingga tiga bulan pascapersalinan, hormon mulai kembali ke tingkat sebelum kehamilan. Namun, seringkali kortisol meningkat karena banyak penyebab stres yang baru karena memiliki bayi yang masih kecil," ujar Shah.

Kurang tidur berkontribusi pada peningkatan kadar kortisol atau hormon stres. Perubahan hormon pascapartum ini terkadang dapat berdampak negatif pada suasana hati.

 

4 dari 6 halaman

Hormon 6 bulan pasca persalinan

Perubahan terbesar yang terjadi pada hormon setelah enam bulan pascapersalinan adalah penurunan hormon prolaktin, yang merupakan hormon pembuat susu. Hormon ini tetap tinggi saat menyusui.

Ketika bayi mulai belajar makan, hormon prolaktin akan turun. Bahkan jika ibu terus menyusui melewati batas enam bulan. Permintaan bayi akan susu kemungkinan besar masih diatur dengan baik pada titik ini.

Kapan hormon kembali normal?
Enam bulan pascapersalinan adalah perkiraan yang baik kapan hormon akan kembali normal. Ini juga terjadi saat ibu mengalami menstruasi pertama setelah melahirkan. Pada enam bulan, perubahan hormonal pascapartum dalam estrogen dan progesteron harus disetel ulang ke tingkat sebelum kehamilan.

Hormon kesuburan juga sudah mulai aktif, yang akan memicu siklus menstruasi lagi. Dalam masa ini ada kemungkinan ibu hamil lagi jika tak menggunakan kontrasepsi.

 

5 dari 6 halaman

Perubahan Mengagumkan Pada Tubuh Ibu Pasca Melahirkan

Dream - Tubuh ibu mengalami transformasi besar selama kehamilan, saat persalinan dan setelah persalinan. Banyak ibu yang kaget dan bingung dengan kondisi tubuhnya setelah melahirkan.

Edukasi kesehatan seputar kesehatan ibu pasca melahirkan tak segencar saat hamil. Keluhan akan muncul.

Mulai dari tangan yang gemetar, rahim yang masih merasakan kram setelah melahirkan, lemas, hingga depresi dan stres kerap dialami ibu setelah persalinan.

Ibu membutuhkan masa pemulihan setelah melahirkan. Fisik, hormon dan mentalnya mengalami perubahan drastis. Berikut perubahan pasca persalinan di tubuh ibu yang penting diketahui, agar bisa dihadapi dan ditangani dengan baik.

Hormon
Ibu akan merasa bukan dirinya yang sebelumnya, dan hal ini terjadi karena perubahan hormon secara drastis. Tepat setelah melahirkan, kadar estrogen dan progesteron turun drastis, yang dapat berkontribusi pada " baby blues" (perubahan suasana hati, kecemasan, kesedihan atau lekas marah, yang hilang dalam waktu satu minggu atau lebih setelah kelahiran) atau depresi pascapartum (gejala serupa yang lebih intens, bertahan lebih lama dan mengganggu kehidupan sehari-hari).

" Beberapa hormon naik dari yang tertinggi ke yang paling rendah, tepat sebelum melahirkan hingga setelahnya," kata Ann Dunnewold, psikolog yang juga penulis buku The Real Mom's Postpartum Survival Guide.

Sementara itu, oksitosin atau hormon cinta akan membanjiri tubuh. Ini mengubah perilaku menjadi keibuan. Saat oksitosin meningkat, kecemasan juga bisa meningkat. 
" Hormon-hormon ini mempengaruhi satu sama lain dalam tarian yang kompleks dan memengaruhi energi dan suasana hati," ujar Dunnewold.

Hormon tiroid, yang membantu mengatur suhu tubuh, metabolisme, dan fungsi organ, juga dapat dipengaruhi oleh proses melahirkan. Menurut American Thyroid Association, lima hingga 10 persen wanita menderita tiroiditis pascapartum, yaitu pembengkakan kelenjar tiroid, dan penyebab pastinya tidak diketahui.

 

6 dari 6 halaman

Penurunan level vitamin dan mineral

Merasa gemetar dan kelelahan cukup umum terjadi dalam beberapa minggu pertama setelah melahirkan. Gejalala ini juga dapat dikaitkan dengan kadar zat besi yang rendah. 

“ Ibu berisiko lebih tinggi mengalami kekurangan zat besi setelah melahirkan, karena kehilangan darah selama persalinan,” kata Sarah O’Hara, seorang pakar gizi.

Tetap minum multivitamin kaya sat besi setelah melahirkan dan menyusui. Perbanyak makanan kaya zat besi, seperti daging merah, produk biji-bijian yang diperkaya, kacang-kacangan, lentil, dan sayuran hijau. Ibu merasa lebih baik dalam beberapa minggu setelah meningkatkan asupan zat besi.

Uterus, vagina dan vulva

Rahim mengalami banyak perubahan saat hamil, melahirkan dan setelahnya. Pemulihan persalinan pervaginam (normal) dan operasi caesar memang berbeda, tapi memiliki persamaan.

Ibu tetap akan mengalami nyeri, yang terasa seperti kram menstruasi, dimulai segera melahirkan dan berlangsung selama dua atau tiga hari. Kontraksi pun akan terus berlanjut terus selama beberapa minggu ke depan. Ini membantu rahim menyusut ke kondisi sebelum melahirkan. Selama sekitar enam minggu, rahim akan berkontraksi ke ukuran aslinya, akhirnya turun ke belakang tulang kemaluan.

Ibu juga akan mengalami keluarnya cairan berdarah, yang disebut lokia, hingga enam minggu setelah melahirkan. Darah dan lendir itu, yang warnanya menjadi lebih terang dan mengalir seiring waktu, berasal dari area tempat plasenta menempel pada otot rahim.

Sumber: Todays Parent

Join Dream.co.id