Mengenal Damar, Putra Dono Calon Doktor Nuklir Kampus Einstein

Orbit | Senin, 28 Desember 2015 15:43
Mengenal Damar, Putra Dono Calon Doktor Nuklir Kampus Einstein

Reporter : Eko Huda S

Damar lulus master Teknik Nuklir dari EPFL dan ETHZ, kampus tempat Albert Einstein menimba ilmu.

Dream - Damar Canggih Wicaksono. Dialah putra komedian Dono " Warkop" yang tengah menempuh pendidikan Doktor di Swiss. Pemuda itu mendalami Teknik Nuklir.

Ibarat buah jatuh tak jauh dari pohon. Demikianlah Damar. Dia tumbuh sebagai pemuda cerdas sebagaimana sang ayah. Jika Dono dikenal cerdas di bidang sosial, maka Damar mahir di bidang teknik.

Semasa hidup, Dono memang dikenal sosok yang cerdas dalam setiap lawakan. Menyampaikan kritik sosial melalui lelucon. Selain komedian, Dono juga seorang dosen Sosiologi di Universitas Indonesia.

Sementara, Damar adalah sarjana Teknik Nuklir. Dia lulusan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Masuk pada 2004, lulus lima tahun kemudian.

Pada 2010, anak ke dua dari tiga bersaudara ini hijrah ke Swiss. Dia meneruskan kuliah, mengambil program master di bidang Teknik Nuklir. Jurusan yang sudah lama dia geluti.

Di Swiss, Damar belajar di Institut Teknologi Federal di Zurich (ETHZ) dan Institut Teknologi Federal di Lausanne (EPFL). Kedua kampus ini membentuk domain Institut Teknologi Konfederasi Swiss (ETH).

Kampus ini sangat kondang di dunia. Dari kedua universitas itu lahir orang-orang besar. Peraih nobel dunia. Sebut saja Albert Einstein. Manusia jenius ini merupakan lulusan sekaligus profesor di ETHZ.

Dan pada 2012 silam, Damar merengkuh gelar master di bidang Teknik Nuklir dari kedua kamps itu, ETHZ dan EPFL. Kini, Damar melanjutkan pendidikan. Dia menempuh program Doktoral di EPFL.

Tentu ini merupakan sebuah pencapaian luar biasa. Yang sudah barang tentu tak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Selamat berjuang, semoga ilmu Anda bermanfaat untuk masyarakat! (Ism, Dari berbagai sumber)

2 dari 5 halaman

Firman, Pemuda Indonesia Calon Doktor Oxford

Dream - Penasaran. Inilah yang membuat Muhammad Firmansyah Kasim mengejar gelar doktor di bidang fisika hingga ke Universitas Oxford, Inggris. Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini merasa ilmu yang diperoleh masih belum banyak.

“ Saya mengejar gelar doktor ini karena masih penasaran dengan ilmu fisika,” kata Firman sebagaimana dikutip Dream dari BBC, Selasa 24 Februari 2015.

Usianya masih sangat muda. Baru 24 tahun. Namun dia sudah kenyang pengalaman. Lihat saja, dia menjadi satu dari tiga mahasiswa Indonesia yang berkesempatan magang di organisasi penelitian nuklir Eropa, CERN, di Jenewa, Swiss, pada pertengahan tahun 2013.

Pada saat magang itulah putra Makassar ini mendaftar ke Universitas Oxford. “ Diwawancara pagi, siang diterima,” kata Firman yang melakukan penelitian laser plasma dan melakukan eksperimen untuk fisika partikel di Wolfson College, Universitas Oxford, ini.

Selain di CERN, Firman juga diterima magang di Universitas Teknologi Malaysia (UTM). “ Magang di UTM dan di CERN itulah yang mungkin membantu saya diterima di Oxford,” tambah dia.

Firman mengaku tak akan buru-buru balik ke Indonesia. Dia masih merasa perlu menimba ilmu di luar negeri sebelum mengabdikan diri di Indonesia. “ Kemungkinan besar saya masih akan cari pengalaman dulu di luar negeri beberapa tahun soalnya ilmu yang saya pelajari masih belum seberapa.”

“ Inti dari yang saya rasakan dari pengalaman-pengalaman saya adalah tetap berusaha dan berpikir positif,” tutur Firman. 

3 dari 5 halaman

Heboh Bocah Jenius Australia Keturunan Indonesia

Dream - Jonah Soewandito, bocah 11 tahun kini menjadi perbincangan publik negeri Kanguru, Australia. Dia merupakan bocah jenius dengan umur yang terbilang masih belia.

Jonah sudah mengikuti ujian akhir SMA di usia 11 tahun. Hebatnya lagi, bocah yang tinggal di Sydney itu mendapat nilai di atas 90 untuk mata pelajaran Matematika dan Kimia.

Hasil ujian akhir SMA di negara bagian New South Wales yang biasa dikenal dengan nama HSC (High Schol Certificate) diumumkan minggu lalu. Berkat pencapaian itu Jonah masuk dalam daftar murid dengan prestasi tertinggi.

Secara umum, mereka yang mendapat angka di atas 90 dalam mata pelajaran yang diujikan di ujian akhir SMA, dimasukkan ke dalam golongan yang berprestasi.

Dalam laporan Sydney Morning Herald, Jonah adalah murid termuda yang ikut ujian SMA tahun ini. Dia juga menjadi salah satu murid termuda yang pernah mengikuti HSC di New South Wales.

Untuk murid seusia Jonah, 11 tahun, kebanyakan teman-temannya baru duduk di Tahun ke-6, namun Jonah sudah mengikuti pelajaran untuk murid tahun ke-12.

Dari namanya, Jonah Soewandito kemungkinan berasal dari Indonesia atau memiliki orangtua berdarah Indonesia.

Namun, pihak Sekolah Swasta Scots College enggan mengungkap identitas pelajarnya tersebut. " Yang kami tahu dia lahir di Australia," kata salah seorang guru seperti dilansir Sydney Morning Herald, akhir pekan lalu.

Menurut si guru, sejak Jonah menjadi pemberitaan di Sydney menjelang ujian beberapa bulan lalu, orangtuanya masih belum mau memberikan wawancara kepada media.

Sejak kecil bakatnya Jonah memang telah terlihat. Usia 3 tahun, ia sanggup membaca dan menulis huruf latin. Tak perlu TK, dia langsung dapat mengikuti intisari pelajaran level SD hanya dalam waktu dua tahun.

Banyak guru di tempat Jonas sekolah mengaku, baru kali ini menemui murid sejenius Jonah.

Selepas lulus SMA, Jonah ingin segera lanjut kuliah bidang kedokteran. Sekolahnya telah menghubungi Universitas Sydney membicarakan kemungkinan bocah semuda itu lanjut studi strata satu.

" Saya ingin menemukan obat kanker, karena itu salah satu penyakit paling mematikan di dunia," kata Jonah. (Ism)

4 dari 5 halaman

Rahasia `Kulkas Ajaib` Siswi Palembang Penakluk Amerika

Dream - Ide brilian siswi SMA Negeri 2 Sekayu, Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, Palembang, Sumatera Selatan membuat takjub banyak orang. Termasuk dunia internasional.

Keduanya berhasil mengharumkan nama bangsa di pentas dunia, setelah karya ilmiah mereka kulkas tanpa listrik atau Green Refrigerant Box, merebut perhatian para juri Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) 2014 di Los Angeles, Amerika Serikat, dan menang dalam lomba tersebut.

Mereka adalah Muhtaza Azziya Safiq (Moza) dan Anjani Rahma Putri (Jani). Ide karya ilmiah ini didapat Moza dan Jani dari hasil kunjungan ke petani-petani buah dan pasar-pasar di daerah asalnya.

Moza menuturkan potensi buah-buahan di daerahnya cukup besar tetapi para petani menjual buah-buahan yang busuk di pasar, lantaran karena kendala jarak yang jauh, sarana transportasi minim dan tidak adanya pasokan listrik.

Dari situlah muncul sebuah ide membuat kulkas tanpa listrik untuk membantu mereka, kata siswi kelas XII SMA Negeri 2 Sekayu Sumsel itu.

" Kebanyakan bahan yang kami gunakan untuk kulkas ini adalah barang-barang dari limbah. Pompanya hanya botol bekas, ini kami modifikasi sendiri."

Cara kerja kulkas ini menggunakan kayu gelam yang merupakan solusi alternatif pendingin untuk buah dan sayuran.

Green Refrigerant Box dapat bekerja selama 2 jam 20 menit dan mampu meningkatkan suhu semula 28 derajat celcius menjadi 5,5 derajat celcius. Karya inovatif ini merupakan satu dari 435 karya yang diujikan oleh Intel Foundation. 

Keduanya pun berencana membuat alat yang sama khusus ikan. " Sekarang ini masih terbatas untuk buah dan sayuran, tapi kami akan kembangkan lagi untuk vaksin dan ikan. Tapi suhunyanggak bisa 5,5, harus nol," ujarnya.

Atas prestasi keduanya pemeritah melelui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan beasiswa unggulan penuh untuk menempuh jalur pendidikan kampus di luar negeri.

Kebutuhan keduanya selama kuliah akan ditanggung Kemendikbud di Universitas yang menjadi tujuan pelajar itu. 

Saat ini keduanya tengah mendaftar di Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Boston, Amerika Serikat. Jika keduanya diterima maka Kemendikbud akan mendukung penuh biaya pendidikan pelajar tersebut.

" Saya ikut mengapresiasi hal ini dan mudah-mudahan kita dapat mendukung terus melalui program beasiswa, riset, dan lain-lain," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan dikutip Dream.co.id dari laman Kemdiknas.go.id, Senin kemarin.

Anies mengatakan filosofi yang dilakukan oleh anak-anak ini sudah benar. Mereka melihat masalah lalu menggunakan ilmu yang dimilikinya untuk menyelesaikan masalah," katanya

Ia tak lupa berpesan supaya keduanya terus menuntut ilmu dan sepulangnya ke Tanah Air ilmu yang didapat diabdikan. Anies juga menjanjikan karya ilmiah dua siswi tersebut akan dipatenkan. (Ism)

5 dari 5 halaman

Remaja Ajaib Ini Jadi Rebutan Google dan Facebook

Dream - Ben Pasternak bukanlah remaja Australia biasa. Pada usia 15 tahun, ia telah menciptakan sebuah game iPhone yang menaikkan statistik App Store ke tingkat yang lebih tinggi.

Dalam waktu hanya 6 minggu setelah diluncurkan pada Oktober 2014, game ciptaan Pasternak,Impossible Rush telah di-download 500 ribu kali.

Akibatnya, statistik App Store mampu melampaui Vine, Google dan Twitter seiring makin membengkaknya jumlah download game yang membuat ketagihan itu.

Pasternak, remaja dari Eastern Suburbs Sydney, menciptakan Impossible Rush bersama temannya sesama remaja dari Chicago, Austin Valleskey, di saat ia bosan dengan pelajaran sekolah.

Sekarang, remaja ajaib ini sedang berada di Amerika Serikat untuk memenuhi undangan para raksasa teknologi seperti Google, Facebook dan Yahoo. Pasternak pun berharap bisa magang di salah satunya.

Departemen Magang Facebook telah mengundang Pasternak untuk melihat-lihat markas perusahaan tersebut di California. Tak cuma Facebook, perusahaan mesin pencari, Google, pun terpincut.

Wakil Presiden Pencarian Google, Yossi Matais juga mengundang langsung Pasternak berkunjung ke kampus perusahaan yang berbasis di Menlo Park, California itu.

Di markas perusahaan teknologi dunia, Silicon Valley, Pasternak diminta hadir dalam sebuah even kompetisi aplikasi remaja, Hack Generation Y. Ajang itu merupakan kompetisi menciptakan game dalam waktu 36 jam.

Pasternak adalah di antara 20 anak muda yang mendapat undangan khusus di luar AS. Undangan lainnya termasuk seorang CEO asal Lebanon berusia 17 tahun dan CEO muda, juga berusia 17 tahun, dari Israel.

Ketua penyelenggara hackathon yang juga putra Yossi, Michael Matais, mengatakan Pasternak terlihat lebih menonjol dari yang lainnya selama proses pendaftaran. Terutama dengan karya yang sudah diselesaikannya berupa aplikasi agregator media sosial bernama One.

" Pasternak adalah seorang wirausahawan muda dan benar-benar ambisius. Ia telah menunjukkan kepada dunia bahwa usia hanyalah angka," komentar Michael.

Karyanya berupa aplikasi One dan aplikasi iPhone sebelumnya sangat mengesankan. " Dan kami tidak akan pernah membayangkan semuanya dibuat oleh remaja berusia 15 tahun," imbuhnya.

Menyadari jadi incaran perusahaan teknologi dunia, Pasternak tetap tak sombong.

" Motivasi terbesar saya adalah bisa melihat kehidupan orang lain sedikit lebih mudah dan menyenangkan dengan aplikasi yang saya buat. Tidak ada perasaan yang membahagiakan selain melihat orang mengambil manfaat dari kreasi Anda," kata Pasternak kepada situsMashable.

Representasi Feminisme Versi Barli Asmara
Join Dream.co.id