Masya Allah, Jenazah Guru Tetap Utuh Meski Terkubur 35 Tahun

Orbit | Minggu, 31 Juli 2016 18:02
Masya Allah, Jenazah Guru Tetap Utuh Meski Terkubur 35 Tahun

Reporter : Ahmad Baiquni

Syamsudin telah meninggal 35 tahun silam. Tetapi jenazahnya tetap utuh meskipun telah dikubur puluhan tahun.

Dream - Jenazah utuh meski telah terkubur selama puluhan tahun mungkin merupakan keajaiban. Kasus semacam ini tentu sangat jarang terjadi dan sulit ditemukan. Nyatanya, kasus ini benar-benar terjadi.

Syamsudin telah meninggal 35 tahun silam. Tetapi jenazahnya tetap utuh meskipun telah dikubur puluhan tahun.

Hal itu diketahui ketika ada penggalian kuburan baru di samping Syamsudin. Sang penggali kubur bernama Siwul mendapati kain kafan Syamsudin masih utuh dan bersih, begitu juga dengan jasadnya.

Selama hidupnya, Syamsudin dikenal sebagai guru ngaji di Desa Jebres, Solo, Jawa Tengah. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani sekaligus guru ngaji tersebut dikenal khusyuk dalam beribadah.

 

2 dari 3 halaman

Cuma Guru Berupah Pas-pasan

Kendati hanya berprofesi guru ngaji dengan upah tidak seberapa, Syamsudin sangat tabah menjalani hidupnya. Bahkan ketiga anaknya ia beri nafkah seadanya. Di samping itu, Syamsudin pun dikenal sangat santun dan ramah kepada setiap orang.

Apa yang dilakukan Syamsudin sebagai tindak lanjut dari ajaran agama, seorang yang dicintai Allah bukan orang kaya, melainkan orang ikhlas dan taat ibadah. Karena itulah, Syamsudin memilih mengabdikan dirinya sebagai guru ngaji di kampungnya.

Kepribadian almarhum yang baik itu semakin dikagumi ketika jenazahnya ditemukan masih utuh. 

3 dari 3 halaman

Sudah Terkubur 35 Tahun

Kisah itu terungkap dari pengakuan Margiono, alias Siwuk, saksi mata yang menemukan kafan Syamsudin.

Margiono mengisahkan jenazah Syamsudin diperkirakan sudah dikubur sekitar 35 tahun. Hal itu bisa dilihat dari kematiannya yang diperkirakan pada tahun 1970-an.

Pada masa itu pemerintah Indonesia termasuk ketegori masa pertanian, bahkan banyak penduduk kota masih mayoritas petani. Namun, Syamsudin kala itu sudah menjadi guru ngaji, meskipun tidak berbekal pendidikan pesantren.

" Pak Syamsudin dulu guru ngaji. Santri dari kalangan masyarakat miskin dan bawah yang ingin belajar Alquran. Tempat pengajiannya di rumah, kadangkala di musala. Dia perintis guru ngaji di masa itu," ucap Siwuk. (Sah)

Selengkapnya, baca pada tautan ini.

Kirimkan tulisan atau kisah yang kamu temui, ke komunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog atau sosmed
3. Foto dengan ukuran high-res
4. Isi di luar tanggung jawab redaksi

 

Terkait
Join Dream.co.id